Jilbab Palupi

Aku sebenarnya adalah lelaki yang beristri dan memilki 2 orang putri cantik2…….umurku masih 35 tahun. Kerjaku adala konsultan, sehari2 aku selalu ada di rumah. Istriku berasal dari luar kota 3 bulan sekali dia mengujungi orangtuanya. Kami adalah pasangan muda yang tinggal dikomplek yang rata2 penghuninya sudah tua, beberapa di antara mereka ada yang sudah memilki cucu. Istriku usia berpaut 10 th dariku. Itu sebabnya di lingkungan komplek sebagian besar temannya adalah anak2 tetanggaku.

Salah satu yang menarik perhatianku adalah yang bernama Palupi. Dia sebaya dengan istriku, orangnya memakai jilbab karena ayahnya adalah ustad yang ada di komplekku. Tinggi badannya 170 cm sama tinggi denganku. Kulitnya yang putih dengan bibirnya yang merah mirip Anggelina Yolie, pasti membuat setiap laki2 yang bertemu tidak segan menatap lekat wajahnya yang kalau tersenyum membuat lesung pipinya. Bodynya benar2 bongsor dengan kombinasi paha dan bokong yang sempurna di balik jubahnya. Kuliah di PTN terkenal di kotaku membuat tiap hari berkendaraan melewati rumahku, tiap lewat dia selalu tersenyum dan menyapa istriku. Tiap ada kesempatan dia selalu mengasuh keponakannya di sekitar komplek.
Keponakannya sebaya dengan anakku yang pertama yang berusia 4 tahun,pada suatu ketika waktu bermain bersama anakku, Palupi mengantar anakku pulang. Kebetulan rumah lagi sepi karena istriku lagi ada keperluan dan dia membawa anakku yang no 2. Sebagai tuan rumah aku berinisiatif membuatkan minuman, waktu aku mengantarkan minuman dengan tersenyum Palupi menerima gelas yang kusodorkan sambil berucap, ” Eeh, terimakasih mas jay. kok repot2, mbak wati ke mana, mas?” Secara tidak sengaja tangan yang halus itu menyentuh lembut penggung tanganku. “Ooh, mbak wati sedang ada keperluan dik Upik” ,begitu aku biasa memanggilnya. Tiba2 ponakannya berlari menubruk gelas yang ada ditangannya, hingga menumpahkan minuman ke jilbabnya. Sebagian jilbabnya basah hingga menembus bajunya. Lalu tangan nya mengibas2kan jilbabnya, aku membantu dia dengan mengambil tisu, “Terimakasih mas… wah jadi basah jilbabku ini, mas. Aku jadi takut pulang ini khan jilbab kesayangan mamaku….”. Mamanya Palupi juga wanita berjilbab. “Mas jay punya setrika?” sambil menatap aku, dia masih mengibas2kan jilbabnya. “Ada di belakang, kalau mau pake aja dik”, lalu Palupi bergegas ke belakang sambil berpesan, “Mas Jay tolong jaga anak2, ya?”. Aku berjaga di depan menunggui anakku dan ponakan si Palupi. Tidak lama aku ingin ke kamar mandi. Waktu melewati kamar tempatnya palupi menyetrika baju, aku sengaja melambankan langkah agar dia tidak terganngu. Waktu aku melihat ke arah pintu, ah, aku terkejut ternyata palupi membuka jilbabnya dan baju jubahnya dan hanya memakai dalaman saja. Sontak jantungku berdebar menyaksikan pemandangan yang menakjubkan. Tampak kecantikannya dengan rambut hitam panjang dengan potongan shagy sepunggung, tampak kontras dengan punggung yang putih. Urat2 dadanya yang tampak kehijaun berjenjang sampai lehernya. Kuamati pula perutnya yang rata, dengan memakai bra hitam serta celdam hitam seolah membalut permukaan pualam. Tampak bukit kemaluannya menyembul melebihi perut. Sungguh adalah karunia bila kita mendapatkan bukit yang seperti itu. Aku merasa ada yang bangkit menekan celanaku dan aku segera bergegas mangambil BB ku untuk mengabadikan pemandangan indah itu. Setelah puas dengan beberapa jepretan aku segera mundur. Lalu aku dari ruang tengah sengaja berdehem, lalu dengan cepat pintu ruangan setrika ditutup. Aku pun pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi kemaluanku masih mengeras, untuk menyalurkan hasrat yang tertunda aku bermasturbasi dengan melihat ke dalam bb ku foto2 Palupi. Tak lama aku keluar dari kamar mandi, kulihat pintu ruang setrika sudah terbuka, ketika kulihat Palupi masih menytrika jilbabnya tapi dia sudah mengenakan jubahnya. Kuamati lekuk tubuhnya, bahkan jilbabnya yang longgar tidak mampu menyembunyikan lekuk payudara dan bukit kemaluanya membuatku menelan ludah. “Eh mas jay, sory mas aku lama nyetrikanya. sekalian jubahku ini kukeringkan”. “Aah ngak pa-pa dik”. Aku melihat resleting jubahnya kurang naik, sehingga sebagian punggunya terbuka. “Kamu udah punya pacar, dik?”, ” Baru jomblo mas”, “Lha, kenapa? kok ngak rugi pacarmu kehilangan orang secantik kamu?” Aku mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Palupi.” Iih, mas jay..cantik mbak Wati lagi”. Istriku emang cantik bahkan kalau dibilang sama Palupi malah mirip kakak-adik. Cuma istriku tingginya 160. “Aah sama2 cantiknya…itu resliting kamu kurang naik tuh”.

Palupi buru2 memindahkan rambut yang tergerai panjang ke belakang tengkuknya. “Aduh jadi ngak enak sama mas jay ini” “Mana tak bantuin, dik!!” Aku menawarkan diri. Ketika aku melangkah maju dia malah melangkah mundur. “Eeeeng…ngak usah mas”. “Udah sini cepetan “. Aku langsung berdiri di belakangnya. Mungkin karena tidak ada ruang lagi akhirnya Palupi pasrah aku menaikkan resletingnya. Tercium bau wangi shampo dr rambutnya. “Aaduh dek, rambut kamu wangi,ya” sambil tanganku meraih rambutnya kemudian kucium rambut panjangnya.” Mas jay jangan, aku geli, mas” , “Emang pacarmu ngak pernah cium rambut kamu dik”,” Ngak pernah mas, meluk juga ngak pernah” ,”Aah masak?” aku lalu memeluk perut dia dari belakang. Tampak dari cermin wajahnya terkejut dan memerah. Waktu kunaikan pelukanku di dadanya, tangannya disilangkan ke depan dadanya.” Mas jay, apaan sih aku malu, mas” sambil dia berputar ke arah depanku. Kulihat wajah yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat kupererat pelukanku hingga wajah kami mendekat, tidak lama bibirnya segera kulumat. Pertama lidahnya begitu pasif, tangannya sudah memeluk badanku. Kurasakan badannya gemetar menyambut ciumanku, detak jantung kami seolah seirama. Saat bibirnya terbuka aku memasukkan lidahku. Ragu2 Palupi menyambut lidahku. Libido Palupi terpacu dan gairah seksnya meninggi. Berlahan tanganku menyusuri punggungnya dan menarik resliting ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Kuraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Berlahan kaitan bra itu ku buka juga. Kurasakan semakin aku meraba, nafasnya menjadi berat dan pendek2. “Mas jangan, mas…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tanganku mulai menjamah ujung cd yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tanganku yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…mas jay”. Tanganku meremas lembut gundukan pantat kirinya, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tanganku. Kukunya mencengkram erat punggungku. Ciumanku pindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Palupi.

Jilatan pada leher putih tampak mengkilap ditimpa lampu,berlahan kucupang leher putih itu, “ Eerrrrhh…mas” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuhku, saat tanganku menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tanganku telah melorotkan cd nya. Tangan kananku membelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh…..mas, aku geli” tiap kali aku menyentuh anusnya. Ciumanku telah meninggalkan cupang merah di lehernya, tanganku meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke dadanya yang dipenuhi urat2 hijau, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibirku ikut turun kedadanya, bra yang telah kulepas melonggar dan memberikan kesempatan untuk mengecup payudaranya. Sementara tanganku telah berpindah menyusuri ketiaknya.

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki2 belum tumbuh, tanganku menyusuri memutar kedua payudara, kecupanku menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuhnya kian menyusup menahan kenikmatan,” Mas, mas, aku geli mas” kedua tangannya merangkul dan menekan kepalaku ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Kutempelkan telingaku ke dadanya, detak jantung semakin kencang. Tiba2 aku membalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tangganku telah memegang payudaranya, kedua putingnya kutaruh di antara jari2ku, kemudian secara cepat kulucuti jubah yang separuh menutupi tubuhnya berikut cd dan branya. Kubuka cepat kaos dan celanaku. Kududukan Palupi ke pangkuanku, tangan kanannya kuarahkan ke penisku. Dia terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi aku buru2 merapatkan badanku, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu kutarik puting dadanya dengan tangan kiriku. “Och.., mas” lirihnya. Dengan jariku kuplintir puting yang baru tumbuh itu. Tubuhnya mengejan, punggungnya menempel ke dadaku dan tangan kanannya meremas penisku lembut. ”Enak dik?”, “Aah…mas” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibirku tak henti2 mengecup tengkuknya dan tanganku aktif menarik kedua puting hingga badannya bergemetaran. Kupangku Palupi di atas pahaku, kubuka ke dua pahanya hinnga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya kuarahkah ke belakang kucium bibirnya dengan lidah kami membelit, kemudian tanganku turun membelai helaian jembutnya. Kulihat di cermin bayangan kami, tangan kiriku yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis. Mengingat Palupi adalah anak ustad yang alim, sehari2 memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk2 yang tertutup itu bisa kulihat dan kunikmati. Putingnya telah memerah karena kutarik dan kupilin, keringat deras mengalir di dada dan punggungnya, tangannya tetap meremas2 penisku dengan lembut. Ketika tangan kananku mulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Kucari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika kudapat lalu kutekan berlahan “Uuhhhhh….mas,kau apakan tubuhku mas?”, ”Rilex dek, enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….” Palupi hanya merancau sambil meremas penisku. Kuludahi tanganku kemudian ku usapkan ke klitorisnya. ”Sssssssttttts, ah” ketika tanganku yang basah oleh ludahku menyapu klitorisnya. Berlahan tangan kiriku turun menelusuri labia mayora. Kutarik salah satu labia mayora, kugosok dengan jempol dan jari telunjukku. ”Mas….geli”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua pahaku.

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan ku dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Mas…pingin pipis”. “Pipis aja dek. Ngak usah ditahan”, kupercepat putaran tanganku diklitorisnya. ”Aah…ah….ah…..mas aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas pahaku. Kurasakan klitorisnya berkedut2 dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi pahaku. Kulihat dari cermin di mana dadanya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah aku menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, kuturunkan berlahan dari pahaku dan kutidurkan di dipan ruang setrika. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Rambutnya terurai acak2an, kusingkap poninya dan kukecup lembut dahinya. Kuturunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus kukulum bibirnya, lidah kami kembali saling membelit. Ketika kuangkat kepalaku, kepalanya juga terangkat seolah tidak mau melepas bibirku. Kuambil posisi di samping kanan Palupi, tangan kiriku merangkul pundaknya melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Berlahan bibirku turun ke lehernya dan tangan kananku mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidahku berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Palupi. Dadanya terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidahku menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepalaku. “Dik boleh aku mencium putingmu?” wajahnya memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Kusergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah kuhisap lembut dan kujilat dalam mulutku melingkar2. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggungku dan tangan kirinya menekan kepalaku. Kurasakan keringat asin dari putingnya dan kurasakan getaran tubuhnya yang menandakan aku adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiriku aktif memilin puting yang lain, tangan kananku menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki2. Kemudian bibirku beralih ke puting kanan meninggakkan bekas gigitan disekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Palupi di saat putingnya tenggelam di bibirku. Kugigit lembut kutarik ke atas, palupi meremas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkukku. Sementara tangan kananku menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari vaginanya, ku usap vaginanya dan kugunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Matanya kembali mendongak bergetar hanya kulihat putih di kelopak matanya. Kugigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tanganku melesat mengangkat pantatnya, kulihat warna pink di sekitar kemaluanku hingga membangkitkan gairahku. ”Mas jangan…”, saat dia melihat kepalaku berada di antara dua pahanya, dengan lembut kujilat klitorisnya, ”Aah….mas, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalannya kembali terdongak. Kumasukkan ujung klitorisnya ke bibirku sampai semua masuk ke bibirku, ku gigit kecil2. “Aah…aah…aduh….mas aku ngilu” terus kujilati lubang pipisnya kulakukan gerakan vertikal, kujilat klitorisnya kubasahi dengan ludahku, kubuka klitorisnya dengan jariku, tampak benda sebesar biji kacang tanah terlihat mengkilat karena ludahku. Kujilat turun melalui labia mayora turun ke lubang vagina berputar dan sedikit menjilati anusnya. Kedua pahanya menjepit erat kepalaku.” Mas….Upik mau pipis lagi mas” kepalaku tersanggkut.

Di pahaku air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidahku. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Wajahku belepotan, segera kuambil lap. Ku amati sprei kami sudah berantakan, tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Palupi. Kuamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar2 menggetarkan, lalu kubuka pahanya dan kutindih tubuhnya. Tiba2 Palupi membuka matanya, “Mas jangan, aku masih perawan. Kasihani aku mas”, setitik air mata keluar dari ujung matanya. Aku pun kembali beringsut ke sisinya. ”Te..terimakasih mas, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik. Maafkan aku khilaf”. Lalu dia bangkit duduk di dipan, matanya melihat burungku yang mengacung keras. ”Iih….mas masih terangsang?”, “Iiya dik khan blom nyampe tadi”. Tiba2 tangannya meraih penisku. “Ini toh mas yang namanya kontol? Ih ngeri mas”. “Ngeri kalau diliat, klu dirasain entar juga enak”. “Aah aku ngak mau, mas. Aku khan masih perawan”. ” Eeh sapa suruh masukin memek, masukin kelainnya juga boleh.” rayuanku mulai mengenai, Palupi mulai meremas2 penisku. ” Maksudnya mas?”, “ Masukkin
mulut dong…”, “ Ngak ah, jijik……”,” bentar aja…..ya udah klu nggak mau kamu cium bentar aja. Tadi aja aku udah jilatin memekmu”

Dengan ragu Palupi mendekatkan penisku ke bibirnya. Awalnya hanya satu kecupan kemudian disusul dengan kecupan2 yang lain. Kemudian berlahan penisku dijilat2, kemudian Palupi membuka mulutnya dan memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya. Rasa ngilu langsung menyergapku. ”Aduh Pik, jangan pake gigi……”, berlahan2 penisku ditelan bibirnya yang seksi itu, rasa hangat dan nikmat kudapatkan. “ Sebentar pik, km berhenti dulu”, aku melompat meraih jilbab yang sudah distrika palupi. “ Buat apa, mas?”, ”Udah kamu pake aja biar seksi aja” Dengan cepat palupi mengenakan jilbabnya. Sekarang tampak pemandangan gadis berjilbab lagi menghisap kontolku, aku semakin terangsang. Selama 15 menit Palupi memainkan kontolku di dalam mulutnya. ”Aduh mas…aku pegal”. ”Oke mending kamu di sini berbaring aja”.
Palupi beringsut mengambil posisi tidur di sebelahku. Dia menggaruki selangkangnya ”Kenapa pik?”, ” Gatal mas ”O ohhh…itu normal tadi khan darahnya ngumpul diujung”, sambil tanganku membelai klitorisnya yang ternyata masih memerah dan keras “ssshhhh…mas” sambil dia merapikan jilbabnya. Jilbab yang dikenakan adalah semacam kerudung yang dikaitkan dengan peniti jadi ada belahan di tengah. Kembali tanganku menyusup ke dalam jilbabnya dan mengelus2 payudaranya. Matanya kembali sayu karena tubuhnya kembali dikuasai rangsangan.

” Pik, kamu percaya khan mas ngak bakal bobol perawanmu”, “Upik percaya, mas. Trus hrs gmn?”. ”Aku pingin ngesekkin kontoku ke pahamu boleh, khan?”. ”Cuma paha? Boleh mas tapi janji ya?” Lalu aku menindih Palupi. ”Oke sekarang pahamu rapatkan”. Palupi merapatkan pahanya. Lalu kuludahi kontolku. ” Pik, buka dikit pahanya trus rapetin lg, ya”. Palupi mengangguk dan membuka pahanya, kutempatkan kontolku di antara pahanya, kemudian dirapatkan lagi. ” Udah pik? Ngak kena lubang khan?”, ” Iiya mas” Kutempatkan tanganku di atas dadanya yang masih tertutup jilbab. ”EEehhhhhh….mas geli banget udah hampir ke lubang”. Kuatur kedua tanganku di belakang punggungnya. ”Segini?”, ”Iya mas”. Pelan-pelan aku mulai menaik turunkan kontolku, secara berlahan gerakan kontolku mendekati lubang Palupi.”Enak,pik?” Kutatap wajahnya yang dibalut oleh jilbab, wajahnya bersemu merah, ia membuang muka, ku cium bibirnya yang merah kesedot bibir bawahnya dan kujilati bibir atasnya. Palupi menutup matanya seolah merasakan desakan birahi, gerakan benar2 sudah tepat di lobangnya, hal itu ditandai bunyi kecipak. ”Mas?”, ”Hmmmmm?”, ”Aku mencintaimu….aku mengagumimu”. Semakin kupercepat semakin mengelinjang, semakin tersingkap jilbab yang menutupi payudaranya, kugigit pelan putingnya, berlahan pahanya melebar ke kiri ke kanan. Kontolku telah menggesek vaginanya yang telah basah.

Memandang Palupi yang sudah terserang birahi membuat dadaku seolah meledak, kutaruh tanganku di atas payudaranya sementara tangan satunya membantu kontolku untuk menggosok vagina Palupi. Berlahan kontolku mendesak masuk ke vagina Palupi, berlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Mas…trus….mas…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hatiku menguasai pikiranku. Kupelankan gesekanku kucabut ujung kontolku dari vagina palupi, kuhempaskan tubuhku ke samping Palupi. Berlahan dia membuka mata. ” Kenapa mas? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”, “Tidak, maafkan aku. Aku hampir merengut kesucianmu”. ”Hah? Kenapa berhenti mas”. ” Aku juga sering mengagumi, dik”.

Tiba2 Palupi memelukku,” Kau sungguh laki2 yang menepati janji. Ijinkan aku melayanimu mas”, lalu Palupi menaiki tubuhku. ”Aku juga kan menggesek pahaku, mas”. Berlahan tapi pasti kontolku bergesekan dengan klitorisnya, kontolku ditindih dengan rapat dengan posisi horisontal. Kontolku berlahan menjadi basah oleh lendir kewanitaannya, dengan menggunakan jari kananku aku meraba klitorisnya yang menyebabkan lubang kenikmatannya mundur ke belakang sehingga tepat di atas kontolku. Rangsangan jari2ku membuat Palupi menggeleng2kan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat poninya menyembul, tanganku meraih puting susunya tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulutku dengan sekali gerakan kuraih puting kirinya dengan bibirku kugigit kecil2 dan kukulum dengan buasnya. Berlahan tanganku berpindah menarik punggungnya agar dadanya dirapatkan ke dadaku, rasa hanggat menerpa dadaku keringat kami saling menyatu.

Dengan posisi pantat Palupi menungging aku menempatkan kontolku ke posisi vertikal.” Dik upik, coba digesek kontolnya mas sampe ke anus.” Palupi mengangukan kepala, kemudian mengesek naik turun kontolku yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibirku menggigit lembut pundaknya dan tanganku mengelus pantat bulatnya, kutarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolku. Wajah horny Palupi sungguh luarbiasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jariku menusuk2 anusnya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontolku masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah kami saling bertautan, nafas kami semakin memburu. Kepala kontolku tenggelam di gerbang vagina Upik, tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batangku hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, kurasa itu adalah selaput daranya. Kulihat Upik tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. Kulihat seberkas keraguan, tapi di saat ujung topi bajaku keluar dengan cepat Upik memasukkan kembali sebatas penghalang. “ Miliki aku, mas”.

Kemudian dengan menarik nafas panjang Upik menaikan tangannya di atas dadaku, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukan seluruh batang kontolku hingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…mas, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuhku. Aku mengangkat pantatku agar kontolku tidak lepas dari vaginanya. Kami terdiam sesaat, Upik mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih mas, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan2”. Perlahan Upik mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……mas….”, kemudian tubuhnya diangkat keatas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok dek, biar mas liat”. Palupi berjongkok dengan kontolku yang masih tersarung divaginanya, kulihat darah merah mengalir di sela2 kontolku. ”Sssshhhhtttt…ah…mas, aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Kutahan pinngulnya yang ramping itu agar kontolku tidak lepas dari vaginanya. “Mas…mas.mas…ouch” kontolku keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

Rasanya kontolku dipilin2 oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Upik. Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontolku seiring dengan makin terangsangnya Palupi. Lututnya kembali diturunkan, jembut kami menyatu. Tanganku aktif meremas dan memilin putingnya. Gesekkan yang dirasakan kontolku keluar masuk vagina Upik semakin terrasa ditambah kedut2 di dalam vaginanya tiap kali Upik memasukkan kontolku, aku mengangkat pantat dan pinggulku agar penetrasi semakin dalam.

” Mas aku mau nyampe…”, “iya dek kita sama2, di dalam apa di luar?” Upik tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, aku juga merasakan ujung kenikmatanku akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek2 dan berat. ”Dik, mas mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama laharku sudah mendesak keluar. ” Dik ….. Mas nyampe…….ah….” dengan kerasnya kuangkat pantatku, laharku menyembur memenuhi lorongnya., Upik masih bergoyang di atas kontokku.

“Maas…aku juga…..” Tiga goyangan dia mengejan di atas tubuhku, kurasakan tubuhnya melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dadaku, tangannya memeluk tubuhku dan kukunya menancap di punggungku, dada kami saling menempel hingga kurasakan detak jantungnya yang cepat. Kontolku serasa diurut2 oleh vaginanya, tanganku memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telingaku. Setelah birahi melanda, keringat kami saling melekat satu sama lain. Kubiarkan Upik beristirahat di atas tubuhku, tak lama kemudian kontolku mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir kami meleleh turun mengalir di sela pahaku dan membasahi sprei.

Palupi menggeser tubuhnya di sebelahku dengan posisi miring dia memelukku. Tampak wajah cantik dan hidung yang mancung dipenuhi buliran keringat, aku mencium kening dan rambutnya. “Maafkan aku dek”, “ Kita khilaf mas, bagaimana kalau aku hamil mas?”, “ Kamu jadwal mens kapan?”, “ 3 hari yang lalu aku selesai mens, mas”, ”oh berarti ngak bakal hamil, karena blom subur”

Aku lega mendengar hal itu. 5 menit kemudian Upik bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, kuamati jalannya agak mengkangkang dengan sekali-kali tangannya mengusap selangkangannya. Aku kemudian melepas sprei yang bernoda darah dan bercampur dengan spermaku, agar istriku tidak mengetahui kejadian barusan. Setelah 10 menit Upi kembali ke kamar dengan keadaan jilbab yang terpasang rapi dengan tubuh yang masih telanjang.

”Mas kok kayaknya di selangkanganku kok masih ada yang nyangkut? Tetrus labia mayoraku kok tambah lebar?”, tanyanya lugu ke aku. “Biasa klu pertama ML, masih peret berarti” sambil tanganku mengusap klitorisnya. Plak, tangannya memukul punggungku “ Mas jangan, aku geli. Khan udahan mas. Mana bra dan cd ku mas?” Kami mencari bra dan cdnya yang aku lupa terselip di sprei yang aku bereskan tadi. Cukup lama kami mencarinya, dengan tubuh yang bugil dan hanya mengenakan jilbab saja Upik berjongkok di atas kasur melihat barangkali dalamannya jatuh ke samping tempat tidur. Pantatnya menungging ke arahku memperlihatkan belahan memeknya yang masih segar kemerahan, tak terasa kontolku mulai bangun lagi. Kucengkram pantat yang padat itu, lalu kijilat memek merahnya. “Mas apa sih? Geli mas” . Upik hanya menggoyangkan pantatnya. Di bawah sinar lampu tampak memeknya yang mengkilap kemerahan karena ludahku. Tubuhku menyusup di antara tubuhnya, aku mengambil posisi 69. “Ayo dik, kontokku jangan cm dilihat”, ” iya mas…” bibirnya dengan cepat telah mengulum kontolku, lidahku mengaduk2 vaginanya sekali2 mampir ke anusnya.

Pantatnya kian diturunkan ke wajahku, digoyangkannya naik turun. Klirorisnya kugosok dan kupiln dengan jariku sambil sekali aku sedot dan kugigit kecil. Tampak labia mayora yang semakin lebar kutarik kanan kiri, Upik semakin mengelinjang. Semakin terangsang semakin melengkung tubuhnya mulutnya tidak berhenti menyedot kontolku. “ Mas…..ah…..mas……” lepas mulutnya dari kontolku, dijilati kedua pelirku. Tubuhku beringsut mengambil posisi doggy style, kugosokkan kontolku ke klitorisnya “Aaaaaah….geli mas”, ”Eeenak, sayang?” tanganku menggosok klitorisnya yang sudah basah sambil mengarahkan kontolku ke lubang memeknya. ”Eeeemmmh….enak mas. Aku diapain mas?”

Aku jawab dengan memasukkan kontolku ke dalam memeknya, seperti pertama tadi rasanya ada sesutu yang menahan penetrasiku. Bles….aku menunduk mencium punggungnya yang sudah berkeringat, rasa asin menerpa lidahku kususuri punggung putih itu hingga leher jenjangnya. ”Aaaau….mas”. Tanganku aktif meremas2 susunya, Upik semakin beringsut mendorong pantatnya ke belakang. Kutarik kontolku dari vaginanya, plok,plok….setiap kali ujung kontolku masuk ke vaginanya seolah udara kupompa keluar dari lubang memeknya. ”Aduh mas, pelan…masih perih”tubuhnya gemetaran menahan antara sakit dan nikmat. Kubuka lebar pantatnya semakin dalam kontolku memasuki tubuhnya, akhirnya tubuhnya melengkung menyebabkan pantatnya semakin menungging.

Dadaku penuh sesak dan bergemuruh antara merasakan kenikmatan di kontolku dan melihat punggungnya yang berkeringat mengkilap diterpa cahaya, sungguh pemandangan yang eksostik. Aku terus menambah kecepatan ayunan pantatku, krn tadi aku sudah keluar kontolku menjadi perkasa untuk ronde kali ini.

“Aaaaah…uh…mas aku mau dapet, mas”, ”iya sayang…” hujaman kontolku semakin cepat pada hujaman sepuluh tubuh Upik mengejan bergetar. ”Mas…ahhc…aku dapet”, kutarik pinggulnya agar merapat ke kontolku, kedutan2 vaginanya menerpa permukaan topi bajaku. Kepalanya rubuh ke kasur, tanganku menggosok klitorisnya. Kembali lelehan lendirnya membasahi jembutku. Kubalikan tubuhnya yang putih bersih tanpa cacat, tubuh yang selalu tertutupi oleh jubah dan jilbab panjang itu kini terlentang pasrah di hadapanku. Kubuka pahanya, kugesekan kontolku ke anusnya. Palupi menggelinjang, kakinya diangkat ke atas. Kutarik pinggulnya ke arah kontolku, lubang yang telah basah itu seolah menarik penisku untuk masuk ke dalamnya. Kuangkat kakinya di atas pundakku, kuciumi dan kujilati betisnya. Payudaranya yang besar dan bulat bergoyang berputar setiap kali aku menghentakkan selangkangannya, kupilin2 klitrorisnya. Kepalanya menggeleng2, jilbab yang dikenakan mulai terbuka lagi. Kutaruh kakinya menindih kakinya yang lain, kontolku tetap tidak kulepas. Penetrasi dari samping semakin menjadikan vaginanya sempit.

”Aaaaahhhh mas, sempit mas” dari samping pula aku melihat payudaranya menjadi mngancung dan berayun-ayun. Kutarik tangannya agar penetrasiku semakin dalam. Ketiaknya yang bersih tanpa bulu kucium dan membuat Upik semakin tenggelam dalam birahinya. “Mas cium aku” bibir bawahnya memerah karena seringkali digigit tiap kali ujung kontolku mentok dirahimnya, akupun membungkukan badanku dan meraih bibirnya sementara tangan kananku menaikan tenggkuknya. Kutekan pahanya untuk membuat penetrasiku semakin dalam” Aaaah mas….mentok mas””enak?” “He…em” gumannya.

Setelah 10 menit dalam posisi yang sama kedutan dalam vaginanya kembali muncul, penisku menjadi sangat tegang, dibayangi oleh wajah berjilbab dan susu yang bergoyang menjadikan aku tidak mampu lagi menahan ejakulasiku.”Dek aku mau nyampe….”,”nyampe aja mas, aku bentar lagi”. Aku menggeram dan melepaskan tembakan ke dalam rahimnya. ”Ooooh…Pik aku nyampe” kuhujamkan dalam kontolku hingga mentok ke rahimnya.

”Mas…aku nyampe”, tubuhnya beringsut tanganya menegang hingga hampir terlepas dari cengkramanku. Ketika semprotanku selesai aku menindih tubuh Upik, keringatku sekali lagi menyatu dalam keringat Upik. Kucium bibirnya, hidungnya dan pipinya. Upik tersenyum manis hingga lesungnya terlihat. ”Aaaah mas nakal aku tadi khan udah mandi”, Ya sono mandi lagi”, ” Aaaah males mas, rasanya lemas banget aku tak tiduran di sini dulu”. ”Jangan Pik, entar istriku pulang berabe”, ” TApi lemas mas”.

Akhirnya dengan bantuanku, aku membimbingnya ke kamar mandi, sebelum masuk aku sempat memasukkan jariku ke vaginanya tapi ditepis sama tangannya. “Mas cariin jubahku sama dalemanku ya?” Aku beranjak ke kamar setrika dan menyerahkan jubah dan daleman ke Palupi.

Kulihat anakku dan ponakan Upik sudah tertidur pulas di ruang tengah. Akupun bergegas mandi di kamarku dan berganti pakaian.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jilbab Palupi

  1. PK says:

    Enak dong………kok gampang ya dapat??

  2. rheno says:

    Buat cewe, tante, janda, IRT yang kesepian, butuh
    teman curhat, sharing dll, bisa
    menghubungi 087808392013 khususnya
    yang berada di daerah Tangerang, Jakarta
    Barat. Ga usah malu2, rahasia terjamin…
    No Guys, No Cowo, No Waria…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s