Balada Rif’ah (1 )

Pagi itu wajah Rif’ah, seorang akhwat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terlihat tegang mendengar penuturan beberapa akhwat yuniornya mengenai maraknya website dan blog cabul di internet yang mengeksploitasi akhwat, terutama akhwat PKS. Sebagai akhwat yang cukup senior di kalangan PKS, Rif’ah sudah lama mendengar mengenai hal ini namun saat itu dia diberitahu bahwa semua foto dalam website tersebut merupakan foto-foto rekayasa kasar, Rif’ah tidak tertarik untuk melihatnya. Berbeda dengan berita yang disampaikan para akhwat yuniornya yang mengatakan bahwa website-website cabul itu sekarang berisi foto-foto asli dan bukan rekayasa, bahkan yang membuat Rif’ah sangat terkejut ketika mereka menyebutkan bahwa di antara foto-foto cabul akhwat dalam website itu terdapat beberapa foto cabul akhwat yang berwajah mirip dirinya. Tentu saja akhwat PKS ini menyanggah keras foto-foto cabul tersebut sebagai foto-foto dirinya, hanya saja berita tersebut membuat Rif’ah penasaran dengan website-website cabul tersebut. Terdorong ingin meng-cross check kebenaran berita tersebut, Rif’ah kemudian meminta alamat website-website cabul yang disebutkan akhwat yuniornya. 
Jam di HP milik Rif’ah menunjukkan pukul 13.00 lewat ketika akhwat PKS ini berjalan keluar dari gerbang kampusnya. Sebagaimana niatnya tadi pagi, akhwat PKS yang masih tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir di sebuah PTN di sebuah kota di Jawa ini bermaksud singgah ke sebuah warnet. Akhwat PKS berwajah ayu dan lembut ini memang bermaksud membuktikan berita yang dibawa akhwat yuniornya tadi pagi. Rif’ah sengaja memilih warnet yang mempunyai box tertutup untuk menghindari prasangka buruk orang lain terhadapnya. Sebagai seorang akhwat PKS tentunya Rif’ah berusaha menjaga citra dirinya saat dia membuka website dan blog cabul yang dikatakan akhwat yuniornya tersebut. Boleh jadi orang lain akan mencemooh jika seorang akhwat PKS seperti dirinya terlihat membuka website cabul dan porno. 
“Ada yang kosong mas?” tanya Rif’ah kepada operator warnet. 
“Mmm…Nomor 10..mbak” jawab operator warnet tersebut yang kebetulan cowok keturunan chinesse sedikit terkejut melihat akhwat PKS ini. 
Keberadaan Rif’ah di warnet tersebut memang cukup menarik perhatian. Bukan saja karena kecantikan yang dimiliki Rif’ah, namun juga karena penampilan Rif’ah dengan jilbab putih lebar dan jubah panjang warna coklat susu yang membungkus sekujur tubuhnya serta kaus kaki krem yang menutup kedua kakinya. Jarang sekali ada wanita berpakaian seperti Rif’ah masuk ke warnet seperti ini, biasanya wanita-wanita alim seperti Rif’ah lebih memilih warnet yang mempunyai box terbuka seperti warnet-warnet di kampus. Cowok chinesse, operator warnet sempat terpesona melihat kecantikan Rif’ah namun penampilan akhwat PKS yang alim ini membuatnya segan untuk berbuat lebih jauh. Walaupun ada rasa segan pada diri cowok operator warnet kepada Rif’ah, namun mata cowok itu nyaris tak berkedip melihat goyangan pantat Rif’ah ketika berjalan menuju box warnet nomor 10. Jubah panjang longgar yang dikenakan Rif’ah ternyata tak mampu secara sempurna menyembunyikan pantatnya yang besar sehingga membuat cowok chinesse itu menelan ludah membayangkan tubuh di balik jubah yang dipakai akhwat PKS ini. 
Dalam box warnet no 10 yang tertutup itu, Rif’ah mulai membuka beberapa alamat wabsite cabul yang diberikan akhwat yuniornya tadi pagi. Tak sampai lima menit kemudian, mata Rif’ah yang lebar membelalak melihat website-website cabul tersebut. Wajahnya yang putih juga berubah merah padam menahan kemarahan dan rasa jijik melihat website serta weblog yang melecehkan akhwat secara seksual terutama akhwat PKS. Beberapa cerita porno tentang akhwat serta foto-foto yang mempertontonkan kemulusan tubuh akhwat seperti dirinya membuat Rif’ah merasa terhina dan terlecehkan. Akhwat PKS ini juga merasa geram dan nyaris tidak percaya ketika kemudian dia mendapati beberapa foto cabul seorang wanita memakai jilbab putih lebar dengan wajah mirip dirinya sebagaimana laporan akhwat yuniornya. Tubuh akhwat PKS ini gemetar menahan kemarahan dan rasa tak percaya melihat pose-pose wanita berjilbab putih yang berwajah mirip dirinya. Tanpa sadar akhwat PKS-yang dalam kesehariannya bertabiat lembut ini-mengumpat karena kemarahannya melihat foto-foto tersebut. 
Melihat betapa akhwat seperti dirinya dilecehkan dalam website tersebut, Rif’ah terdorong untuk membuat laporan khusus mengenai hal ini. Rif’ah berniat mengajukan semuanya ke Bagian Kewanitaan DPP PKS di Jakarta untuk dibahas, kebetulan dia mengenal baik beberapa akhwat senior yang duduk dalam struktur kepengurusan DPP PKS Bagian Kewanitaan. Tak cukup sampai di situ, akhwat PKS ini juga berniat untuk melaporkan keberadaan website ini kepada pihak kepolisian agar pembuat situs ini ditangkap polisi. Dengan flashdisk miliknya, Rif’ah kemudian menyimpan puluhan cerita porno mengenai akhwat serta gambar-gambar cabul yang terpampang, terutama foto-foto wanita berjilbab yang mirip dengan dirinya. Satu persatu beberapa foto cabul dan cerita-cerita erotis mengenai akhwat berpindah ke flashdisknya yang berkapasitas 1 GB tersebut 
Rif’ah adalah seorang akhwat berusia 23 tahun yang alim serta tumbuh dalam lingkungan keluarga yang alim pula. Gadis alim yang berasal dari Solo ini mulai memakai jilbab ketika dia duduk di kelas 2 SMP dan jilbab tersebut melekat pada dirinya hingga dia hampir menyelesaikan kuliahnya saat ini. Selama kuliah di sebuah PTN tersebut, Rif’ah aktif sebagai kader PKS bahkan akhwat ini juga duduk dalam kepengurusan DPD PKS setempat. Berkecimpung dalam partai berlambang bulan sabit kembar itu membuat Rif’ah terlihat semakin alim. Dalam hal pergaulannya dengan laki-laki, Rif’ah juga selalu menjaga jarak. Selama ini, Rif’ah memang didoktrin untuk menjaga jarak dengan lawan jenisnya, sehingga tidak pernah sekalipun terlihat gadis alim berwajah cantik ini berakrab-akrab dengan teman laki-laki. Sebagai seorang akhwat, boleh dikatakan Rif’ah nyaris sempurna. Selain memiliki wajah cantik dan tabiat yang lembut, Rif’ah juga jauh dari hal-hal porno atau cabul sejak kecil bahkan bagi dirinya hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang tabu. 
Namun siang ini, akhwat PKS yang alim ini terpaksa melihat hal-hal tabu tersebut untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya. Awal mula, Rif’ah memang sempat shock, bukan saja karena kemarahan yang dirasakannya namun juga karena dia tidak pernah melihat gambar-gambar cabul dan porno sebelumnya. Pada mulanya memang Rif’ah merasa jijik dan marah …
…bukan saja karena kemarahan yang dirasakannya namun juga karena dia tidak pernah melihat gambar-gambar cabul dan porno sebelumnya. Pada mulanya memang Rif’ah merasa jijik dan marah melihat website tersebut, namun semakin lama akhwat PKS itu menjelajahi berbagai website dan blog cabul itu, rasa marah dan jijik yang dirasakan akhwat ini di menit-menit pertama berubah menjadi rasa malu. Wajah Rif’ah yang ayu dan lembut ini bersemu merah melihat foto-foto dalam website dan blog cabul tersebut, apalagi ketika dia melihat foto-foto wanita berjilbab putih lebar yang berwajah mirip dirinya tengah mengulum batang kontol laki-laki yang tegang. 
Mata Rif’ah yang lebar ini membelalak nyaris tak berkedip melihat foto-foto wanita berjilbab yang tengah mengulum batang kontol laki-laki. Mata Rif’ah tak lagi memperhatikan wanita berjilbab putih yang berwajah mirip dirinya namun matanya kini lekat melihat batang kontol laki-laki yang tengah dikulum dan ada juga yang diremas oleh wanita berjilbab itu. Rif’ah menggigit bibirnya kuat-kuat menahan debaran jantungnya yang berdegup kian kencang melihat urat-urat kontol laki-laki yang menonjol dalam foto tersebut. Tubuh akhwat PKS ini gemetar ketika tanpa disadarinya dia mengkhayalkan dirinya yang mengulum kontol laki-laki yang menggiurkan itu. Seumur hidupnya, baru kali ini Rif’ah melihat batang kontol laki-laki walaupun hanya dalam foto, terlebih kontol berukuran istimewa itu dalam keadaan tegang. Nafas akhwat PKS yang alim ini mulai memburu dan dia mulai merasakan denyutan-denyutan di bagian dalam kemaluannya yang terasa gatal sebagaimana layaknya wanita yang mulai terangsang birahi. 
Rif’ah memang seorang akhwat PKS yang alim dan selama ini jauh dari berbagai hal yang porno dan mesum bahkan dia selalu menjaga jarak dalam hubungan dengan laki-laki, namun Rif’ah tetap seorang wanita normal yang mempunyai gairah terhadap lawan jenisnya. Rif’ah yang telah berusia 23 tahun seringkali timbul gairah birahinya kepada lawan jenisnya secara alamiah Rif’ah sering terangsang terhadap lawan jenisnya, namun apabila birahinya mulai terangsang, akhwat PKS ini segera menekannya dengan berbagai aktivitas. Wajah Rif’ah yang cantik seringkali menjadi masalah tersendiri karena membuatnya sering digoda oleh laki-laki, walaupun dia telah memakai pakaian tertutup rapat. Godaan-godaan para laki-laki yang berbentuk ucapan-ucapan mesum, sentuhan atau kadang menempelkan tubuh mereka ke tubuhnya saat di biskota juga dapat membuatnya terangsang namun semua rangsangan birahi yang dirasakannya dapat diredamnya dengan baik. Rif’ah merasa dirinya mampu menjaga diri dan mengendalikan birahinya, tidak seperti beberapa akhwat PKS yang diketahuinya melampiaskan birahinya dengan bermasturbasi. Saat Rif’ah menanyakan alasan mereka melakukan masturbasi, beberapa akhwat PKS yang beberap di anatarnya adalah teman kostnya itu menjawab bahwa masturabsi lebih baik daripada berzina sementara mereka masih belum mau menikah dengan berbagi sebab. Rif’ah merasa maklum dengan alasan akhwat tersebut karena keadaan kampus-kampus sekarang yang penuh dengan godaan zina di mana-mana, akan tetapi akhwat PKS ini tidak mau mengikuti jejak akhwat tersebut ikut bermasturbasi. 
Kali ini birahi Rif’ah juga merasa terangsang namun rangsangan itu bukan datang secara alamiah atau gangguan dari orang lain. Birahi akhwat PKS ini terusik karena perbuatan dirinya sendiri sehingga kali ini Rif’ah merasa kesulitan untuk mengendalikannya seperti biasanya. Kian lama birahi akhwat PKS semakin kuat membuat Rif’ah melupakan doktrin moral yang selama ini dipeganginya dan keberadaannya sebagai salah seorang akhwat PKS. Box warnet yang tertutup itu membuat Rif’ah leluasa menjelajahi berbagai website erotis dan porno yang didapatinay dengan search engine Google, terutama yang menampilkan foto-foto laki-laki telanjang bulat dan mempertontonkan kontol mereka yang tegang. Nafsu birahi Rif’ah yang mendorong akhwat PKS ini tak lupa untuk menyimpan foto-foto tersebut ke dalam flash disk miliknya. Hampir satu jam kemudian wajah Rif’ah yang tengah dilanda birahi sudah sangat memerah dan terlihat kontras dengan jilbab putih lebar yang dipakainya. Jubah coklat susu yang dipakai Rif’ah juga terlihat kusut pada bagian selangkangannya, karena sebelumnya akhwat PKS ini tak mampu menahan tangannya untuk menggosok-gosok bagian selangkangannya setelah rasa gatal dalam kemaluannya tak tertahankan lagi. Nafas Rif’ah juga memburu dengan jantung yang berdegup kencang dan akhwat PKS ini merasakan buah dada dalam jubahnya yang terbungkus BH berukuran 34C itu menjadi sangat kencang dan mengeras. 
Satu jam lebih lamanya Rif’ah dilanda birahi dalam box warnet bernomor 10 yang tertutup itu. Dalam keasyikan menjelajahi website-website porno tiba-tiba Rif’ah dikejutkan bunyi pertanda SMS masuk di HP nya. 
“Hmm..dari Faizah..”gumam Rif’ah ketika melihat sms yang dikirim oleh salah seorang akhwat di tempat kostnya yang seluruh penghuninya adalah akhwat PKS. Isi sms itu mengabarkan bahwa salah seorang akhwat di tempat kost mereka terpergok menyimpan berbagai bacaan dan gambar porno di kamarnya. Rif’ah sebagai akhwat yang dituakan di tempat kost tersebut diharapkan bisa menyelesaikan kasus ini apalagi ini adalah kasus yang keenam yang terjadi di tempat kost mereka. 
Mendapat sms dari Faizah seperti itu, tubuh Rif’ah gemetar. Akhwat PKS yang alim ini segera tersadar dari apa yang sedang dilakukannya di box warnet ini. Akhirnya dengan perasaan kalut, Rif’ah menutup seluruh website porno yang telah dikunjunginya dalam waktu satu jam lebih ini dan bermaksud segera angkat kaki dari warnet ini. Ketika seluruh windows website-website porno itu telah tertutup hingga tinggal tampilan dekstop yang terlihat di layar monitor, mata Rif’ah melihat sebuah icon yang berjudul Koleksi Movie di layar monitor. Tiba-tiba timbul keinginan Rif’ah untuk mengkliknya sehingga dia menunda untuk segera keluar dari box warnet. Setelah akhwat PKS ini mengklik dua kali icon tersebut, terpampanglah puluhan folder judul film yang tengah menjadi box office di layar monitor. Namun mata akhwat PKS berwajah cantik ini melihat salah satu folder berjudul Surga yang membuat dahinya berkerenyit heran. Dengan diliputi rasa heran, Rif’ah mengklik folder berjudul Surga itu yang sekejap kemudian terpampang 2 file film berukuran besar yang membuat akhwat PKS ini semakin penasaran. Niatnya untuk keluar dari box warnet tertunda ketika rasa penasaran itu mendorongnya mengklik file film berjudul Surga yang berukuran …

..file film berukuran besar yang membuat akhwat PKS ini semakin penasaran. Niatnya untuk keluar dari box warnet tertunda ketika rasa penasaran itu mendorongnya mengklik file film berjudul Surga yang berukuran lumayan besar. 
“Ahh!” 
Rif’ah terpekik kaget ketika file film itu terbuka ternyata merupakan file film porno. Tubuh Rif’ah seketika menjadi gemetar dan dadanya berdegup kencang. Setelah satu jam yang lalu akhwat PKS ini browsing menjelajahi website-website porno yang menampilkan gambar-gambar porno yang tak bergerak, ternyata kini dia menemukan film yang menyuguhkan gambar cabul yang bergerak. Kembali Rif’ah terombang-ambing antara keinginan melihat dan rasa bersalah, akan tetapi nafsu birahi ternyata masih menguasai akhwat PKS ini membuat Rif’ah kembali duduk dalam box warnet seperti semula. Mata akhwat PKS ini berbinar lebar menyaksikan film yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan dilihatnya. Film yang agaknya berasal dari Jepang itu diawali dengan adegan sebuah keluarga muda dengan dua orang anak yang masih kecil namun adegan itu cuman sebentar dan cerita itu dimulai ketika adik kandung sang suami yang berwajah tampan ikut menumpang di rumah mereka. 
Rif’ah kian tenggelam mengikuti jalan cerita film tersebut yang kemudian sang istri dalam film tersebut tertarik dengan adik suaminya yang masih belia itu. Sang istri dalam film tersebut digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang selalu berkimono tertutup, akhirnya terjadilah perselingkuhan antara adik sang suami dengan sang istri. Birahi Rif’ah kian menguat ketika adegan percintaan pasangan selingkuh ini dieksplo dengan detail. Akhwat PKS yang tengah dilanda birahi ini hanya terengah-engah menyaksikan adegan-adegan persetubuhan yang dimulai hanya 10 menit setelah film dimulai. Puluhan menit berikutnya boleh dikatakan film itu dipenuhi adegan-adegan persetubuhan pria dan wanita degan detail dan close up, membuat Rif’ah yang menonton film tersebut hanya terengah-engah dalam birahi yang kian menggelegak. 
Akhwat PKS ini kembali tenggelam dalam libidonya di depan monitor yang menayangkan film porno. Kali ini Rif’ah tidak hanya sekedar menggosok-gosok bagian selangkangannya namun akhwat PKS ini mengangkat jubah panjang warna coklat susu yang dikenakan hingga ke pinggangnya hingga terlihat sepasang pahanya yang bulat padat dan mulus. Tak sekedar menyingkap jubah yang dipakainya, namun akhwat PKS ini juga menelusupkan tangannya ke balik celana dalam krem yang dipakainya lantas dengan bernafsu jemari tangan akhwat ini menggosok belahan kemaluannya yang kemerahan. Akhwat PKS berwajah menawan ini ternyata mempunyai kemaluan yang indah, membukit putih mulus tanpa sehelai rambut kemaluan yang menghiasinya karen rajin dibersihkan. Bibir kemaluan Rif’ah yang kemerahan kian terlihat memerah ketika tangan akhwat PKS ini menggosok-gosokkannya penuh nafsu birahi. 
Di saat tangan kiri Rif’ah mngggosok-gosok belahan kemaluannya, tangan kanan akhwat PKS ini menyusup ke balik jilbab putihnya yang lebar, lantas dibukanya 3 kancing yang ada di muka jubah tersebut dan tangannya segera menyusup ke balik BH berukuran 34C yang dipakainya. Rif’ah mempunyai sepasang payudara montok membukit indah yang kini terasa kian mengeras. Birahi akhwat PKS ini telah demikian menggelegak ketika tangannya meremas-remas payudaranya sendiri sambil memmelintir putting susunya. Entah darimana Rif’ah belajar bermasturbasi padahal sebelumnya tidak pernah satu detikpun dia melakukan perbuatan masturbasi sebagaimana beberapa akhwat PKS lainnya. Mata Rif’ah melotot adegan-adegan syahwat yang terpampang di layar monitor sementara kedua tangannya merangsang kemaluan dan payudaranya sendiri. 
Puluhan menit berlalu ketika tiba-tiba HP Rif’ah berbunyi nyraing membuat Rif’ah yang tengah asyik dalam birahinya terlonjak kaget, kali ini nada HPnya adalah nada panggil bukan nada SMS. Ketika melihat nama Faizah yang terpampang di layar HP, Rif’ah segera menghentikan meremas payudaranya lalu dengan wajah yang kesal akhwat PKS ini mengangkat telepon. 
“Ada apa Faizah?..” tanya Rif’ah dengan sedikit kesal. 
“Maaf mbak …gimana sms saya tadi…apa Rikhanah perlu dikeluarkan juga dari tempat kost kita sebagaimana beberapa akhwat yang lain?” tanya 
Rif’ah terdiam. Rikhanah adalah akhwat yang dimaksud dalam sms dari Faizah sebagai akwhat yang mengkoleksi gambar dan cerita porno di tempat kost mereka yang seluruhnya dihuni akhwat aktvis PKS.. 
“Tunggu dulu…biar saya datang dulu…Rikhanahnya kemana?” 
“Sudah pergi Mbak..mungkin malu dia..tapi barang-barangnya masih di kamarnya dan barang-barang cabul itu sudah saya amankan” 
Rif’ah kembali terdiam. 
“Ya nanti kita bicarakan.. tunggu aku datang aja” 
Ketika kembali pandangan Rif’ah ke layar monitor, film tersebut sudah mendekati akhir, berarti satu jam lebih akhwat PKS tenggelam dalam birahi ketika menonton film tersebut. Telepon dari Faizah tersebut ternyata mampu membangkitkan kembali kesadarannya akan perbuatan yang sedang dilakukaknnya. Dengan gontai Rif’ah membenahi jubah dan jilbab yang awut-awutan dan membuatnya setengah telanjang. Untunglah box warnet itu tertutup rapat tak seoarangpun melihat keadaan akhwat PKS dengan aurat yang tersingkap lebar. 

Rif’ah keluar dari box warnet nomor 10 setelah hampir 4 jam dia berada di dalamnya. Jubah coklat susu yang dipakainya terlihat kusut masai terutama pada bagian selangkangannya, sementara jilbab putih yang lebar yang dipakainya juga terlihat kusut di bagian dada. Rifa’h berjalan gontai dengan pikiran yang kalut berniat menuju kasir warnet, namun akhwat PKS ini merasakan celan dalam yang dipakainya terasa basah membuatnya risih. Rif’ah menghentikan langkahnya ke meja kasir, akhwat cantik ini segre amenuju toilet warnet. Dalam toilet yang cukup bersih itu, Rif’ah melepas celana dalam krem yang dipakainya di balik jubah. Rif’ah memperhatikan celana dalam yang terasa basah oleh lendir cukup banyak. Sekian jam Rif’ah tenggelam dalam birahi membuatnya berulangkali menyemprotkan cairan kenikmatan yang membuat celana dalamnya basah. Rif’ah segera membungkus celana dalam yang semula membungkus bagian vitalnya dengan tissu kemudian disimpannya dalam tas milik akhwat PKS ini. Sebelum keluar toilet, Rif’ah sempat mencuci kemaluannya yang terlihat putih kemerah-merahan tanpa sehelai rambutpun yang terbiarkan tumbuh. Bukit montok kemaluan Rif’ah yang mulus dengan bibir kemaluan yang merekah …

…sempat mencuci kemaluannya yang terlihat putih kemerah-merahan tanpa sehelai rambutpun yang terbiarkan tumbuh. Bukit montok kemaluan Rif’ah yang mulus dengan bibir kemaluan yang merekah merah itu dicucinya berulangkali sebelum dilap dengan tisuue. Akhwat PKS yang cantik ini merasa yakin tak seorangpun mengetahui dirinya saat ini tidak memakai celana dalam saat ini. Jilbab putih lebar serta jubah panjang yang dipakainya terasa cukup untuk menyembunyikannya. Rif’ah membuka pintu toilet lantas dengan sedikit canggung, akhwat PKS ini berjalan menuju ke kasir warnet yang masih dijaga oleh cowok chinesse. Cowok itu memandang Rif’ah dengan pandangan penuh arti sembari tersenyum. “Sudah mbak?”tanyanya sembari tetap memandang akhwat PKS yang cantik ini. “Ya” jawab Rif’ah pendek sambil menyodorkan lembaran uang pecahan 20 ribu. Akhwat PKS ini menyadari pandangan cowok chinesse yang seakan ingin menelanjanginya sehingga membuatnya tidak menyukai pandangan cowok chinesse tersebut. 
“Mbak jadi member aja…koleksi film kita nambah terus lho. Makin asyik lho” ujar cowok itu sambil menghitung uang kembalian. 
Rif’ah terperanjat kaget mendengarnya, wajah ayu akhwat PKS berkulit putih ini seketika menjadi merah padam. Rif’ah tidak menyangka kalau operator warnet bisa mengetahui dia melihat film porno dalam box warnet. 
“Mmm…makasih aja” ujar Rif’ah tergagap lantas tiba-tiba saja akhwat ini setengah berlari menuju pintu keluar warnet. Wajahnya yang merah padam tertunduk dalam-dalam menahan rasa malu yang dirasakannya. “Kembaliannya mbak!!..”teriak cowok operator warnet ini namun Rif’ah tidak lagi mendengarnya. Begitu keluar dari warnet akhwat PKS ini juga tidak menunggu bus kota seperti biasanya namun tangannya segera melambai menghentikan taksi yang lewat. (Bersambung).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Balada Rif’ah (2)

Membayangkan film-film porno yang kemarin di tonton di warnet, membuat rif’ah tidak bisa tidur nyenyak, tanpa sadar rif’ah masturbasi sambil berfantasi dengan gambar-gambar porno rikhanah yang kemarin dia sita. 

Tanpa sepengetahuan rif’ah sedari tadi, faizah tetman dekatnya mengintip dari balik jendela, faizah mendadak menyeringai melihat Rif’ah dan diam-diam dia menghampiri Rif’ah yang tengah terggelam dalam birahinya dari belakang lantas kedua tangan Faizah ini memeluk Rif’ah dari belakang. 
“Lagi ngapain mbak?” tegurnya di dekat telinga Rif’ah yang masih tertutup jilbab. 
‘Aww!!”pekik Rif’ah kaget dengan tubuh terlonjak kaget. Secara refleks akhwat PKS ini menghentikan aktivitas masturbasinya dan segera membenahi jubahnya yang tersingkap lebar hingga ke pinggang. Wajah cantik akhwat PKS ini merah padam dan beberapa saat dia hanya terpaku oleh rasa kaget luar biasa dipeluk oleh Faizah dari belakang. 
“Nggak papa kok mbak….aku nggak akan lapor sama Ummu Nida atau mbak Mufidah kok….aku paham kok..aku juga suka dengan gambar-gambar punya mbak Rikhanah ini…ayo terusin lagi”desis Faizah di dekat telinganya yang membuat Rif’ah merinding. 
Rif’ah masih terdiam ketika tanpa diduganya tangan Faizah yang memeluknya tiba-tiba meremas kedua buah dadanya membuat Rif’ah terkejut luar biasa.. 
” Mbak Rif’ah masih terangsang yah….buah dada mbak masih kenceng gini” 
“Eh..Faizah…apa-apaan ini?!”protes Rif’ah pelan sambil berusaha menepis tangan Faizah. 
“Jangan protes mbak…aku tahu mbak Rif’ah punya kumpulan gambar porno dan cerita-cerita erotis dalam flash disk punya mbak yang semalam aku pinjem….aku janji nggak akan melaporkannya kepada Ummu Nida dan mbak Mufidah kok…tenang aja nasib mbak Rif’ah nggak akan kayak mbak Rikhanah kok” 
Rif’ah terdiam dan dirinya merasa aneh dengan tingkah Faizah yang tidak diduganya ini. Akhwat PLS ini merasa meriding ketika tangan Faizah yang memeluknya kembali meremas-remas buah dadanya dan Rif’ah mulai merasakan nafas Faizah tersengal memburu mengenai jilbabnya seperti tengah dilanda birahi. 
“Mbak Rif’ah masih birahi khan….ayolah nikmati saja” desis Faizah dengan suara gemetar sementara kedua tangannya terus meremas-remas buah dada montok di dada Rif’ah yang masih tertutup jilbab putih yang lebar. 
“Faizah jangan!”desis Rif’ah dengan tegang ketika tangan Faizah kini menyusup ke balik jilbab putih lebar yang dipakainya. 
“Sudahlah mbak…flashdisk punya mbak Rif’ah masih di tanganku…aku janji nggak akan melaporkan ke atas!”desis Faizah dalam. 
Rif’ah yang tidak mau nasibnya seperti Rikhanah ditambah dengan gelegak birahi yang masih menguasainya, akhirnya pasrah ketika tangan Faizah membuka kancing jubahnya di balik jilbab lebar yang dipakainya. Beberapa saat kemudian tangan Faizah segera menyusup meremas buah dada milik Rif’ah yang montok dan kencang tersebut membuat Rif’ah merasa sebuah sensasi yang aneh dan membuatnya bingung. 
“Mmm..montok dan kenyal…aku sudah lama merindukan bisa beginian dengan mbak Rif’ah. Mbak Rif’ah cantik, sintal selama ini selalu membuatku bergairah” 
Mata Rif’ah membelalak lebar mendengar ucapan Faizah, akhwat PKS ini tidak menyangka bahwa akhwat berperawakan atletis dan anggota Santika adalah seorang akhwat yang menyukai sesama jenis. Belum hilang keterkejutannya Rif’ah merasakan tangan Faizah kemudian tidak hanya sekedar meremas-remas buah dada miliknya namun juga memilin puting susu yang tegang tersebut membuat tubuh akhwat PKS yang cantik ini menggeliat dan desahnya tak mampu ditahannya meloncat dari mulutnya. 
“Ahhhh..Faizah..jangaaan!”desah Rif’ah spontan. 
Seumur hidupnya baru pertamakali ini puting susunya dipilin sedemikian rupa yang sangat membangkitkan nafsu birahinya. Namun di satu sisi dia merasa merinding karena yang memilin …
…spontan. 
Seumur hidupnya baru pertamakali ini puting susunya dipilin sedemikian rupa yang sangat membangkitkan nafsu birahinya. Namun di satu sisi dia merasa merinding karena yang memilin puting susunya dengan lihainya adalah seorang akhwat seperti dirinya. 
“Kita ke kamar aja mbak..”bisik Faizah begitu mesra kepada Rif’ah. 
Entah kenapa Rif’ah terlihat pasrah ketika Faizah menariknya ke dalam kamar yang terletak di sebelah ruang Arsip. Kamar tersebut adalah salah satu kamar dari tiga kamar di kantor DPD PKS sebagai tempat istrirahat personil atau transit tamu-tamu dari luar kota. Fasilitas dalam kamar tersebut sangat sederhana, sekedar sebuah pembaringan lengkap dengan bantal guling serta satu set meja dan kursi. 
Dalam kamar tersebut, Faizah tidak serta merta merebahkan Rif’ah di pembaringan namun akhwat PKS yang cantik sekaligus seniornya di PKS itu disandarkan di dinding kamar. Tubuh Faizah memang lebih tinggi dan lebih besar di bandingkan tubuh Rif’ah sehingga Faizah terpaksa menundukkan wajahnya memandang wajah cantik yang berbalut jilbab putih yang lebar yang kini tengah dipeluknya. 
“Mbak Rif’ah cantik….aku udah lama nungguin yang kayak gini…mbak begitu cantik, tubuh mbak sintal..”ungkap Faizah sembari membelai wajah Rif’ah sementara akhwat PKS yang cantik ini hanya membelalakkan kedua matanya menatap Faizah dengan tatapan yang sulit dimengerti. Deru nafas Faizah yang memburu terasa hangat menampar-nampar wajahnya. 
Faizah kian mendekatkan wajahnya ke wajah Rif’ah hingga bibirnya menyentuh bibir akhwat yang cantik ini membuat tubuh Rif’ah kejang. Rif’ah sempat melengos ketika bibir Faizah hendak melumat bibirnya, namun dengan cepat Faizah memburunya sehingga sesaat kemudian bibir Rif’ah yang ranum tersebut dapat dilumatnya dengan penuh nafsu. Tubuh Rif’ah semakin kejang dan sesaat kemudian akhwat PKS ini menggelinjang ketika lidah Faizah menyapu dan membelit lidahnya dengan lihainya. Seumur hidupnya barukali bibirnya dilumat dengan bernafsu oleh orang lain dan yang membuatnya terlihat bingung karena yang melumat bibirnya adalah seorang akhwat seperti dirinya. 
Faizah tidak memperdulikan kebingungan Rif’ah karena dia mengetahui kalau akhwat seniornya yang cantik ini masih dalam keadaan birahi, ketika tangannya yang kembali menyusup ke balik jilbab menemukan buah dada montok Rif’ah masih mengeras kencang. Bahkan ketika tangannya menyentuh putting susu akhwat yang cantik ini, Faizah masih merasakan puting susu tersebut terasa masih kencang sehingga membuat Faizah dengan gemas memilinnya. Tubuh Rif’ah menggelinjang ketika kembali puting susunya dipilin-pilin Faizah sementara bibirnya terus melumat bibir akhwat berwajah cantik ini dengan penuh birahi. 
Tanpa melepaskan pagutannya serta dengan tangan masih bermain-main di dada Rif’ah, Faizah mendorong akhwat PKS yang cantik ini ke arah pembaringan dan merebahkannya di atas pembaringan tersebut. Rif’ah terengah-engah antara rasa nikmat dan kebingungan yang mencekamnya, sementara tatapan matanya nanar menatap Faizah yang berdiri di sisi pembaringan. 
“Ayo mbak..kita bermain-main. Aku dah lama pengen ginian sama mbak”ujar Faizah sambil duduk di pembaringan. 
Kedua tangan Faizah terulur ke tubuh Rif’ah lantas menyusup masuk ke balik jubah panjang yang dipakai akhwat PKS berparas cantik ini. Rif’ah tersentak dan secara refleks tangannya mencegah tangan Faizah namun akhwat PKS yuniornya ini hanya tersenyum penuh arti kepadanya. Tatapan dan senyuman Faizah itu membuat Rif’ah memahami bahw a gadis ini mempunyai kartu turf yang akna menghancurkan kariernya di PKS sebagaimana Rikhanah. Akhirnya Rif’ah membiarkan tangan Faizah menggerayangi tubuhnya di balik jubah panjang yang dipakainya. 
“Tenang mbak…..mbak tidak akan ternodai…keperawanan mbak Rif’ah tetap akan utuh”bisik Faizah ketika tangan gadis PKS ini telah sampai di selangkangan Rif’ah. 
“Faizah….”desis Rif’ah tegang ketika dia merasakan jemari Faizah menyusup ke balik celana dalam yang dipakainya.Lantas jemari gadis PKS asal Jakarta ini menyusuri belahan bibir kemaluan Rif’ah ke atas dan ketika telah menyentuh kelentit Rif’ah, jemari Faizah seketika memilin bagian tubuh Rif’ah yang paling sensitif tersebut. 
“Ahhhh….”desah Rif’ah menggelinjang ketika jemari Faizah memilin dan merangsang kelentitnya dengan luar biasa. Faizah tersenyum melihat reaksi Rif’ah dan reaksi tersebut membuatnya semakin bernafsu merangsang akhwat PKS yang cantik ini. Faizah melepaskan kaus kaki krem yang membungkus kedua kaki Rif’ah dan diletakkannya di bawah pembaringan.Satu tangan Faizah masih mempermainkan kelentit Rif’ah sementara tangan lainnya mengelus-elus kaki akhwat PKS yang putih mulus itu. Bahkan kemudian Faizah membungkuk dan menciumi kaki Rif’ah dari jemarinya yang halus kemerahan terus merayap ke atas sembari menyingkap jubah panjang yang dipakai Rif’ah. 
Rif’ah menggelinjang dan mendesah di tengah keterombang-ambingannya antara rasa nikmat oleh rangsangan Faizah dan nalurinya yang menolak dicabuli oleh sesama jenis. Faizah yang mempunyai kartu truf tentang kejelekan Rif’ah membuat Rif’ah tak kuasa melawan keinginan Faizah sehingga rasa birahilah yang akhirnya dominan terhadap diri akhwat PKS yang cantik ini walaupun dia menyadari yang merangsangnya adalah seorang akhwat seperti dirinya. (Bersambung)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Balada Rif’ah (3)

Rif’ah membiarkan Faizah menyingkap jubah panjang yang dipakainya hingga ke pinggangnya. Akhwat PKS berwajah cantik ini juga hanya pasrah ketika setelah itu Faizah kemudian menciumi dan menjilati sekujur kakinya dari jemari kakinya lantas kedua betisnya hingga sepasang paha Rif’ah yang padat dan kencang membuat sekujur tubuh Rif’ah dari ujung kaki hingga pangkal pahanya basah kuyup oleh jilatan dan ciuman Faizah. Rif’ah pasrah terhadap segala yang Faizah lakukan terhadap dirinya. 

Faizah tersenyum melihat Rif’ah yang kini dalam keadaan setengah telanjang didepannya. Mata akhwat PKS asal Bekasi ini membulat menatap kemaluan Rif’ah yang terlihat membukit terbungkus ketat oleh celana dalam warna krem. 

“Faizah…jangan!”desis Rif’ah tertahan ketika tangan Faizah menarik turun celana dalam krem yang dipakai akhwat PKS …

.celana dalam warna krem. 

“Faizah…jangan!”desis Rif’ah tertahan ketika tangan Faizah menarik turun celana dalam krem yang dipakai akhwat PKS cantik ini. 

Faizah tidak lagi menanggapi Rif’ah, ketika matanya telah melihat gundukan kemaluan Rif’ah telanjang di depannya. 

Tubuh Rif’ah tersentak ketika dengan buas Faizah membenamkan wajahnya diantara kedua pahanya dan dalam hitungan detik, Rif’ah merasakan kemaluanya dikunyah oleh akhwat PKS yuniornya ini.Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Rif’ah namun akhirnya nafsu birahilah yang kemudian menguasai akhwat cantik ini. Rif’ah menggelinjang jalang dengan mulut yang mendesah dan merintih merasakan kelihaian jilatan dan sedotan Faizah pada bagian tubuhnya yang paling rahasia tersebut. Begitu mahirnya jilatan dan sedotan Faizah di kemaluan Rif’ah hingga membuat pantat akhwat PKS yang cantik ini terangkat ke atas setiap kali. 

Dengan mulut masih mencumbu kemaluan Rif’ah, tangan Faizah menggerayangi bagian dada akhwat cantik ini. Tangan akhwat hitam manis ini kembali menyusup ke balik jubah panjang yang dipakainya melalui bagian atas jubahnya yang telah terbuka kancingnya sejak di ruang arsip lantas menelusup ke balik BH yang dipakai Rif’ah. Beberapa saat kemudian tangan Faizahpun telah meremas-remas kedua payudara montok di dada Rif’ah yang telah mengeras dan memilin-milin puting susu payuadara tersebut dengan gemas. 

“Ahhh…ahhhhh..”rintih Rif’ah dirangsang sedemikian rupa oleh Faizah. Tubuhnya menggelinjang jalang dan kedua tangannya meremas-remas kepala Faizah di selangkangannya yang masih berjilbab sehingga membuat kusut jilbab yang dipakai akhwat anggota Santika ini. 

Puas mengunyah daging kemaluan Rif’ah, Faizah beralih ke dada akhwat PKS yang cantik ini. Jilbab lebar yang dipakai Rif’ah disingkapnya hingga ke pundak lalu dikeluarkannya sepasang bukit montok di dada Rif’ah dari BH yang membungkusnya hingga terpampang di depan matanya. Faizah terpesona melihat sepasang payudara Rif’ah yang telanjang di depan matanya. Sebelumnya dia pernah sekali tak sengaja melihat payudara telanjang Rif’ah ketika akhwat ini berganti pakaian tapi itu hanya sesaat karena waktu itu Rif’ah segera menutupinya. Sekarang kedua payudara akhwat cantik ini terpampang di depannya dalam keadaan terangsang, sungguh sebuah pemandangan yang sangat menggiurkan. 

Faizah segera menerkam menciumi dan menjilati kedua payudara Rif’ah secara bergantian. Dkunyah-kunyahnya payudara yang putih mulus itu hingga berbekas bilur-bilur kemerahan lantas disedotnya dan dipelintir puting susu yang tegak kemerahan tersebut dengan gemas membuat Rif’ah semakin jalang merintih oleh birahi yang melandanya. Tubuhnya menggelinjang liar dan mulutnya mendesah dan merintih menahan kenikmatan yang dirasakannya. Rif’ah tidak lagi terpikir bahwa yang merangsangnya adalah akhwat seperti dirinya, yang ada dalam benaknya hanya kenikmatan yang baru pertamakali dirasakannya. 

“Buka semua bajunya ya mbak…”desis Faizah puas menikmati payudara Rif’ah. Faizah lantas turun dari pembaringan tersebut dan tanpa menunggu jawaban Rif’ah, tangan akhwat PKS anggota Santika ini segera jilbab putih lebar yang dipakai Rif’ah kemudian jubah panjangnya dan bh warna krem yang dikenakannya hingga akhirnya Rif’ah telanjang bulat. Faizah benar-benar terpesona melihat Rif’ah yang kini tergolek di pembaringan tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Tubuh bugil Rif’ah begitu indah sehingga beberapa saat Faizah terpesona memnadnag sekujur tubuh bugil Rif’ah dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya. 

Rif’ah membiarkan Faizah memandangi sekujur tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Akhwat cantik ini balas memandang Faizah ketika dia melihat Faizah kemudian juga mulai membuka pakaiannya. Pertama kali Faizah melepas sepasang kaus kakinya disusul jilbab lebar warna hijau yang dipakainya hingga terlihat rambutnya yang dipotong pendek seperti polwan. Setelah itu barulah Faizah melepas jubah panjang warna coklat yang dipakainya sehingga Faizah kini hanya terlihat memakai bh sementara bagian bawahnya memakai celana panjang warna coklat gelap. Rif’ah memang melihat Faizah adalah seoarang akhwat yang berotot bahkan payudaranya pun tergolong kecil. 

Tanpa memperdulikan pandangan Rif’ah, Faizah melepas BH yang membungkus buah dadanya lalu celana panjang yang menutup bagian tubuhnya juga dilepas. Faizah ternyata tidak memakai celana dalam sehingga ketika celana panjang itu terlepas dari tubuhnya, Faizahpun bugil seperti Rif’ah. Rif’ah ternganga melihat tubuh Faizah bugil di depannya saat ini karena baru pertamakali ini dia melihat Faizah dalam keadaan bugil tanpa selembar benangpun di tubuhnya. Tubuh akhwat PKS yang satu ini memang terlihat perkasa walaupun di dadanya tumbuh sepasang payudara berukuran 32 dengan puting susu coklat gelap serta kemaluannya adalah kemaluan wanita, apalagi kulitnya yang coklat mengesankan keperkasaannya. Satu hal yang tak diduga Rif’ah sebelumnya, ternyata Faizah mempunyai kemaluan dengan rambut yang lebat sehingga sebagian kemaluan Faizah yang cukup montok membukit itu tertutupi oleh lebatnya rambut kemaluannya. 

Rif’ah tak sempat memikirkan lebatnya rambut kemaluan Faizah yang lebat tersebut lebih lama, karena Faizah segera naik ke pembaringan dan segera menindihnya. Sesaat Rif’ah sempat tersadar kalau yang mencumbunya adalah seorang wanita seperti dirinya, namun kesadaran itu tak sempat menguasainya Faizah segera merangsangnya kembali membuat Rif’ah kembali tenggelam dalam birahi. Dengan liar Faizah mencumbu Rif’ah, melumat bibir sensual Rif’ah, mengesekkan payudaranya dengan payudara Rif’ah, menempelkan bibir kemaluanya dengan bibir kemaluan Rif’ah lantas menggesek-gesekkannya. Deru nafas, desahan dan rintihan kenikmatan kedua gadis yang tenggelam birahi itu seakan tak putus terdengar disela-sela suara beradunya dua tubuh yang saling membelit. Rif’ah yang semula adalah akhwat PKS alim dan jauh dari perbuatan-perbuatan mesum larut dalam kenikmatan dan sensasi birahi yang dibawa Faizah. 

Persetubuhan kedua gadis ini berakhir lewat dini hari. Rif’ah dan Faizah terkapar …

.perbuatan-perbuatan mesum larut dalam kenikmatan dan sensasi birahi yang dibawa Faizah. 

Persetubuhan kedua gadis ini berakhir lewat dini hari. Rif’ah dan Faizah terkapar lemas di pembaringan. Tubuh bugil kedua gadis ini penuh dengan bilur-bilur warna merah bekas gigitan mereka masing-masing terutama tubuh Rif’ah yang berkulit putih mulus. 

“Pulang sekarang atau besok pagi mbak?” tanya Faizah dengan nafas yang masih memburu satu-satu. 

“Terserah Faizah aja, khan Faizah yang bawa motornya” jawab Rif’ah. 

“Ya udah..besok pagi aja…kita tidur aja mbak..capek… berpelukan mbak..dingin” ujar Faizah sambil memeluk tubuh Rif’ah yang masih bugil dengan mesra, kemudian dengan kakinya Faizah menarik selimut yang ada diujung pembaringan untuk menutupi mereka berdua. 

Keesokan paginya ketika matahari telah terbit, sebuah sepeda motor yang dinaiki dua gadis berjilbab lebar yang tak lain Faizah dan Rif’ah terlihat keluar meninggalkan rumah yang dijadikan kantor DPD PKS. 

“Mbak Rif’ah mau ke kampus atau ke kost dulu?”tanya Faizah 

“Ke kost dulu aja…”jawab Rif’ah datar seakan tak bergairah membuat Faizah mengerutkan keningnya 

Pikiran akhwat PKS ini masih terbayang kejadian semalam. Dia serasa masih belum percaya kalau semalam dia telah melakukan persetubuhan dengan Faizah. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya antara perasaan merasa bersalah namun ternyata semalam dia sengat menikmati persetubuhan dnegan Faizah. 

Faizah dapat merasakan kalau Rif’ah masih terguncang dengan kejadian semalam. Faizah bisa mengerti karena ketika pertamakali dia mengenal dunia lesbian juga terguncang sebelum akhirnya kecanduan. Faizah menyadari perbuatannya adalah perbuatan terlarang ketika dia ikut PKS dan dia berusah menghilangkannya namun hasratnya ternyata sulit dibendung ketika melihat kecantikan dan tubuh Rif’ah, akhwat seniornya di PKS yang di matanya mungkin bernilai 8. Tanpa diduganya, Rif’ah ternyata mudah sekali untuk dbawa bercinta seperti tadi malam. Betul-betul akhwat yang polos dalam masalah seks. 

Hampir satu bulan sudah sejak peristiwa di DPD, Rif’ah masih terombang-ambing namun akhwat cantik ini tidak dapat menolak ketika Faizah tidur di kamarnya kemudian mengajaknya bercinta semalam suntuk. Seluruh akhwat penghuni kost itu tidak menaruh curiga apapun walaupun hampir tiap malam Faizah tidur di kamar Rif’ah karena mereka memang sama-sama perempuan. Mereka hanya melihat kedua akhwat itu kini semakin akrab sampai kemudian kedua akhwat itu datang pada sebuah kajian yang membahas mengenai fenomena lesbian. Saat itu wajah Rif’ah tersadar dengan kekeliruannya selama ini. Wajah akahwat cantik ini merah padam mendengar isi kajian yang mengutuk perilaku lesbian sementara Faizah cenderung untuk tidak mendengarkannya. 

Sepulangnya dari kajian itu, Rif’ah mulai menjaga jarak dengan Faizah. Faizah yang merasa Rif’ah mulai berubah, berusaha menekan Rif’ah agar tidak meninggalkannya. Faizah sangat bernafsu kepada Rif’ah, akhwat cantik dnegan bau kemaluannya yang segar dan wangi dan dia tidak rela harus putus hubungan dnegan Rif’ah. Akhirnya Faizah harus melakukan ancaman fisik terlebih dahulu sebelum melampiaskan nafsunya kepada Rif’ah. Rif’ah sebagai seorang akhwat yang lembut dan lemah tak mampu melawan ancaman Faizah sehingga dengan terpaksa dia melayani nafsu Faizah yang menyimpang dari kodratnya. 

Tak sampai setengah bulan kemudian, Rif’ah merasa tidak tahan terhadap paksaan Faizah untuk melayani nafsu seksualnya, sehingga akhwat ini berencana pindah kost. Rupanya Faizah mencium rencana Rif’ah pindah kost sehingga akhwat hitam manis ini menekannya agar tidak meninggalkan kost.Rif’ah yang ketakutan dengan ancaman Faizah akhirnya meminta perlindungan kepada Ummu Nida, mantan Kabid Kewanitaan DPD PKS yang kini duduk di DPW tingkat propinsi. Di matanya Ummu Nida adalah seorang ummahat yang keras, tegas dan berani. Ummahat berusia 30an dan telah mempunyai tiga anak itu memang pantas menjadi pemimpin akhwat PKS. Secara fisik Ummu Nida adalah seorang ummahat yang bertubuh besar padahal suaminya bertubuh kurus. 

Sore itu sepulangnya dari kampus, Rif’ah tidak pulang ke kostnya namun pergi ke tempat Ummu Nida di sebuah perumahan di pinggiran kota. Akhwat ini bertekad untuk menceritakan semua yang telah dilakukannya bersama Faizah sekaligus minta perlindungan dari paksaan Faizah kepadanya. Sesampainya di rumah Ummu Nida, Rif’ah heran ketika melihat beberapa sepeda motor yang terparkir di rumah tersebut. Dilihatnya Abu Nida, suami Ummu Nida sedang duduk di teras bersama anak mereka yang terkecil yang baru berusia 2 tahun. 

Setelah salam, Rif’ah menanyakan Ummu Nida kepada Abu Nida’ 

“Masuk aja….lagi pada senam di halaman belakang” 

Senam? Kening Rif’ah berkerenyit heran. Namun tak bertanya-tanya lagi, akhwat PKS ini masuk ke rumah langsung ke halaman belakang. Sesampainya di halaman belakang, Rif’ah tertegun rupanya senam itu telah selesai ketika dia melihat Ummu Nida dan kurang lebih 15 wanita berpakaian senam yang sexy terlihat duduk kelelahan. Rif’ah terlihat kaget melihat Ummu Nida dan lainnya memakai baju senam yang sexy itu. Rif’ah hampir tidak mengenali para ummahat yang yang memakai pakaian senam yang sexy karena sebelumnya Rif’ah melihat mereka dengan jilbab lebar dan jubah panjang. Kemunculan Rif’ah langsung disambut hangat oleh Ummu Nida dan beberapa ummahat lainnya yang mengenalnya. 

“Ooo dik Rif’ah….bunga tercantik di PKS datang berkunjung!” seloroh Ummu Nida membuat Rif’ah tersipu-sipu. 

Rif’ah kemudian bersalaman dengan seluruh ummahat sambil saling menempelkan pipi. 

“Senam apaan mbak?” tanya Rif’ah. 

“Senam Ummahat, kalau anti sih nggak perlu, tubuh anti khan masih sexy dan sintal nah kalo kami-kami yang sudah punya anak ini ya harus berupaya agar tubuh-tubuh kami tetap sintal dan menggiurkan bagi suami…”jawab Ummu Nida. 

“Ah..bisa aja..tubuh mbak juga sintal dan montok” balas Rif’ah …

…tubuh-tubuh kami tetap sintal dan menggiurkan bagi suami…”jawab Ummu Nida. 

“Ah..bisa aja..tubuh mbak juga sintal dan montok” balas Rif’ah sambil memandang sekujur tubuh Ummu Nida yang masih berbalut pakian senam yang ketat. 

Ummu Nida memang mempunyai tubuh yang sintal dan montok. Walaupun sudah mempunyai tiga anak, perutnya terlihat rata. Buah dadanya montok mungkin berukuran sekitar 36 dengan pantat yang bahenol. Wanita berkulit kuning langsat yang masih terlihat kencang ini mempunyai wajah yang cukup cantik walaupun sudah tidak terlihat muda lagi. Rif’ah perkirakan usia Ummu Nida sekitar 33 tahun. 

Melihat Ummu Nida, Rif’ah teringat Faizah. Rif’ah bisa membayangkan reaksi Faizah bila melihat Ummu Nida dalam balutan pakaian senam seperti sore ini. 

“Nunggu dulu yah…pada mau kemas-kemas” ujar Ummu Nida yang dijawab anggukan Rif’ah. 

Rif’ah melihat kesibukan Ummu Nida dan ummahat lainnya yang berkemas-kemas. Rif’ah memang baru tahu kalo ada senam Ummahat seperti ini jadi memang bukan isapan jempol kalau ada berita bahwa kebanyakan ummahat PKS mempunyai tubuh yang sintal dan bahenol. Dalam waktu beberapa menit kemudian para ummhat PKS yang semula masih berbalut pakaian senam kini kembali terlihat dengan jubah panjang dan jilbab lebar. Melihat ummahat tersebut kembali memakai pakaian tersebut, Rif’ah baru mengenali dengan jelas satu persatu ummahat yang datang dan rupanya banyak ummahat yang dikenalnya. 

“Itu guru senamnya?”tanya Rif’ah kepada Ummu Nida ketika melihat seorang wanita yang tidak berjilbab terlihat sexy dengan jeans dan kaos ketat. 

“Ya…namanya Venny..guru senam di sanggar senam dekat kantor DPW. Kita sewa untuk melatih kita” jawab Ummu Nida. 

Tak lama kemudian rumah Ummu Nida pun kembali sepi, setelah satu persatu ummahat itu pulang ke rumah mereka. 

“Ada apa dik, kelihatan banyak masalah..jadi nginep khan seperti dalam sms tadi?”tanya Ummu Nida 

Rif’ah mengangguk 

“Nanti malam ya mbak….Rif’ah capek banget” 

Ummu Nida mengangguk mengerti, lalu diantarkannya gadis ini ke kamar yang disiapkan. 

“Nida dan Yasmin lagi liburan di rumah neneknya, jadi dik Rif’ah bisa tidur di kamar ini” kata Ummu Nida sambil mengantarkan gadis ini ke kamar kedua anaknya. Rif’ah mengangguk dan baru mengerti kenapa sejak tadi tidak melihat Nida dan Yasmin dan hanya melihat anak terkecil Ummu Nida yang digendong Abu Nida di teras. 

“Makasih mbak” kata Rif’ah. 

Malam harinya, Ummu Nida terkejut luar biasa mendengar penuturan Rif’ah mengenai hubungannya dengan Faizah namun Rif’ah tidak menceritakan kalau dia juga menikmati hubungan sesama jenis tersebut. Wajah Ummu Nida merah padam mendengar penuturan Rif’ah yang menuturkan sambil terisak. 

“Rif’ah menyesal mbak….tapi Faizah terus mengancam dan menekan. Rif’ah tidak berani” 

“Kalau begitu Faizah harus keluar dari kost akhwat tersebut, dia berbahaya buat akhwat PKS lainnya baru sabuk hijau saja sudah banyak tingkah” ujar Ummu Nida tampak geram. Rif’ah memang mendengar kalau Ummu Nida sebelum menjadi akhwat adalah mantan atlit karateka propinsi dan sudah sampai sabuk hitam, tapi dia tidak mengerti masalah sabuk-sabuk tersebut sehingag dia tidak tahu maksud ucapan Ummu Nida. 

“Sekarang dik Rif’ah istirahat dulu aja…nggak papa. Biar mbak yang bereskan Faizah itu” desis Ummu Nida mirip perintah. 

Mendengar ucapan Ummu Nida itu, Rif’ah pun segera pamit ke kamar yang terletak di sebelah kamar Ummu Nida dan suaminya.. 

Di kamar tempat dia berbaring itu, Rif’ah gelisah. Ada sedikit rasa penyesalan menceritakan masalahnya kepada Ummu Nida, khawatir menjadi konsusmi public di kalangan akhwat PKS namun kemudian penyesalan itu ditepisnya karena dia yakin Ummu Nida akan bertindak yang terbaik untuknya. Apalagi setelah Rif’ah masuk ke kamar, dia mendengar pembicaraan Ummu Nida dan suaminya berkisar masalah Faizah bukan dirinya. Namun kelelahan yang mencengkamnya membuat Rif’ah tak lama mendengar pembicaraan itu karena kemudian dia tertidur pulas. 

Tengah malam Rif’ah terbangun ketika dia mendengar suara canda dan ketawa-ketawa dari kamar sebelahnya yang tak lain adalah kamar Ummu Nida dan suaminya. Rif’ah memahami sehingga diapun kembali berusaha tertidur namun ternyata suara-suara itu kemudian mengganggunya sehingga membuatnya sulit tertidur apalagi setelah terdengar suara-suara aneh dari kamar tersebut di sela-sela canda suami istri tersebut. Suara tersebut membuat Rif’ah gelisah dan benaknya tanpa sadar membayangkan apa yang tengah terjadi di kamar sebelah antara Ummu Nida dan suaminya. Bayangan tersebut terhenti ketika kemudian Rif’ah merasa ingin buang air kecil. 

Dengan hati-hati dan pelan, Rif’ah keluar kamar menuju ke WC. Suasana ruangan di luar kamar remang-remang karena lampu di ruangan tersebut telah dimatikan dan Rif’ah tidak tahu tempat saklar lampu. Namun cahaya lampu dapur yang dibiarkan menyala membantu Rif’ah berhasil sampai ke WC. Setelah menuntaskan hajatnya, Rif’ah segera kembali ke kamarnya. Ketika Rif’ah hendak membuka pintu kamar tempat dia tidur, terdengar kembali suara-suara dari kamar Ummu Nida. Suara ketawa, dengusan dan suara-suara aneh membuat Rif’ah berdebar-debar. Tanpa sadar benak Rif’ah teringat film porno yang ditontonnya di warnet beberapa waktu yang lalu. Dada akhwat PKS ini berdegup kencang ketika kemudian matanya melihat seberkas sinar keluar dari lubang kunci pintu kamar Ummu Nida. Rif’ah mengurungkan niatnya masuk ke kamar, akhwat PKS ini justru menempelkan matanya ke lubang kunci tersebut dan sedetik kemudian bola mata Rif’ah membelalak lebar melihat pemandangan yang dilihatnya melalui lubang kunci tersebut. Tubuh gadis cantik ini gemetar (bersambung)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Balada Rif’ah (4)

Melalui lubang kunci tersebut, suasana kamar Ummu Nida terlihat jelas terutama ranjang tempat tidur Ummu Nida dan suaminya. Di ranjang tersebut, Rif’ah melihat Ummu Nida dan suaminya telanjang bulat tanpa selembar pakaianpun menutupi tubuh mereka berdua. Rif’ah sempat tertegun melihat Ummu Nida dalam keadan telanjang bulat seperti itu. Tubuh ummahat berkulit kuning langsat yang telah beranak tiga tersebut ternyata masih kencang dan terlihat montok dengan sepasang buah dadanya yang besar menggelayut di dadanya. 

Kemaluan Ummu Nida juga nampak bersih dari bulu-bulu kemaluan seperti kemaluan Rif’ah hanya bedanya bibir kemaluan Ummu Nida telah menggelambir kehitam-hitaman sementara bibir kemaluan Rif’ah terlihat rapat dengan warna kemerah-merahan. Ummu Nida terlihat bernafsu menciumi sekujur tubuh suaminya hingga akhirnya terhenti di bagian kontol Abu Nida. Tubuh Rif’ah gemetar ketika matanya melihat kontol suami Ummu Nida yang tegak mengeras. Kontol suami Ummu Nida itu besar dan panjang dengan otot-ototnya yang terlihat menonjol, dan terlihat sangat kontras dengan tubuh Abu Nida yang kerempeng. Ummu Nida terlihat sangat bernafsu menjilati dan menciumi kontol suaminya tersebut hingga beberapa lama ummahat ini asyik dengan batang kontol suaminya tersebut. Rif’ah yang melihat keasyikan Ummu Nida hanya mampu terengah membayangkan dirinya juga ikut menjilati kontol suami Ummu Nida yang besar itu. 

Abu Nida terlihat tersenyum-senyum dan terkadang melenguh keenakan menikmati perbuatan istrinya ntersebut. Ketika Ummu Nida kemudian menggenggam kontol suaminya dan diarahkan ke liang kemaluannya, Abu Nida segera membalikkan tubuh montok Ummu Nida sehingga Abu Nida kini berposisi menindih istrinya. Ummu Nida terpekik manja namun beberapa saat kemudian ummahat ini mendesah ketika kontol besar suaminya mulai menembus liang kemaluannya dan beberapa saat kemudian perempuan yang telah beranak tiga ini merintih-rintih jalang ketika suaminya menyetubuhinya. Rif’ah yang melihat adegan tersebut melalui lubang kunci hanya terengah-engah dengan tubuh panas dingin ketika kontol besar Abu Nida menyodok kemaluan Ummu Nida berulangkali. Rif’ah melihat lubang kemaluan Ummu Nida yang tampak lebar karena telah mengeluarkan 3 anak itu seakan tidak muat dimasuki kontol suaminya. Tubuh montok Ummu Nida tampak terguncang-guncang oleh gerakan kontol suaminya sementara kedua payudara ummahat dengan puting susu yang tegak kecoklatan ini tampak dikunyah-kunyah oleh Abu Nida dengan penuh nafsu. Adegan-adegan di ranjang Ummu Nida ini membuat Rif’ah terangsang, jauh lebih terangsang dibanding waktu melihat film porno di warnet sehingga akhwat cantik ini kemudian menggosok-gosokkan kemaluannya sendiri. Rif’ah membayangkan kontol Abu Nida yang besar itu juga menyodok kemaluannya dan kemaluan akhwat PKS ini sendiri telah basah kuyup. 

Ummu Nida merintih-rintih kenikmatan dengan tubuh yang terguncang-guncang.. 

“Ohh…ohhh…ssshh….terusss….enaaaaaak..ahhh” 

“Sst…jangan keras-keras …nanti kedengaran Rif’ah……kasihan dia belum nikah”bisik suaminya membuat Ummu Nida tertawa manja. 

Wajah Rif’ah memerah mendengar obrolan diantara suara-suara persetubuhan suami istri ini yang membicarakan dirinya. Mendadak ada rasa bersalah yang menyergap Rif’ah yang tengah mengintip aktivitas suami istri ini di kamar sehingga membuat Rif’ah berniat kembali masuk ke kamar. Namun niat itu buyar ketika Rif’ah melihat tubuh Ummu Nida mengejang dan memeluk suaminya erta-erat. Gadis cantik ini melihat Ummu Nida rupanya telah sampai puncak kenikmatannya .. 

“Ahhhhh Abiii……Ummi keluarrrr..aaahhhhh..ssshhhh” pekik Ummu Nida sambil memeluk erat suaminya dan melingkarkan kedua pahanya membelit tubuh suaminya dengan pantat yang terangkat tinggi. Rif’ah melihat ekspresi wajah Ummu Nida terlihat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Beberapa saat kemudian Rif’ah melihat tubuh ummahat ini lemas.. 

“Aku belum keluar..sayang”desis Abu Nida yang disambut dengan senyuman lemah istrinya. Rif’ah melihat cukup jelas cairan kenikmatan Ummu Nida keluar dari liang kemaluan yang masih dimasuki kontol suaminya. 

“Tuntasin aja bi..”desis Ummu Nida kelelahan 

Tubuh lemas Ummu Nida kemudian kembali terguncang-guncang oleh gerakan kontol suaminya. Cukup lama tubuh montok ummu Nida terguncang-guncang sebelum akhirnya suami Ummu Nida menggeram lantas memeluk istrinya erat. Laki-laki bertubuh kurus namun berkontol besar itu membenamkan kontolnya dalam-dalam. Tubuh Ummu Nida tersentak ketika suaminya juga mengeluarkan mani dengan bergelombang di dasar kemaluannya. Ummhat inipun balas memeluk suaminya dengan erat. 

Kamar yang semula riuh oleh bunyi beradunya dua tubuh yang bersenggama mendadak sunyi. Hanya terdengar dengus nafas keduanya yang masih berpelukan dengan kontol Abu Nida masih tertanam di kemaluan istrinya. Mata Ummu Nida tampak terpejam dnegan senyum tersungging di bibirnya 

“Aku mau ke belakang dulu” kata Abu Nida sambil mencabut kontolnya dari liang kemaluan istrinya. Ummu Nida mengangguk sambil memandang mesra suaminya. 

Rif’ah yang masih mengintip melalui lubang kunci terkejut mendengar Abu Nida ingin ke WC. Dengan cepat akhwat PKS ini masuk ke kamar tempat dia tidur tanpa menimbulkan suara. Abu Nida ternyata perlu waktu sebelum dia keluar kamar, mungkin dia memakai celana terlebih dulu. Rif’ah yang kini berbaring di pembaringan dalam kamar, mendengar Abu Nida masuk ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian suami Ummu Nida ini kembali masuk ke kamarnya. 

“Main lagi yuk..mi…Ummi belum capek khan” terdengar suara Abu Nida mengajak istrinya yang membuat Rif’ah berdebar-debar mendengarnya. 

“Ah..abi besok lagi aja….ummi capek ..tadi sore habis senam sih” jawab Ummu Nida beberapa saat.”Ummi khan nggak semuda dulu…bi” 

“Ah..ummi khan baru 36 tahun..masih muda”sanggah Abu Nida. 

“Capek bi….Ummi janji besok …saja.”Ummi khan nggak semuda dulu…bi” 

“Ah..ummi khan baru 36 tahun..masih muda”sanggah Abu Nida. 

“Capek bi….Ummi janji besok malem lagi…yah” 

Abu Nida tidak menyanggah lagi. Terdengar beberapa suara sebelum kemudian suasana kamar suami istri ini akhirnya terdengar sepi bahkan beberapa saat kemudian, terdengar dengkur lirih Abu Nida. Rif’ah yang gelisah berbaring di kamar sebelah itupun tak berapa lama kemudian akhirnya ikut tertidur. 

Pagi harinya…. 

Rif’ah terbangun ketika mendengar pintu kamar diketuk-ketuk cukup keras oleh seseorang. 

“Dik Rif’ah…ayo bangun sudah siang..”ujar orang yang mengetuk-etuk pintu yang tak lain adalah Ummu Nida. 

“Ya..ya mbak…”jawab Rif’ah meloncat bangun lantas segera menyambar jilbabnya. Di rumah Ummu Nida, Rif’ah memang harus selalu berjilbab jika di luar kamar karena khawatir terlihat suami Ummu Nida, barus etelah Abu Nida pergi ke kantor, Rif’ah baru bebas membuka jilbabnya, 

“Kok sampai kesiangan…ayo cepat sana”kata Ummu Nida melihat Rif’ah muncul dari kamar. 

“Yaa..yaa..mbak” sahut Rif’ah sambil bergegas ke kamar mandi. 

Begitu di kamar mandi, Rif’ah segera mandi mengguyur tubuhnya karena semalam dia telah bermasturbasi. 

Ummu Nida yang mendengar suara Rif’ah mandi hanya tersenyum penuh arti. 

“Kok mandi dik….mimpi apa yah semalam….kangen sama Faizah ya?”goda Ummu Nida begitu Rif’ah keluar dari kamar mandi. 

“Ah..nggak mbak…jijik malah ngebayangin Faizah”sergah Rif’ah 

“Makanya nikah…..banyak ikhwan yang mau sama anti kok, atau mau mbak carikan” 

Rif’ah hanya tertawa dan segera masuk ke kamarnya kembali. 

Tak berapa lama kemudian Rif’ah keluar kamar dengan jilbab lebar dan jubah panjangnya. Akhwat PKS ini segera pergi ke dapur ketika di dengarnya Ummu Nida sibuk di dapur. 

Ummu Nida tersenyum melihat Rif’ah muncul di dapur. 

“Memang semalam mimpi apa kok sampai basah segala?”todong Ummu Nida membuat Rif’ah tergagap. 

“Ah mbak ini….mbak juga pagi-pagi dah mandi” ujar Rif’ah balik menggoda melihat rambut panjang yang dimiliki Ummu Nida tampak basah. 

Ummu Nida yang tengah menggoreng telur itu tertawa mendengarnya. 

“Wajar dong dik…namanya juga wanita bersuami..anti tahu apa masalah itu” 

Rif’ah memandang sekujur tubuh Ummu Nida yang berbalut daster warna hijau nampak kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Rif’ah teringat kembali tubuh bugil Ummu Nida yang dilihatnya semalam. Tubuh ummahat separuh baya yang berkulit kuning langsat memang montok dan menggiurkan. 

“Ngomomg-ngomong umur mbak berapa?” 

Ummu Nida menoleh ke arah akhwat cantik ini. 

“Emang kenapa?….coba tebak” 

“Mbak masih keliatan muda….mungkin 33 tahun” 

Ummu Nida tersenyum mendengarnya. Umu Nida terlihat berpikir sesaat 

“Tahu Intan Savitri, Izzatul Jannah..cerpenis itu?” 

Rif’ah mengangguk. Akhwat PKS mana yang tidak kenal dengan cerpenis kondang tersebut, apalagi Rif’ah satu kota dengannya dan dia memang mengenal cerpenis itu secara pribadi. 

“Dia adik angkatan.satu tingkat di kampus” 

“Oo…..kalo gitu berarti mbak sekitar 36-37..soalnya setahuku mbak Ije udah 35 th..?” 

“Ya sekitar itu…” 

“Tapi tubuh mbak masih kencang, sintal…. padahal anak pertama mbak Nida juga sudah 11 tahun, pantesan abinya betah..lagian wajah mbak cantik” 

“O’ya…tapi dibandingkan dik Rif’ah masih kalah..ibaratnya mbak dapat nilai 6, dik Rif’ah 8” 

“Tapi payudara mbak gede..” sergah Rif’ah sambil memandang dada Ummu Nida yang membusung 

“Yah dulu waktu seumur dik Rif’ah..payudara mbak juga segede dik Rif’ah..tapi setelah punya anak jadi bengkak kayak gini, entar kalo dik Rif’ah punya anak juga akan segede mbak” 

Rif’ah tertawa mendengarnya. 

Ummu Nida menoleh ke arah Rif’ah 

“Daripada nganggur, tolong dik Rif’ah.. nasinya diletakkan di meja makan…abinya mau makan dulu nanti baru kita, dia lagi buru-buru” 

Rif’ah mengangguk sambil membawa magic jar berisi nasi hangat ke meja makan. 

Langkah Rif’ah sempat terhenti ketika dia melihat Abu Nida tampak bermain-main dengan Ayyash, anak mereka yang paling kecil dan baru berumur 2 tahun. Laki-laki ini duduk di kursi yang dekat meja makan sementara Ayyash tampak bermain-main di lantai. 

Sedikit gugup, Rif’ah meletakkan magic jar di meja makan. Rif’ah sempat melirik ke arah Abu Nida terutama di bagian selangkangan suami Abu Nida. Terbayang kembali kontol suami Ummu Nida yang dilihatnya semalam. Namun ketika matanya kemudian memandang wajah pria berbadan kurus ini, Rif’ah kaget ketika ternyata suami Ummu Nida ini tengah memandanginya. Rif’ah menjadi gugup luar biasa dan dengan tergesa-gesa, magic jar itu diletakkan di meja makan dan segera kembali ke dapur. 

“Kenapa dik?’tanya Ummu Nida. 

“Nggak papa..mbak..ada tikus..bikin kaget” jawab Rif’ah tergagap. 

“Oo..” Ummu Nida tersenyum geli. 

Rif’ah berusaha menenangkan diri dan meyakinkan diri kalau Abu Nida memandanginya bukan karena perbuatannya semalam. Terbayang kembali kejadian semalam dan dia yakin Abu Nida tidak memergokinya mengintip ke dalam kamar mereka berdua. Rif’ah meyakini bahwa pandangan Abu Nida tadi tak lebih sekedar kekaguman kepada kecantikan wajah yang dimilikinya. Selama ini banyak pria yang betah memandangnya lama-lama bahkan di kalangan ikhwan PKS sendiri dan Rif’ah menganggapnya wajar saja. 

Setelah …
…Setelah Abu Nida pergi ke kantor, barulah Rif’ah merasa bebas. Seharian di rumah Ummu Nida, Rif’ah hanya sekedar membantu Ummu Nida sebagai ibu rumah tangga. Memang berulangkali kali Faizah menelpon dan sms ke hpnya tapi atas saran Ummu Nida, semuanya tidak usah dilayani. Ummu Nida menyatakan akan membantu Rif’ah menghadapi Faizah dan Rif’ah yakin kalau Ummu Nida akan dapat mengatasi Faizah karena dari yang dipahaminya, kemampuan beladiri Ummu Nida lebih tinggi dari Faizah lebih dari itu Ummu Nida berjanji untuk mengusir Faizah dari tempat kost dan memecatnya dari keanggotan Santika di DPD PKS. 

Malam harinya, walaupun sebelumnya seringkali diliputi rasa bersalah, Rif’ah tak mampu menahan diri untuk kembali mengintip aktivitas Ummu Nida dan suaminya di kamar. Bahkan kali ini persetubuhan sepasang suami istri ini lebih hebat dan lebih lama daripada malam kemarin sebagaimana yang dijanjikan Ummu Nida kepada suaminya. Rif’ah hanya mampu gemetaran di depan lubang kunci pintu kamar suami istri tersebut mengintip persetubuhan mereka berdua yang membuat gadis cantik aktivis PKS ini akhirnya bermasturbasi seperti kemarin malam. Namun tidak seperti kemarin malam, kali ini Rif’ah segera mandi seusai masturbasi baru kembali tidur. 

“Dik Rif’ah suka mandi malam yah?” tanya Ummu Nida beberapa hari kemudian setelah Rif’ah sering mandi malam seusai masturbasi sambil ngintip ummahat ini bersetubuh dengan suaminya.. 

“ Enggh…Ya mbak..kebiasaan di kost…biar seger aja” jawab Rif’ah sedikit grogi 

Untuk menutupi kegugupannya Rif’ah balik bertanya 

“Mbak kok tiap pagi keramas?”. 

Ummu Nida terkejut mendengar pertanyaan Rif’ah yang tidak diduganya. 

“Nggak tahu tuh abinya…..”jawab Ummu Nida sambil tertawa lepas. 

Tak terasa hampir seminggu Rif’ah di rumah Ummu Nida dan hampir tiap malam Rif’ah mengintip aktivitas malam Ummu Nida dan suaminya sehingga membuat akhwat PKS ini sangat hapal betul lekak-lekuk tubuh suami istri ini. Rif’ah juga hafal betul bentuk dan ukuran kontol Abu Nida bahkan gadis ini hafal kalau di pangkal kontol suami Ummu Nida itu terdapat 2 buah tahi lalat yang cukup besar. Rif’ah merasa takjub ketika selama akhwat ini tidur di rumah Ummu Nida, tiap malam suami istri ini bersetubuh dan yang mendebarkan Rif’ah, gadis ini tahu suami Ummu Nida-lah yang selalu meminta bercumbu tiap malam. Aktivitas mengintip suami istri itu ternyata telah menjadi candu tersendiri bagi Rif’ah dan akhirnya membuatnya sering berkhayal disetubuhi Abu Nida karena diam-diam Rif’ah mengagumi keperkasaan Abu Nida menyetubuhi istrinya tiap malam. 

Tepat 6 hari Rif’ah berada di rumah Ummu Nida ketika pagi itu Rif’ah diajak bicara oleh Ummu Nida. 

“Dik Rif’ah…maaf mbak baru cerita sekarang .kemarin sore Faizah datang ke kantor DPW PKS cari dik Rif’ah…..” 

Rif’ah tegang mendengar pembukaan cerita Ummu Nida. Ditatapnya ummahat ini dalam-dalam. Ummu Nida mengibaskan sejenak rambutnya yang basah setelah keramas pagi tadi. 

Rif’ah tahu betul kalau semalam Ummu Nida telah disetubuhi suaminya kemudian bekas cupang di leher yang terlihat memerah juga bekas gigitan suaminya., bahkan di balik jubah panjang yang dipakainya pagi ini Rif’ah tahu bahwa payudara, perut dan selangkangan Ummu Nida penuh dengan cupang bekas gigitan suaminya tadi malam. 

“Terus mbak….”desak Rif’ah sambil mengusir bayangan cupang di leher Ummu Nida yang membuatnya teringat persetubuhan suami istri yang dilihatnya semalam.

”Mbak ceritakan semuanya. Mbak cerita kalau mbak tahu aktivitas dia dan dik Rif’ah, mbak nasehati agar dia insyaf karena perbuatan itu adalah perbuatan yang tidak wajar…….” 

Rif’ah semakin tegang mendengarnya.. 

“Faizah marah…dan itu membuat mbak marah…dan mbak katakan mbak akan usir dia dan pecat dia dari Santika DPD dan mbak akan ingatkan kepada seluruh akhwat PKS agar berhati-hati dengan dia, akhwat lesbian…. dia ngajak berantem dan hampir mbak layani untunglah dilerai akhwat-akhwat lainya.” 

Rif’ah tertegun melihat wajah Ummu Nida yang tampak memerah, tangannya kini menimang-nimang HP Nokia miliknya. 

“Kemudian dia keluar dari kantor DPW PKS tanpa bicara apa-apa…mbak diamkan dan mbak sms minta maaf kalau telah berbuat kasar kepadanya dan mbak uga sms bilang belum ada yang tahu jadi masih ada kesempatan memperbaiki diri….eh dasar kurang ajar anak ini.. dia malah menantang” 

“Menantang bagaimana?” 

“Anak ini SMS kalau dia menantang mbak bertarung, jika kalah dia bersedia untuk dikeluarkan dari PKS secara tidak hormat dan dia berjanji untuk tidak mengganggu dik Rif’ah lagi….” 

“Terus…”. 

“Kalau dia yang menang, dia minta jabatan komandan Santika di DPD dan ingin satu kost lagi dan satu kamar dengan dik Rif’ah…” 

Rif’ah ternganga mendengarnya. Wajah cantiknya kontan pucat pasi mendengar ucapan Ummu Nida. 

“Kalau misalnya dik Rif’ah tidak mau…dia minta wanita pengganti untuk memuaskan nafsunya yang menyimpang” 

Wajah Rif’ah sudah pucat pasi dan gadis cantik berjilbab ini hanya tertegun tak mampu berkata apapun. Ummu Nida tersenyum. 

“Tapi tenang aja dik…anak itu tidak mungkin menang” tandas Ummu Nida, ”dia khan baru sabuk hijau..masih dua tingkat di bawahku, kalaupun naik paling banter dia sabuk coklat” 

“Jadi mbak sudah mengiyakan tantangannya?” 

Ummu Nida mengangguk 

“Tempatnya nanti di Markas DPD Kota.. dan Ummu Rosyid, komandan Santika DPD yang akan menjadi juri” 

Rif’ah mengenal Ummu Rosyid, seorang ummahat PKS mantan menwa saat dia masih kuliah dan suaminya adalah ketua DPD PKS Kota itu.

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Balada Rif’ah (5)

Sesampainya Ummu Nida dan Ummu Rosyid di kantor DPD, gedung itu terlihat lengang. Sama sekali tidak ada aktivitas perkantoran seperti hari-hari biasa. Ummu Rosyid membuka pintu utama dengan kunci yang dibawanya. Sebagai seorang kader senior, Ummu Rosyid memang diberi kepercayaan untuk memegang kunci kantor DPD. Kedua ummahat yang masih bertubuh sintal itu pun langsung menuju ke ruang serbaguna yang ada di bagian belakang gedung DPD untuk bersiap-siap.

Tak berapa lama kemudian, mereka mendengar suara motor yang tengah diparkir di halaman depan. Mereka pun langsung tahu siapa pemilik motor tersebut. Dengan ketukan sepatu kets yang berdecit, Faizah juga memasuki ruang serbaguna tersebut.

“Assalamualaykum Ummu Nida, Ummu Rosyid,” ujar akhwat berkulit gelap itu sambil tersenyum.

“Waalaykumsalam warahmatullah, Faizah,” jawab Ummu Nida yang kemudian diikuti juga oleh Ummu Rosyid.

Tanpa basa-basi, Faizah langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, sementara Ummu Nida sudah siap dengan pakaian bela dirinya.

***

Rif’ah begitu kesal, dosen yang harus ditemuinya di kampus hari ini berhalangan hadir. Ia pun kembali pulang ke rumah Ummu Nida. Untung Ummu Nida telah meminjamkan kunci serep kepadanya.

Sambil memainkan HP di dalam kamar, Rif’ah begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kantor DPD. Sebenarnya ia begitu ingin menonton langsung duel antara Ummu Nida dan Faizah, karena hasil duel tersebut akan menentukan kelanjutan hidupnya. Namun ia juga membenarkan nasihat Ummu Nida, kalau kehadirannya di sana bisa membuat Faizah melakukan hal yang tidak-tidak.

“Tokk, tok …” Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Rif’ah. Dalam kondisi setengah terkaget, ia yang masih mengenakan jilbab panjangnya langsung melompat dan setengah berlari ke arah pintu.

Rif’ah hanya membuka pintu itu sedikit, dan ternyata sudah ada Abu Nida yang berdiri di sana. Ia masih mengenakan baju koko berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, pakaian yang sama dengan yang dikenakannya ketika berangkat tadi pagi. “Ada apa, Abu? Tumben sudah pulang.”

“Iya, setelah mengantarkan Ayyash, Abu baru sadar kalau dompet Abu ketinggalan. Sekarang Abu cari tidak ketemu, bisa Rif’ah bantu Abu mencari?” ujar Abu Nida sambil tersenyum.

Di mata Rif’ah, senyum Abu Nida itu begitu jantan dan menenangkan. Tanpa kecurigaan sedikitpun, ia pun menuruti perintah Abu Nida. “Di mana terakhir Abu melihat dompet Abu?”

“Di kamar Abu dan Ummi, Ukhti Rif’ah.”

Rif’ah pun langsung menuju kamar Abu Nida dan Ummu Nida, sementara Abu Nida mengikuti dari belakang. Walau masih tertutup jubah dan jilbab panjang, tubuh Rif’ah yang seksi masih bisa terlihat jelas, apalagi bokongnya yang begitu montok dan menonjol. Hal inilah yang sejak lama menghantui pikiran Abu Nida. Karena itu begitu Ummu Nida mengatakan kalau Rif’ah akan menginap, ia langsung mengiyakan. Namun, sebenarnya ia tidak sampai membayangkan akan berduaan saja dengan junior istrinya itu seperti ini.

Di dalam kamar, Rif’ah langsung mencari dompet Abu Nida di seantero ruangan. Ia bahkan sampai menungging untuk mencarinya di kolong tempat tidur. Ketika ia berdiri, tiba-tiba sepasang tangan telah merangkul tubuhnya dari belakang. Rupanya Abu Nida sudah langsung berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh akhwat cantik yang montok dan sintal ini. Mungkin karena tidak ada ruang gerak lagi akhirnya Rif’ah pasrah dirinya dipeluk Abu Nida dari belakang. Selain itu Rif’ah sendiri sering berkhayal untuk berdua dengan Abu Nidal. Tercium bau wangi shampoo dari rambutnya. “Aduh dik Rif’ah, rambut kamu wangi,ya” sambil tangan Abu Nida meraih rambut Rif’ah dengan memasukkan tangannya ke dalam jilbab panjang yang dikenakan akhwat cantik ini.” Abu Nida jangan, aku geli, Abu” , “Emang dik Rif’ah nggak pernah buat kayak gini?”,” Ngak pernah Abu, saya nggak pernah dipeluk…” ,”Aah masak?” Abu lalu kembali memeluk perut Rf’ah dari belakang. Tampak dari cermin wajah akhwat cantik ini terkejut dan memerah. Waktu Abu Nida menaikan pelukan di dadanya, tangan akhwat cantik ini disilangkan ke depan dadanya.” Abu Nidal, apaan sih aku malu, Abu..” sambil dia berputar ke arah depan Abu Nida. Abu Nida melihat wajah Rif’ah yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat Abu mempererat pelukan hingga wajah mereka mendekat, tidak lama bibirnya segera dilumat Abu Nidal. Pertama lidah Rif’ah begitu pasif, tangannya sudah memeluk badan Abu. Abu Nida merasakan badan akhwat cantik ini gemetar menyambut ciuman, detak jantung mereka seolah seirama. Saat bibir akhwat cantik ini terbuka Abu memasukkan lidahnya. Ragu-ragu Rf’ah menyambut lidah Abu Nida. Libido Rf’ah terpacu dan gairah seksnya meninggi. Perlahan tangan Abu Nida menyusuri punggungnya dan menarik resliting jubah khawat cantik ini ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Abu Nida meraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Perlahan kaitan bra Rif’ah dibuka Abu Nda. Abu Nidda merasakan semakin diraba, nafas akhwat cantik ini menjadi berat dan pendek-pendek. “Abu jangan, abuu…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tangan Abu mulai menjamah ujung celana dalam yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tangan Abu yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…Abu Nidaaaa…”. Tangan Abu Nida meremas lembut gundukan pantat akhwat cantik ini, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tangan Abu. Kukunya mencengkram erat punggung Abu Nida. Ciuman Abu pindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Rif’ah dengan memasukkan kepada di balik jilbab akhwat cantik dan sintal ini.

Perlahan Abu Nida mencupang leher putih itu, “ Eerrrrhh…abuuu…” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuh Abu, saat tangan Abu Nida yang menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tangan Abu telah melorotkan celana dalam akhwat cantik ini. Tangan kanan Abu membelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh…..abuuu, aku geli” tiap kali Abu menyentuh anusnya. Ciuman Abu Nia telah meninggalkan cupang merah di leher akhwat cantiik ini, tangan Abu meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke dadanya yang montok dan masih kenceng ini, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibir Abu ikut turun ke dada montok akhwat cantik ini, bra yang telah terlepas melonggar dan memberikan kesempatan Abu untuk mengecup payudaranya. Sementara tangan Abu telah berpindah menyusuri ketiaknya.

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki-laki, tangan Abu menyusuri memutar kedua payudara, kecupan menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuh Rif’ah kian menyusup menahan kenikmatan,” Abu, abuu, aku geli abuuu” kedua tangannya merangkul dan menekan kepala Abu ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Abu Nida menempelkan telinga ke dada montok akhwat cantik ini, detak jantung terdengar semakin kencang. Tiba-tiba Abu membalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tanggan Abu Nida telah memegang payudaranya, kedua putingnya ditaruh di antara jari-jari Abu, kemudian secara cepat Abu Nida melucuti jubah yang separuh menutupi tubuh akhwat cantik ini berikut celana dalam dan branya. Abu Nida cepat membuka baju dan celananya sendiri. Abu Nida mendudukkan Rf’ah ke pangkuannya, tangan kanan akhwat cantik ini diarahkan ke penisnya. Rif’ah terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi Abu Nida buru-buru merapatkan badannya, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu Abu Nida menarik puting dadanya dengan tangan kiri. “Och.., abuuu” lirihnya. Dengan jari Abu Nida memlintir puting yang masih kenceng itu. Tubuh Rif’ah mengejan, punggungnya menempel ke dada Abu dan tangan kanannya meremas penis Abu dengan lembut. ”Enak dik Rif’ah??”, “Aah…abuuu” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibir Abu Nidda tak henti-henti mengecup tengkuknya dan tangan Abu aktif menarik kedua puting hingga badan akhwat cantik ini bergemetaran. Abu memangku Rifah di atas paha, Abu Nida membuka ke dua paha akhwat antik ini hingga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya diarahkah Abu ke belakang, Abu Nida mencium bibirnya dengan lidah merekka saling membelit, kemudian tangan Abu Nida turun membelai helaian jembutnya. Tangan kiri Abu Nida yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis. Mengingat Rif’ah adalah seorang akhwat cantik yang alim, sehari-hari memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk-lekuk yang tertutup itu bisa dilihat dan dinikmati Abu Nida. Putingnya telah memerah karena ditarik dan dipilin Abu Nida, keringat deras mengalir di dada dan punggung akhwat cantik ini, tangannya tetap meremas-remas penis Abu dengan lembut. Ketika tangan kanan Abu mulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Abu Nida mencari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika Abu Nida mendapatkan lalu ditekan perlahan “Owwwuuuhhhhh….abuu, kau apakan tubuhku ini abuu?”, ”Rilex dik Rif’ah, enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….” Rif’ah  hanya merancau sambil meremas penis Abu. Tangan Abu kemudian mengusap ke klitoris akhwat cantik ini. ”Sssssssttttts, aaaah” ketika tangan Abu  menyapu klitorisnya. Perlahan tangan kiri Abu turun menelusuri labia mayora. Abu Nidda menarik salah satu labia mayora, digosok dengan jempol dan jari telunjuk. ”Abuu….geli….”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua paha Abu Nida.

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan Abu Nida dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Abuuu…pingin pipis….”. “Pipis aja dek Rf’ah. Ngak usah ditahan”, Abu mempercepat putaran tangan pada klitorisnya. ”Aah…ah….ah…..Abuuu aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas paha Abu. Abu Nida merasakan klitoris akhwat cantik ini berkedut-kedut dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi paha Abu. Abu melihat dari cermin di mana dadanya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah Abu menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, Abu menurunkan perlahan dari pahanya dan menidurkan akhwat cantik yang montok dan sintal ini di dipan kamar itu. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Abu menurunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus dikulum bibirnya, lidah mereka kembali saling membelit. Ketika Abu mengangkat kepalanya, kepala akhwat cantik ini juga juga terangkat seolah tidak mau melepas bibir Abu Nida. Abu Nida mengambil posisi di samping kanan Rif’ah, tangan kiri Abu merangkul pundak akhwat cantik ini melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Perlahan bibir Abu  nida turun ke leher akhwat canetik ini dan tangan kanannya mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidah Abu berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Rif’ah. Dada Rf’ah terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidah Abu Nidda menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepala Abu. “Dik Rif;af boleh aku mencium putingmu?” wajah akhwat cantik ini memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Abu Nida menyergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah, menghisap lembut dan menjilat dalam mulutnya melingkar-lingkar. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggung Abu Nida dan tangan kirinya menekan kepala. Abu Nida merasakan keringat asin dari puting akhwat cantik ini dan merasakan getaran tubuhnya yang menandakan kalau Abu Nida adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiri Abu Nida aktif memilin puting yang lain, tangan kanan menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki-laki. Kemudian bibir Abu Nida beralih ke puting kanan meninggalkan bekas gigitan di sekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Rif’ah di saat putingnya tenggelam di bibir Abu Nida. Abu menggigit lembut, menarik ke atas, Rif’ah meremas-remas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkuk Abu Nida. Sementara tangan kanan Abu menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari memek akhwat cantik ini, Abu mengusap vaginanya dan menggunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Mata akhwat cantik ini kembali mendongak bergetar, hanya terlihat putih di kelopak matanya. Abu menggigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tangan Abu melesat mengangkat pantatnya, terlihat warna pink di sekitar kemaluan hingga membangkitkan gairah Abu Nida. ”Abu Nida …. jangan…”, saat Rif’ah melihat kepala Abu berada di antara dua pahanya, dengan lembut Abu menjilat klitorisnya, ”Aah….abuu…, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalanya kembali terdongak. Abu Nida mamasukkan ujung klitorisnya ke bibirnya sampai semua masuk ke bibir abu, Abu Nida menggigit pelan-plan. “Aah…aah…aduh….Abuuu…. aku ngilu” . Kedua paha akhwat cantik ini menjepit erat kepala Abu Nida.” Abuu….aku mau pipis lagi abuu” kepala Abu tersanggkut.

Di paha Abu Niada air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidah. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Rif”ah. Abu Nida mengamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar-benar menggetarkan, lalu Abu Nida membuka paha akhwat cantik itu dan menindih tubuhnya. Tiba-tiba Rifah membuka matanya, “ABU Nida jangan, aku masih perawan. Kasihani aku abu”, setitik air mata keluar dari ujung matanya. Abu Nida pun kembali beringsut ke sisinya. ”Te..terimakasih abu, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik Rif’ah. Maafkan aku khilaf”. Lalu dia bangkit duduk di dipan, matanya melihat burung Abu Nida yang mengacung keras. ”Iih….abuu masih terangsang?”, “Iiya dik Rif’ah khan aku blom nyampe tadi”. Tiba-tiba tangan Rif’ah meraih penis Abu. “Ini ya Abu yang namanya kontol? Ih ngeri aku”. “Ngeri kalau diliat, klu dirasain entar juga enak”. “Aah aku ngak mau, abuu. Aku khan masih perawan”. ” Eeh sapa suruh masukin memek, masukin ke lainnya juga boleh.” rayuan Abu Nida mulai mengenai, Rif’ah mulai meremas-remas penis Abu. ” Maksudnya Abuu??”, “ Masukkin
mulut dong…”, “ Ngak ah, jijik……”,” bentar aja…..ya udah klu nggak mau kamu cium bentar aja. Tadi aja aku udah jilatin memekmu”

Dengan ragu Rif’ah mendekatkan penis Abu Nida ke bibirnya. Awalnya hanya satu kecupan kemudian disusul dengan kecupan-kecupan yang lain. Kemudian perlahan penis Abu Nida dijilat-jilat, kemudian Rif’ah membuka mulutnya dan memasukkan kepala penis ke dalam mulutnya. Rasa ngilu langsung menyergap Abu. ”Aduh dik Rif’ah, jangan pake gigi……”, perlahan-lahan penis Abu ditelan bibirnya yang seksi itu, rasa hangat dan nikmat terasakan.  Sekarang tampak pemandangan gadis berjilbab lagi menghisap kontol Abu Bida, Abu Nida semakin terangsang. Selama 20 menit Rif’ah memainkan kontol Abu di dalam mulutnya. ”Aduh abuuu…aku pegal”. ”Oke mending kamu di sini berbaring aja”.
Rif’ah beringsut mengambil posisi tidur di sebelah Abu Nida. Dia menggaruki selangkangnya ”Kenapa dik Rif’ah?”, ” Gatal abu ”O ohhh…itu normal tadi khan darahnya ngumpul di ujung”, sambil tangan Abu Nida membelai klitoris akhwat cantik ini yang ternyata masih memerah dan keras “ssshhhh…abuuu…” sambil dia merapikan jilbabnya. Jilbab yang dikenakan adalah semacam jilbab lebar yang dikaitkan dengan peniti jadi ada belahan di tengah. Kembali tangan Abu menyusup ke dalam jilbabnya dan mengelus-elus payudara akhwat cantik ini. Matanya kembali sayu karena tubuhnya kembali dikuasai rangsangan.

” Dik Rif’ah, anti percaya khan Abu ngak bakal bobol perawanmu”, “Rif’ah percaya, abu…. Trus hrs gmn?”. ”Ana pingin ngesekkin konto ana ke paha anti boleh, khan?”. ”Cuma paha? Boleh abu tapi janji ya?” Lalu Abu Nida menindih Rif’ah. ”Oke sekarang pahamu rapatkan”. Rif’ah merapatkan pahanya.  ” Dik Rif’ah, buka dikit pahanya trus rapetin lg, ya”. Rif’ah mengangguk dan membuka pahanya, Abu Nida menempatkan kontolnya di antara paha akhwat cantik ini, kemudian dirapatkan lagi. ” Udah dik Rif’ah? Ngak kena lubang khan?”, ” Iiya abuu…” Abu Nida menarus tanganku di atas dada akhwat cantik yang masih tertutup jilbab ini. ”EEehhhhhh….abu… geli banget udah hampir ke lubang”. Abu Nida mengatur kedua tangannya di belakang punggung akhwat canik ini. ”Segini?”, ”Iya abuu…”. Pelan-pelan Abu Nida mulai menaik turunkan kontolnya, secara perlahan gerakan kontol Abu mendekati lubang memek Rif’ah.”Enak, dik Rif’ah??” Abu Nida menatap wajah akhwat cantik yang dibalut oleh jilbab itu, wajahnya bersemu merah, ia membuang muka, Abu Nida mencium bibirnya yang merah kesedot bibir bawahnya dan menjilati bibir atasnya. Rif’ah menutup matanya seolah merasakan desakan birahi, gerakan benar-benar sudah tepat di lobang memeknya, hal itu ditandai bunyi kecipak. ”Abuu?”, ”Hmmmmm?”, ”Aku mencintaimu….aku mengagumimu”. Semakin Abu Nida mempercepat Rifa’h semakin mengelinjang, semakin tersingkap jilbab yang menutupi payudaranya, Abu menggigit pelan putingnya, perlahan pahanya melebar ke kiri ke kanan. Kontol Abu telah menggesek memek Rif’ah yang telah basah.

Memandang Rif’ah yang sudah terserang birahi membuat dada Abu seolah meledak, Abu Nida menaruh tangan di atas payudara akhwat cantik ini sementara tangan satunya membantu kontolnya untuk menggosok vagina Rif’ah. Perlahan kontol Abu mendesak masuk ke memek Rif’ah, perlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Abuuu..…trus….abuuu…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hati Abu Nida menguasai pikirannya. Abu Nida melambatkan gesekan mencabut ujung kontol dari memek Rif’ah, Abu Nida menghempaskan tubuh ke samping Rif’ah. Perlahan Rif’ah membuka mata. ” Kenapa Abuu? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”, “Tidak, maafkan aku. Aku hampir merengut kesucianmu”. ”Hah? Kenapa berhenti Abuu”. ” Aku juga sering mengagumi, dik Rif’ah”.

Tiba-tiba Rif’ah memeluk Abu,” Kau sungguh laki-laki yang menepati janji. Ijinkan ana melayani antum Abuu…”, lalu Rif’ah menaiki tubuh abu nida. ”Aku juga kan menggesek pahaku, abuuu”. Perlahan tapi pasti kontol Abu Nida bergesekan dengan klitorisnya, kontol abu nida ditindih dengan rapat dengan posisi horisontal. Kontol Abu Nida perlahan menjadi basah oleh lendir kewanitaan akhwat cantik ini, dengan menggunakan jari kanan Abu Nida meraba klitorisnya yang menyebabkan lubang kenikmatannya mundur ke belakang sehingga tepat di atas kontol Abu. Rangsangan jari Abu Nida ini membuat Rif’ah menggeleng-gelengkan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat rambutnya menyembul, tangan Abu Nida meraih puting susu akhwat cantik ini yang tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulut Abu dengan sekali gerakan k Abu Nida meraih puting kirinya, dengan bibir digigit pelan-pelan dan dikulum dengan buasnya. Perlahan tangan Abu berpindah menarik punggungnya agar dada akhwat cantik ini dirapatkan ke dadanya, rasa hangat menerpa dada Abu keringat mereka saling menyatu.

Abu Nida menempatkan kontol ke posisi vertikal. Rif’ah kemudian mengesek naik turun kontol Abu Nida yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibir Abu Nida menggigit lembut pundak akhwat cantik ini dan tangannya mengelus pantat bulatnya, Abu Nida menarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolnya. Wajah horny Rif’ah sungguh luar biasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jari Abu menusuk-nusuk memeknya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontol Abu Nida masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah mereka saling bertautan, nafas mereka semakin memburu. Kepala kontol Abu Nida tenggelam di gerbang vagina Rif’ah, tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batang Abu Nida hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, Abu Nida merasa itu adalah selaput daranya. Abu Nida melihat Rif’ah tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. Abu Nida melihat seberkas keraguan, tapi di saat ujung topi baja kontol itu keluar dengan cepat Rif’ah memasukkan kembali sebatas penghalang. “ Miliki ana, Abuu…”.

Kemudian dengan menarik nafas panjang Rif’ah menaikkan tangannya di atas dada Abu, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukkan seluruh batang kontol abu hingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…abuuu, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuh abu. Abu Nida mengangkat pantat agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. Mereka terdiam sesaat, Rif’ah mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih Abu, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan-pelan”. Perlahan Rif’ah mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……Abuu….”, kemudian tubuhnya diangkat ke atas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok ukhti Rif’ah, biar Abu lihat”. Rif’ah berjongkok dengan kontol Abu yang masih tersarung di memeknya, Abu melihat darah merah mengalir di sela-sela kontolnya. ”Sssshhhhtttt…ah…abuu, aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Abu Nida menahan pinggul akhwat yang sintal itu agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. “Abu…abuu…abuu…ouch” kontol abu keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

Rasanya kontol Abu Nida dipilin-pilin oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Rif’ah. Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontol Abu Nida seiring dengan makin terangsangnya Rif’ah. Lututnya kembali diturunkan, jembut mereka menyatu. Tangan Abu aktif meremas dan memilin puting akhwat cantik ini. Gesekan yang dirasakan kontol Abu Nida keluar masuk vagina Rif’ah semakin terasa ditambah denyut-denyut di dalam memeknya tiap kali Rif’ah memasukkan kontol abu, aAbu Nida mengangkat pantat dan pinggul agar penetrasi semakin dalam.

” Abu ana mau nyampe…”, “iya ukhti kita sama-sama, di dalam apa di luar?” Rif’ah tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, abu juga merasakan ujung kenikmatannya akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek-pendek dan berat. ”Ukhty Rif’ah, Abu juga mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama lahar Abu sudah mendesak keluar. ” Ukhty ….. Abu nyampe…….ah….” dengan kerasnya Abu Nida mengangkat pantatnya, laharnya menyembur memenuhi lorongnya., Rif’ah masih bergoyang di atas kontok abu.

“Abuuu…aku juga…..” Tiga goyangan Rif’ah mengejan di atas tubuh Abu, Abu merasakan tubuh akhwat cantik ini melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dada abu, tangannya memeluk tubuh abu dan kukunya menancap di punggung abu, dada mereka saling menempel hingga Abu Nida merasakan detak jantungnya yang cepat. Kontol Abu Nida serasa diurut-urut oleh vagina akhwat cantik ini, tangan abu memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telinga abu. Setelah birahi melanda, keringat mereka saling melekat satu sama lain. Abu Nida membiarkan Rif’ah beristirahat di atas tubuhnya, tak lama kemudian kontol Abu Nida mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir mereka meleleh turun mengalir di sela paha dan membasahi sprei.

Rif’ah menggeser tubuhnya di sebelah Abu Nida dengan posisi miring dia memeluk. Tampak wajah cantik dan hidung yang mancung dipenuhi buliran keringat, Abu Nida mencium kening dan rambutnya. “Maafkan ana Ukhty Rif’ah”, “ Kita khilaf abuu, bagaimana kalau ana hamil abuuu?”, “ Kamu jadwal mens kapan?”, “ 3 hari yang lalu aku selesai mens, abuu”, ”oh berarti ngak bakal hamil, karena anti blom subur”

Abu Nida lega mendengar hal itu. Lima menit kemudian Rif’ah bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, Abu Nida mengamati jalannya agak mengkangkang dengan sekali-kali tangannya mengusap selangkangannya. Abu Nida kemudian melepas sprei yang bernoda darah dan bercampur dengan spermanya sendiri, agar Ummu Nida istrinya tidak mengetahui kejadian barusan. Setelah 10 menit Rif’ah kembali ke kamar dengan keadaan jilbab yang terpasang rapi dengan tubuh yang masih telanjang.

”Abu kok kayaknya di selangkangan ana kok masih ada yang nyangkut? Terus labia mayoraku kok tambah lebar?”, tanyanya lugu ke Abu Nida. “Biasa kalau pertama ML, masih peret berarti” sambil tangan Abu Nida mengusap klitorisnya. Plak, tangannya memukul punggung Abu “ Abu jangan, aku geli. Khan udahan. Mana bra dan cd ku abuus?” MerekaKami mencari bra dan celana dalam Rif’ah yang terselip di sprei yang dibereskan Abu Nida tadi. Cukup lama mereka mencarinya, dengan tubuh yang bugil dan hanya mengenakan jilbab saja Rif’ah berjongkok di atas kasur melihat barangkali dalamannya jatuh ke samping tempat tidur. Pantatnya menungging ke arah Abu memperlihatkan belahan memeknya yang masih segar kemerahan, tak terasa kontol Abu Nida mulai bangun lagi. Abu Nida mencengkram pantat yang padat itu, lalu menjilat memek merahnya. “Abu ini apaan sih? Geli abu” . Rif’ah hanya menggoyangkan pantatnya. Di bawah sinar lampu tampak memeknya yang mengkilap kemerahan karena ludah abu. Tubuh Abu Nida menyusup di antara tubuh akhwat cantik ini, Abu mengambil posisi 69. “Ayo ukhty Rif’ah, kontokku jangan cm dilihat”, ” iya abuu…” bibirnya dengan cepat telah mengulum kontol abu, lidah abu mengaduk-aduk vaginanya sekali-kali mampir ke anusnya.

Pantatnya kian diturunkan ke wajah abu, digoyangkannya naik turun. Klirorisnya digosok Abu Nida dan dipiln dengan jari sambil sekali disedot dan digigit kecil. Tampak labia mayora yang semakin lebar ditarik kanan kiri, Rif’ah semakin mengelinjang. Semakin terangsang semakin melengkung tubuhnya mulutnya tidak berhenti menyedot kontol abu. “ Abuuu…..ah…..abuuu……” lepas mulutnya dari kontol Abu Nida, dijilati pula kedua pelir abu. Tubuh Abu Nida beringsut mengambil posisi doggy style, Abu Nida menggosokkan kontol ke klitoris akhwat cantik ini “Aaaaaah….geli abuu…”, ”Eeenak, sayang?” tangan Abu menggosok klitorisnya yang sudah basah sambil mengarahkan kontol ke lubang memeknya. ”Eeeemmmh….enak Abu. Aku diapain sihh…..?”

Abu Nida menjawab dengan memasukkan kontol ke dalam memeknya, seperti pertama tadi rasanya ada sesuatu yang menahan penetrasi kontilnya. Bles….Abu Nida menunduk mencium punggungnya yang sudah berkeringat, rasa asin menerpa lidah mneyusuri punggung putih itu hingga leher jenjangnya. ”Aaaau…abuuu”. Tangan Abu aktif meremas-remas susunya, Rif’ah semakin beringsut mendorong pantatnya ke belakang. Abu Nida menarik kontol dari vaginanya, plok,plok….setiap kali ujung kontol Abu Nida masuk ke vagina akhwat cantik ini seolah udara dipompa keluar dari lubang memeknya. ”Aduh abuuu, pelan dong …masih perih”tubuhnya gemetaran menahan antara sakit dan nikmat. Abu Nida membuka lebar pantatnya semakin dalam kontol memasuki tubuh akhwat cantik ini, akhirnya tubuhnya melengkung menyebabkan pantatnya semakin menungging.

Dada Abu Nida penuh sesak dan bergemuruh antara merasakan kenikmatan di kontol dan melihat punggungnya yang berkeringat mengkilap diterpa cahaya, sungguh pemandangan yang eksostik. Abu Nida terus menambah kecepatan ayunan pantatnya, karena tadi abu sudah keluar kontolnya menjadi perkasa untuk ronde kali ini.

“Aaaaah…uh…abuuu aana mau dapet, abuuu”, ”iya sayang…” hujaman kontol Abu Nida semakin cepat pada hujaman sepuluh tubuh Rif’ah mengejan bergetar. ”Abuuu…ahhc…aku dapet”, Abu Nida menarik pinggulnya agar merapat ke kontol, kedutan-kedutan vaginanya menerpa permukaan topi baja kontol abu nida. Kepala akhwat cantik ini rubuh ke kasur, tangan abu menggosok klitorisnya. Kembali lelehan lendirnya membasahi jembut. Abu Nida membalikkan tubuh akhwat cantik yang putih bersih tanpa cacat, tubuh yang selalu tertutupi oleh jubah dan jilbab panjang itu kini terlentang pasrah di hadapan Abu. Abu Nida membuka paha akhwat cantik ini, menggesekkan kontol ke anusnya. Rif’ah menggelinjang, kakinya diangkat ke atas. Abu menarik pinggulnya ke arah kontolnya, lubang yang telah basah itu seolah menarik penis untuk masuk ke dalamnya. Abu Nida mengangkat kaki akhwat cantik ini di atas pundaknya, menciumi dan menjilati betisnya. Payudaranya yang besar dan bulat kenceng itu bergoyang berputar setiap kali abu menghentakkan selangkangannya, abu memilin-milin klitroris akhwat cantik ini. Kepalanya menggeleng-geleng, jilbab yang dikenakan mulai terbuka lagi. Abu Nida menaruh kakinya menindih kakinya yang lain, kontolnya tetap tidak terlepas. Penetrasi dari samping semakin menjadikan vaginanya sempit.

”Aaaaahhhh abu, sempit abuuu…” dari samping pula abu melihat payudaranya menjadi mngancung dan berayun-ayun. Abu Nida menarik tangannya agar penetrasiku semakin dalam. Ketiaknya yang bersih tanpa bulu dicium dan membuat Rif’ah semakin tenggelam dalam birahinya. “Abu cium ana dong…” bibir bawahnya memerah karena seringkali digigit tiap kali ujung kontol abu mentok di rahimnya, abu pun membungkukkan badannya dan meraih bibirnya sementara tangan kanannya menaikan tenggkuknya. Abu Nida menekan pahanya untuk membuat penetrasi semakin dalam” Aaaah abuuu….mentok abuu””enak?” “He…em” gumannya.

Setelah 15 menit dalam posisi yang sama kedutan dalam vaginanya kembali muncul, penis Abu Nida menjadi sangat tegang, dibayangi oleh wajah berjilbab dan susu yang bergoyang menjadikan abu nida tidak mampu lagi menahan ejakulasi.”Ukhty Rif’ah ane mau nyampe….”,”nyampe aja abuu, anaa bentar lagi”. Abu Nida menggeram dan melepaskan tembakan ke dalam rahim akhwat cantik ini. ”Ooooh…dik Rif’ah, aku nyampe” Abu Nida menghujamkan dalam-dalam kontolnya hingga mentok ke rahim akhwat cantik ini.

”Abuu…aku nyampe”, tubuhnya beringsut tangannya menegang hingga hampir terlepas dari cengkraman abu. Ketika semprotan Abu Nida selesai dia menindih tubuh Rif’ah, keringat abu sekali lagi menyatu dalam keringat Rf’ah. Abu Nida mencium bibir akhwat cantik ini, hidungnya dan pipinya. Rif’ah tersenyum manis. ”Aaaah abu ini nakal aana tadi khan udah mandi”, Ya sono mandi lagi”, ” Aaaah males abuu, rasanya lemas banget ana mau tiduran di sini dulu”. ”Jangan dik Rif’ah, Ummu Nida pulang berabe”, ” TApi lemas Abuuu”.

Akhirnya dengan bantuan Abu Nida, Rif’ah dibimbing ke kamar mandi, sebelum masuk Abu Nida sempat memasukkan jari ke vagina akhwat cantik itu tapi ditepis sama tangannya. Tapi sesudah kejadian itu mereka sering mengulangi kapan saja ada kesempatan. Rif’ah sendiri nampak tidak keberatan jadi istri kedua Abu Nida…..

Posted in Uncategorized | Leave a comment

LINA TENTOR NIKMAT

Hai, sudah lama sekali gak ketemu denganku ya? Sekarang aku, wawan, akan kembali menceritakan pengalaman yang kudapat dengan seorang mahasiswi berjilbab baru-baru ini.
Pada suatu hari, aku sedang berjalan dan melihat sebuah pengumuman tentang sebuah kursus les privat bahasa inggris. “Diampu oleh mahasiswi bahasa inggris tingkat akhir yang sangat kompeten di bidangnya” kata pengumuman itu.
Wah, mahasiswi, pikirku. Langsung saja aku coba untuk mengontak dan mendaftar lewat nomor yang tertera di pengumuman itu.
Akhirnya, siang itu juga, setelah janjian di rumah baruku yang kecl namun terawatt rapi (yaiyalah, biaya perawatanya aja 2juta sebulan!), aku menunggu dia. Tidak sampai 5 menit dari waktu yang disepakati, bel pintu depan berbunyi dan ketika kubuka, kulihat sesosok wajah cantik yang berjilbab, tersenyum didepan pintu.
“Assalamu alaikum.. mas wawan ya?” kata dia. Segera saja kupersilahkan masuk dan kubawa ke ruang dalam rumahku, agar lebih pribadi hehe.

rupanya gadis manis berjilbab hitam ini namanya Lina, mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negri terkenal. Manis juga, pikirku. Kulitnya putih langsat, tinggi, lebih pendek sedikit dari aku. Kira – kira sekitar 165 cm. Wajahnya oval dengan hidung yang mancung. Yang paling menggairahkan adalah bibirnya. Kecil merah muda merekah.. Badannya lumayan bagus, agak kurus tapi montok, terutama bagian pantat dan dadanya. Ia mengenakan rok hitam panjang dan baju yang longgar. Buahdadanya yang besar nampak menyembul dari balik jilbab dan baju hitamnya. Lina ini baru brumur 21 tahun. Masih muda juga, pikirku.

Setelah beberapa lama berbincang2 dan masuk ke materi, terlihat Lina agak gelisah. Tentu saja gelisah, karena sudah kucampur obat perangsang diminumannya hehe.
“Eh,… mas… bisa pinjem kamar mandinya“, tanya Lina beberapa saat kemudian.. Kelihatannya Mahasiswi berjilbab cantik itu sudah gak kuat. Biasa terjadi pada yang terangsang, mereka langsung ke kemar mandi. Yang gak kuat lagsung masturbasi sendiri, yang kuat Cuma membasahi muka agar sadar.
“Bisa,… masuk aja…. Sepi koq, nggak ada siapa – siapa. Kamu jalan terus aja, ntar kamar mandinya di sebelah kiri.“ Jawabku. Sengaka kuberi kamar mandi yang slotnya agak rusak sehingga gak bisa dikunci hehe. Langsung saja Lina bergegas menuju kamar mandi, entah mau apa hehe. Langsung saja ku ikuti dirinya perlahan.
Beberapa saat kudiam didepan pintu kamar mand, sampai kudengar desahan dan rintihan Lina, wah, ternata dia gak kuat, udah pegang2 sendiri kataku hehe. Langusng saja aku masuk ke dalam kamar mandi. Kudapati si Mahasiswi berjilbab montok itu ini duduk di kloset sambil memeknya terbuka lebar. Roknya sudah tersingkap keatas. Tangannya mengelus2 memeknya keenakan.
“Eh,.. sorry mbak, cuma mau nganterin sabun….“, kataku. Agak lama juga kami berdua terpaku. Lalu perlahan – lahan aku mendekati Mahasiswi berjilbab cantik itu yang masih termangu. Wajahnya merah padam, sebagian malu, sebagian lagi gak kuat menahan birahi. Kepalanya menggeleng pelan, namun tangannya tidak mampu berhenti memegang memeknya. tanganku mulai mengocok kontolku dengan pelan dari luar celana jeansku. Mahasiswi berjilbab cantik itu merhatiin apa yang aku sambil terus memegang memeknya.
“Tolong dong sekalian pegang kontolku, mbak…..“, pintaku sambil mendekat. Lina kelihatan ragu.
Kuhampirinya dengan pelan. Kutarik tangannya dan kutuntun ke kontolku. Dipegangnya kontolku dengan ragu ragu. Kemudian dengan lembut ia mulai mengocok kontolku turun naik. Kesampaian juga keinginanku untuk dikocok tangan halus itu.
“Ahh… enak sekali mbak….uh…“. rintihku. tanpa disuruh tanganku mulai merengkuh payudaranya yang sintal.
“Ssshh.., ahh…jangan… “ Lina merintih keenakan. Tak kuhiraukan omongannya, tanganku mulai merogoh payudaranya. Mahasiswi berjilbab cantik itu semakin terangsang. tangannya mulai mempercepat ritme gosokannya di memeknya dan kontolku. Segera tanganku menyibakkan jilbabnya kepundaknya, lalu mencopoti kancing baju dan BH nya. Segera setelah baju dan BH nya jatuh ke lantai, payudara Lina dapat terlihat dengan jelas. Padat sekali dan berwarna putih mulus dengan puting susu yang berwarna pink. Putting susu itu membusung kedepan memperlihatkan lancipnya payudara Mahasiswi berjilbab montok itu. Langsung kuremas payudara kirinya sementara tangan kananku memilin – milin dan menarik putting susu kanannya.
“Ah……“ Lina semakin merintih keenakan. Kudekatkan kepalaku ke dadanya, ku hisap – hisap puting kanannya. Lina semakin menggelinjang. Tangan kananku mulai bergerak turun, mengelus – elus perutnya yang padat. Karena terangsang, dengan cepat aku melorotkan celana jeans dan cd ku. Kontolku langsung menyembul keluar memperlihatkan seluruh bentuknya. Mata Mahasiswi berjilbab montok itu tak lepas – lepasnya dari kontolku.
Tangannya mulai membelai buah pelirku dengan ganas semantara tangannya yang lain semakin keras mengocok memeknya.
Nikmat sekali rasanya gesekan tangannya dengan kontolku. Rasa enaknya sampai ke seluruh urat sarafku sehingga tanpa kusadari badanku mulai bergetar keenakan. Kedua tanganku segera bergerak menjelajah ke bagian memek Lina.
Segera kutemukan clitoris di belahan memeknya. Lina telah mencukur habis jembutnya sehingga terasa memeknya licin dan bersih. Memek model begini yang membuat aku terangsang hebat. Kubuka belahan memeknya. Tangan Mahasiswi berjilbab cantik itu yang satu berpindah dari memeknya, membantu memberi kenikmatan di kontolku.
“Ah……enaaak… “ Lina mengejang keenakan begitu ku gosok dengan lembut clitorisnya. Kuputar – putar clitorisnya dengan ibujariku sementara jari tengahku mulai masuk ke liang senggamanya yang sudah basah kuyup.

Melihat Lina sudah terangsang berat, langusng kusodorkan kontolku ke mulutnya. dengan ganas kontolku kumasukkan ke dalam mulutnya. Sedotannya terasa enak sekali. Lidah Mahasiswi berjilbab cantik itu yang bermain – main di bagian sensitifku sementara mulutnya yang menghisap maju mundur membuatku kesetanan. Tanganku meremas – remas payudara dan pantatnya dengan kuat, lebih kuat dari sedotannya.
“mmmmmmm…..“, Mahasiswi berjilbab montok itu mengeluh keenakan. Beberapa detik kemudian rasa enak itu tak dapat kutahan lagi.
“Ahhh… mbak, aku mau klimaks nih….uh…..“. Lina tak menyahut, hanya mempercepat gerakan mulut dan lidahnya. Tak dapat kutahan lagi, spermaku keluar dengan derasnya. Begitu banyaknya yang keluar sampai – sampai spermaku menetes keluar dari mulutnya. Setelah 6 sampai 7 kali semprotan, aku pun lemas keenakan.
Lina tau kalau aku sudah puas, ia mulai mengendorkan sedotannya, lalu kemudian melepaskan kontolku dari mulutnya. Lina rupanya telah menelan semua spermaku, sedangkan tetesan sperma yang sempat lolos dari mulutnya menetes ke jilbab dan payudaranya.
Walaupun telah mencapai klimaks, kontolku tetap nggak mau kendur juga. Langusng kutarik Mahasiswi berjilbab cantik itu berdiri, aku berganti duduk di kloset. Kuposisikan dia membelakangiku. Ia bereaksi menarik rok hitamnya keatas pinggangsehingga semakin memamerkan memeknya dari belakang. bagus bener bentuknya, pikirku. Memek yang bersih licin itu berwarna merah jambu. Karena tak ada sehelai rambutpun yang menutupinya, dengan jelas dapat kulihat setiap lekuk memeknya. Memek yang basah kuyup dengan bibir yang merekah itu menantangku. Tak boleh kulewatkan kesempatan untuk ngerasain memek cewek ini. Kuremas memeknya dari belakang, kugesek clitorisnya dengan semua jari – jariku. Kugosok – gosok clitorisnya dengan cepat.
“sssss… cepetan mas,… cepet masukin kontolmu… aku udah gak tahan….. ssss“, Lina memohon. Lalu dengan jari telunjuk dan jari tengah kubuka bibir memeknya. Kontolku tanpa basa basi langsung kuhujamkan keliang vaginanya yang sudah terbuka.
“Ahhh…“, Lina merintih keenakan karena kontolku bener – bener menuh – menuhin memeknya dari dalam. Dengan beberapa kali desakan, kontolku kudorong mentok ke liang rahimnya. Memek Mahasiswi berjilbab cantik itu bener – bener seret rasanya. Enak sekali ngerasain memek yang seret anget basah itu. Kali ini kugerakkan pinggangku maju mundur secara kuat, Lina tampaknya menyukainya.
“terusss… ahh…. Lebih cepat… lebih cepat…. Ahhh….“ Tangan kiri Lina mulai menggesek – gesek clitorisnya sendiri menggantikan tanganku. Kupercepat gerakan ku sampai sampai terdengar bunyi gesekan kontolku dengan memek Lina. Kupegang pinggang Mahasiswi berjilbab cantik itu dengan kedua tanganku untuk membantu kontolku keluar masuk. Lina juga tak mau tinggal diam, ia memutar – mutar pinggulnya dengan kencang. Tak lama kemudian Lina mulai menggelinjang, menggelepar – gelepar sambil merintih keenakan. Tak sampai lima detik kemudian tubuhnya menegang. Sambil berteriak keenakan Mahasiswi berjilbab montok itu mencapai klimaks. Kurasakan denyutan memeknya memijat – mijat kontolku dengan kerasnya. Keadaan ini membuat kontolku muntah untuk kedua kalinya. Kami berdua merintih keenakan.
Sedetik kemudian kami colapse di lantai porselen putih kamar mandi itu. Kami berdua terengah – engah, mengatur nafas yang mungkin terlupakan sewaktu kami berdua asik tadi. Kupeluk Lina dari belakang. Kudekatkan bibirku ketelinganya.
“Makasih ya mbak“, bisikku dengan agak parau. Kuciumi tengkuknya dengan lembut, lalu perlahan – lahan kujilati kupingnya sambil merintih untuk memancing Mahasiswi berjilbab cantik itu kembali. Kontolku masih tetap ngaceng, mau minta lagi. Ku tempelkan kontolku ke pantatnya, perlahan kugesek – gesekkan.
Tanganku mulai beraksi lagi. Kujelajahi memeknya yang kian basah. Spermaku meleleh keluar dari memeknya dan membasahi pahanya. Kumainkan cairan putih itu. Clitorisnya yang mulai lemas kembali menegang. Tanganku mulai naik ke atas, meremas – remas payudaranya yang padat. Mula – mula lembut kemudian mengeras dan mengeras. Lina merintih keenakan. Pantatnya yang sintal mulai digosok – gosokkan ke belakang sehingga menyentuh kontolku.
Tak tahan lagi kumasukkan kontolku ke memeknya dari belakang. Kutindih tubuh Lina. Lina yang dalam posisi telungkup dan berada di bawah tak bisa berbuat banyak. Di rentangkannya kakinya yang mulus dan jenjang itu untuk mempermudah kontolku masuk.

Dengan tangan yang terus meremas – remas dan memilin – milin payudara serta putingnya itu aku memompa Mahasiswi berjilbab montok itu dengan sangat bernafsu.
“Oh… enak sekali mas….“,katanya tersengal – sengal. Kuciumi tengkuknya dengan ganas. Lina hanya bisa menggelepar keenakan. Tak lama kemudian Lina klimaks untuk kedua kalinya. Tanpa memperdulikan Mahasiswi berjilbab cantik itu yang terus mengejang kupercepat ayunan kontolku. Bunyi yang dihasilkan dari kecepatan dan basahnya memek Lina membuatku makin bernafsu. Lama sekali Mahasiswi berjilbab cantik itu mengejang keenakan sampai akhirnya aku keluar juga. Kali ini ku semprotkan spermaku ke pantatnya. Karena udah tiga kali aku klimaks, air maniku tak sebanyak semprotan yang pertama dan kedua, tapi cukuplah untuk membasahi pantat Lina yang merangsang itu. Akhirnya aku colapse lagi di atas mahasiswi berjilbab cantik itu. Mahasiswi itu kunikmati semalaman, merintih2 sampai pagi di rumahku.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

GURUKU CANTIK.. GURUKU SAYANG..

GURUKU CANTIK.. GURUKU SAYANG..

Pantat Bu Rofikah bergerak seperti membalas gerakanku…. bergoyang, menarik dan mendorong… rintihan nikmat wanita montok berjilbab itupun semakin jelas dan keras… tampaknya Bu Rofikah kembali terhanyut oleh kenikmatan persetubuhan ini..

Nama lengkapku Deni Boy Wibisono, sering dipanggil ” Boy ” oleh rekan2 disekolahku. Sejak aku pernah mencoba memek seorang gadis berjilbab di sekolahku, aku jadi ketagihan memek gadis berjilbab. Tubuh mereka yang selalu ditutup dengan jilbab besar dan baju seragam yang longgar menambah rasa sensasi penasaran dan semakin menggelorakan nafsuku. Apalagi menikmati saat rontaan gadis itu berubah menjadi gelinjang kenikmatan saat aku ebrhasil menyentuh titik birahinya, dan membuat mereka malu setengah mati. Dan juga, biasanya mereka tidak akan berani membeberkan perkosaan itu kepada siapapun. Selain karena malu setengah mati, namun mungkin juga karena mereka ternyata menikmati perkosaan itu. Terbukti gadis berjilbab yang bernama Nadiah, yang saat pertama kali kuperkosa mengalami berkali2 orgasme. tErnyata ia tidak pernah mengatakannya pada siapapun, dan saat kuperkosa untuk kedua, ketiga dan keempat kalinya, pemberontakannya hanya lah agar dia tidak dianggap menikmatinya, padahal kenyataannya dia kembali orgasme berkali2. Bahkan saat terakhir kuperkosa, ia menggerakkan pantatnya tanpa kusuruh. Ternyata gadis berjilbab lebar mempunyai garah seks yang binal!!

Akhirnya, setelah bosan dengan Nadiah, aku punya sasaran baru, yaitu guru Matematikaku yang selalu memakai jilbab yang bernama Bu Rofikah. usianya 26 tahun,belum kawin, sesuai dengan namanya, wajah cantik mirip Prita Laura, kulitnya putih bersih dan bentuk tubuhnya sangat montok dengan buah dadanya terlihat sangat besar dibalik baju seragam guru dan jilbab lebar yang ia pakai, dan teman wanita sekelasku yang bernama Jihan. Gadis berjilbab ini sangat cantik, kulitnya putih sekali tapi yang lebih penting bagiku adalah ukuran buah dadanya paling besar diantara teman wanita sekelasku. Setiap hari aku memutar otak, mencari akal bagaimana caranya supaya aku bisa mencumbu salah satu dari mereka sampai puas.

Suatu hari, aku dipanggil ke ruang oleh Bu Rofikah dan aku dimarahi karena nilai ulangan Matematikaku hancur, padahal aku sengaja tidak belajar supaya diperhatikan sama Bu Rofikah. Saat itu aku beralasan kurang mengerti ketika diajari di kelas dan langsung aku minta les tambahan sama Bu Rofikah. Pucuk dicinta ulampun tiba, ibu guruku yang montok berjilbab ini langsung setuju dan kamipun berunding mengenai tempat les, di sekolah atau di rumah. ” Bagaimana kalau di rumah Bu Rofikah saja?” usulku. Dia langsung setuju, saat itu pula baru aku tahu kalau Bu Rofikah tinggal sendirian di rumah kontrakan dan les dimulai sore hari itu juga setelah pulang sekolah. Dengan hati berbunga-bunga akupun kembali ke kelas. Tiba di rumah aku langsung mempersiapkan diri, pokoknya badanku harus bersih dan wangi, kupakai celana dalam yang longgar dan celana Levi’s 501 ku yang tidak pake retsleting tanpa pake sabuk, dan tak lupa kubawa sebuah gunting kecil.

Sorenya kuberangkat sekitar pukul 3. Kurang lebih setengah 4 aku sudah berdiri didepan pintu rumah Bu Rofikah dan belum sempat kuketuk pintunya guruku sudah membukakan pintu.

“Sore Bu,” sapaku berbasa-basi. Setelah membalas salamku langsung dia menyuruhku masuk untuk menunggu di ruang tamunya karena katanya dia mau kebelakang dulu. Tampaknya Bu Rofikah baru datang juga karena dia masih mengenakan seragam guru yang tadi siang, lengkap dengan jilbab putih panjang. Mungkin rapat dulu pikirku. Ruang tamunya cukup besar, tapi bersih dan tertata rapi juga kulihat beberapa photo keluarga. Terlihat semua wanita di keluarganya memakai jilbab lebar, dan nampak semuanya cantik. Wah, aku harus coba semua nh, pikirku ngeres. Sambil duduk di kursi tamu yang terbalut kulit dan empuk, aku menyiapkan buku Matematika untuk bahan les.

Selang beberapa menit kemudian Bu Rofikah datang lagi dengan segelas air es ditangan kanannya. ” Boy .. maaf yach…Ibu nggak punya apa-apa. Pembantu lagi mudik .. jadi nggak ada yang masak. Barusan aja Ibu dari rumah Bu Yanti dulu.. yang ngajar Akuntansi di A3.. itu yang pindahan dari Bandung. Kamu tahu khan? Kamu siapin aja dulu bukunya..sambil baca-baca, Ibu mau mandi dulu sebentar.. nggak enak.. gerah nih!” kata ibu guru cantik alim itu tanpa memberiku kesempatan ‘tuk membalas ucapannya.

Memang guruku ini nggak kaku kalau ngajar di kelas. Bahkan terkadang kalau ngomong kayaknya nggak terlalu ada jarak dengan murid. “Ma kasih Bu jadi mengerepotin .. “, jawabku sambil berusaha melirik sedikit buah dadanya yang montok di balik kemeja dalam berwarna putih satin berlengan panjang dan jilbab kaus saat guruku membungkuk meletakan gelas di atas meja. Rupanya blazer seragam warna hijau dan jilbab kain guruku yang montok ini sudah dilepasnya bahkan mungkin rencananya mau ganti baju dulu .. sebab kemeja putihnya sudah dikeluarkan dari balik rok. “Nggak apa-apa kok..”, balasnya sambil berlalu keruang dalam.

Dengan sengaja mataku mengikuti langkah guruku yang berjilbab montok itu bertelanjang kaki ke ruang dalam. Kupandangi gerak pinggulnya saat berjalan..samar-samar terlihat cetakan celana dalamnya.. hingga lenyap dibalik tembok pemisah ruangan. Tak lama kemudian terdengar gemericik suara siraman air. Oh Bu Rofikah .. pikirku menerawang membayangkan guruku yang putih dan berdada besar ini mandi telanjang tanpa benang sehelaipun.

Dalam benakku terbayang adegan erotis dengan guru berjilbabku. Tanpa bisa ditahan gairahku meningkat .. organ kelelakianku menegang. Ohh …aku menghayalkan guruku sendiri.. IBu Rofikah. Sempat timbul pikiran kotorku untuk mencoba mengintipnya dari lubang kunci .. sebab aku ingat omongan guruku kalau pembantunya lagi mudik jadi nggak bakal ketahuan.

Tanpa terasa menunggu, Bu Rofikah sudah muncul di hadapanku dengan memakai baju terusan warna putih yang tipis, yang menjutai sampai kemata kakinya, dan jilbab putih dari bahan kaus yang lembut. sungguh dimataku Bu Rofikah sangat menggairahkan, dengan BH hitam yang jelas membayang tanpa bisa menyembunyikan buah dadanya yang tegak membusung.

” Boy .. koq kamu bengong.. bukannya baca buku?” tanyanya sambil berjalan menghampiriku. Cahaya matahari dari pintu belakang memperlihatkan lekukan tubuh indahnya yang terbayang samar dibalik baju terusan putihnya. Entah.. aku sendiri bingung antara terpesona atau tergiur. Yang jelas dimataku Bu Rofikah sungguh seksi menggairahkan. “Nggak Bu..,” jawabku sedikit gugup.

” Ayo Boy .. mulai… kamu bawa buku Matematikanya-kan?’” kata guruku yang muslimah berjilbab namun montok ini sambil duduk di sofa panjang tepat di hadapanku. lalu diambilnya kertas kosong dibawah meja tamu.

Sambil membawa kertas kosong untuk coretan .. guruku yang sintal dan berjilbab ini duduk di sebelahkuku, disofa panjang, tak lama kemudian dia mulai serius menerangkan rumus integral dengan pensil ditangannya, sebaliknya gairahku membawa pikiran dan khayal-ku untuk menikmati kehangatan, keseksian, kesintalan tubuhnya, yang tersembunyikan jilbab panjang kaus dan baju panjangnya yang menggairahkan. Aku hanya mengomentari dan berkata,” Ya …ya .. ngerti Bu…!” dan tanpa disadarinya mataku dengan buas memandangi wajah molek sambil membayangkan dapat menjilati dan melahap gumpalan terbelah, payudara putih segar yang terlihat samar dibalik baju terusan putih tipisnya. Jelas perasaanku tak karuan … jantungku berdegup kencang .. tercium aroma parfum yang lembut dihidungku .. makin membuat dudukku nggak nyaman.. dan aku tahu apa sebabnya … organ kelakianku yang terus menerus tegang membuat pikiran gelap mulai menggodaku.

Hingga akhirnya Bu Rofikah .. memberiku soal latihan untuk dikerjakan,”Coba Boy .. kamu buat ini .. soal yang tadi siang untuk PR . Ibu pingin tahu .. kamu udah ngerti belum?” kemudian guruku yang montok dan berjilbab itu berdiri sambil ngambil sebuah majalah dari meja sudut kemudian duduk di kursi sebelah kanan depanku. Sekilas kulihat dia membacanya sambil duduk miring menghadap ke arah jalan. Sambil mencoba menyelesaikan soal itu, kuperhatikan guruku membaca sebuah majalah U***. Kemudian kelihatan guruku yang sintal ini merubah posisi duduknya dengan sedikit membelakangiku sambil menumpangkan kaki kanan dengan badan sedikit bersandar sambil memeluk bantal kursi.

Langsung aku menghentikan kegiatanku kupandangi guruku yang cantik berjilbab ini dari belakang… tampak benar bulat pinggulnya yang cukup besar ..oh sungguh menggoda pikirku. Terlihat pula cetakan celana dalam hitamnya yang jelas membekas di baju terusan tipisnya … pantatnya yang bahenol nampak mengundang diriku untuk menyodok-nyodoknya dari belakang. Sungguh aku ingin membuatnya mengerang-erang keenakan. Selang beberapa saat aku terpana .. tiba-tiba Bu Rofikah menengok ke arahku…. lalu memperbaiki posisi duduknya.

Sepertinya Bu Rofikah sadar sedang diperhatikan, dia membereskan jilbabnya lalu dia kembali duduk di sampingku. Jarak tubuhnya dengan tubuhku hanya sejengkal saja. Aduuuhhh… harum sekali wangi tubuhnya, tak tahan aku untuk memeluknya. Tapi aku takuuttt….. dan malu. Setelah kami berdiskusi tentang Matematika hampir tiga jam lebih, obrolan mulai melebar, kami semakin akrab. Sesekali kulit kami bersentuhan…. terasa halus sekali… semakin membuatku ingin merambahi seluruh bagian tubuh yang dimilikinya yang ia sembunyikan dengan baju panjang dan jilbabnya untuk mereguk kenikmatan yang ada di dalamnya. Sungguh baju panjang dan jilbabnya justru menambah gejolak birahiku.

Entah setan mana yang menggodaku hingga aku semakin berani. Tanpa basa basi, tubuh Bu Rofikah langsung kupeluk dengan kuat, secepat kilat bibirku menempel di bibirnya yang ranum…. guru alimku itu kaget sekali…. matanya melotot…. ” Mmmphh Boy, apa apaan kamu… “ katanya sambil menggelengkan kepalanya yang terbalut jilbab untuk menghindari bibirku dan tangannya mendorong bahuku. Kujawab dengan mempererat pelukan hingga tangannya tak bisa bergerak… kuciumi bibirnya dengan penuh nafsu…. kusedot sedot dan kugigit bibir bagian bawah… tapi mulut Bu Rofikah tertutup rapat…. Mmmmpphh….mmpphh… kepalanya menggeleng-geleng dan bergerak mundur berusaha untuk melepas ciumanku…. tapi bibirku terus menempel di bibirnya…. kucoba untuk merangsangnya lewat bibir. Jilbab putihnya mulai berantakan. Terasa kontolku semakin perkasa saat tak sengaja menggesek tubuhnya yang terbalut baju terusan tipis halus.

Kepalanya terdorong hingga ke pojok sofa hingga tak bisa bergerak lagi… seluruh tubuhku bergerak secara reflek menindih tubuhnya… selangkanganku tepat menempel di selangkangannya… menggesek gesek memeknya yang masih tertutupi celana dalam dan baju terusan, badannya menggelinjang-gelinjang…. kakinya terus bergerak-gerak…. menendang-nendang…. tangannya mendorong dadaku dengan kuat, berusaha melepaskan diri dari tubuhku yang menindihnya, tapi aku tetap memeluknya dengan kuat…. hingga kurasakan gerakannya mulai berkurang… dan melemah….. sorot matanya berubah sendu…. dan berkaca-kaca…… guruku yang berjilbab lebar ini mulai hendak menangis…

Mulutku terus menutupi mulut wanita berjilbab ini… bibirnya kukulum sambil kusedot dan kugigiti bibir bawahnya… kumainkan lidahku untuk membuka mulutnya… kucoba untuk merangsangnya… selangkangannya kutekan dan kugesek-gesek dengan selangkanganku… akhirnya usahaku membuahkan hasil.. mulut wanita alim yang bahenol ini mulai terbuka… nafasnya mulai memburu…. bibirnya bergerak membalas permainan bibirku… aduuuhh enakknyaaa… kamipun berciuman dengan normal, tanpa ada paksaan… ternyata Bu Rofikah, guruku yang cantik,s emok dan selalu berjilbab ini sangat ahli dalam berciuman… aku tidak menyangka kalau wanita berjilbab lebar seperti dia pandai berciuman. lidahnya dan lidahku saling berpilin dan menarik… saling menyedot… enak sekali rasanya… pelukanku lepas dengan sendirinya dan tanganku mulai membuka kancing baju terusannya, lalu menyelusup ke baliknya dan mulai menggerayangi perutnya.. ketika buah dadanya kuraba-raba, Bu Rofikah mendesah, ” Boy, jangan Nak.. oohh… ouuughhh….. oohh…. aahh… ssstt… aahh… “.

Sikap wanita alim yang sintal ini seperti ingin menolak tapi desahannya menunjukkan dia merasakan nikmat… rupanya tubuhnya memang tidak bisa dibohongi. Wanita berjilbab lebar ini mulai merasakan kenikmatan terlarang, yang seharusnya tidak ia rasakan. aku jadi lebih agresif… tubuhku bergeser… mulutku berpindah sasaran… kulilitkan ujung jilbab panjangnya kesekeliling lehernya, sehingga perutnya terihat jelas. kuciumi pangkal leherputihnya … kujilat-jilat… tanganku semakin rajin mengelus… meraba… terdengar desahan lirih… aaaaahhhh… aaaahhh…. ooohhh…. kedua tangan wanita semok berjilbab ini menjambak rambutku, kubuka semua kancing bajunya sehingga buah dada besar wanita alim ini terlihat jelas, tinggal tertutup oleh BH hitamnya… dan tubuh Bu Rofikah semakin terbuka… tanganku bergerak ke balik punggungnya… kubuka kaitan BH-nya… ketika kubuka penutup buah dadanya, mendadak kedua tangan Bu Rofikah menepis tanganku dan menutupi dua gundukan yang menjulang dengan menyilangkan tangannya dan menurunkan kaosnya, sambil berkata, ” Cukup, jangan diteruskan lagi… Ingat, kamu adalah muridku ! Jangan kurang ajar !! “, mata wanita berjilbab lebar itu memandang tajam ke mataku sambil mendorong dadaku dengan kasar.

Aku kaget dan terdiam sejenak, ” Wah, bahaya nih, tapi kepalang basah “, pikirku dan nafsuku sudah di ubun-ubun… kontolku makin tegang dan berdenyut-denyut… aku benar-benar sudah nekat. Kugeser kembali tubuhku menindihi tubuhnya yang masih terbungkus baju panjang dan jilbab yang sudah berantakan… kupegang kepalanya yang masih terbungkus jilbab dengan kuat… kuciumi bibirnya dengan lebih bernafsu… kedua tangan Bu Rofikah berusaha menahan tindihanku dengan mendorong dadaku… perlawanan wanita alim itu membuatku semakin bernafsu… pangkal lehernya kutelusuri dengan lidahku… bagian belakang kupingnya kuciumi dibalik jilbab tipisnya… kujilati… kugigit ujung kupingnya, sampai jilbab putih tipisnya basah oleh air liurku. Terasa wanita berjilbab itu menggelinjang dan kembali mendesah tertahan.

Tubuh Bu Rofikah semakin menggelinjang-gelinjang… mata wanita alim itu merem sambil menggigit bibirnya sendiri… mulutnya berdesah tertahan, ” Boy… aahhh…. ooohhh…. Booy… aaahhhh… mmmm…. su..su..dah… ja…jangan.. diteruskan…aahh… De..de..niii…Booy… su..sudah…a..aa…aa..hhh… suu..dah..”

Desahan itu membuatku tambah lupa diri, tangan kananku kembali menyusup kedalam baju panjangnya, langsung kuremas buah dada Bu Rofikah yang sebelah kiri… waahhh… ternyata buah dadanya benar-benar keras dan kenyal… BH-nya kutarik lepas… tampaklah sepasang buah dada putih bersih dengan putingnya yang kecil berwarna agak kecoklatan… aku takjub dengan keindahan ini. Ternyata benar, guruku yang alim ini mempunyai bah dada yang sangat putih dan menggairahkan. kusambut kedua gundukan daging itu dengan remasan dan mulutku. Kujilat… kuciumi…dan kugigit sambil kusedot sedot puting yang ranum itu… desahan Bu Rofikah terdengar semakin lirih.. ” Aaahhh…. ooohhh…..ooohhh…. ooohhh… mmmmmhhmm…ooohhh…mmmmm…. “, kedua tangan wanita berjilbab yang sintal itu mencengkeram rambutku dengan kuat… kepalanya yang masih berjilbab semakin menyusup ke pojok sofa… matanya merem melek merasakan kenikmatan yang sesungguhnya terlarang baginya… buah dadanya terus kuremas-remas… kuciumi… ku urut-urut…. Aaaahhh nikmatnya… kugeser tubuhku ke sampingnya, kuturunkan kedua kaki ke lantai, sambil berlutut aku terus menelusuri setiap lekuk tubuh Bu Rofikah dengan mulutku, kujilat-jilat puting dan perutnya secara bergantian…. wanita alim itu semakin menggelinjang-gelinjang. Desahan pasrah dan bernafsunya semakin terdengar jelas. Air matanya masih terus mengalir, karena malu telah ikut menikmati eprmainan ini.

Tangan kananku berusaha membebaskan kontolku yang sudah sangat tegang dari penghalang, dengan sekali tarikan, seluruh kancing celanaku langsung terbuka… kontolku langsung menyeruak, berdiri dengan kokoh juga keras… kuturunkan celanaku perlahan-lahan tanpa sepengetahuan Bu Rofikah. Setelah itu, tangan kananku menyibakkan bawah baju panjangnya yang longgar sambil mengelus dan meraba-raba pahanya yang putih, yang selama ini etrtutupi rok panjang.. makin ke atas, hingga tiba pangkal pahanya yang masih tertutup celana dalam warna hitam tipis. Wanita berjilbab itu mengerang lemah.

Kuletakkan telapak tanganku dengan perlahan, kuusap-usap dengan lembut…. kugesek-gesek jari tengahku di celah bibir memeknya … tubuh Bu Rofikah tiba-tiba tersentak, tangan wanita alim berjilbab itu menggapai-gapai berusaha menarik tangan kananku… ” Boy… jangannn… oohhh…mmhhmm…. oh.. ja..ja..ngannnn…. mmhmm… oohhh…aaahh… Boooy…. mmmhhmmm… mmmhhmm…..”, desahannya makin keras… seperti merintih kesakitan… ruanya baru kali ini memeknya disentuh tangan laki2. tangannya terus menggapai tanganku. Ketika tanganku terpegang, langsung ditariknya ke buah dadanya… sejenak ku ikuti kemauannya. Kedua buah dada wanita berjilbab yang cantik itu kuremas sambil menyedot-nyedot dan menggigit putingnya.

Mulut Bu Rofikah terus merintih-rintih nikmat. Wanita berjilbab itu telah hanyut dalam birahi. Tangan kananku terus berusaha membuka celana dalamnya, tapi selalu gagal karena pahanya dirapatkan dan tangan kirinya memegangi tanganku. Berkali-kali kucoba, tapi selalu gagal…. Mulutku kuarahkan kembali ke mulutnya… bibirku dan bibir wanita alim itu menyatu… saling mengulum… menyedot…. menggigit… dan buah dadanya kuremas dengan kuat…. “ Mmmmmhhmmm…. mmmmhhhmmm….mmhhmmmmmm…. mmmhhmmm … “, dia merintih-rintih sambil berciuman. Kedua tangannya menjambak rambutku, kedua pahanya merenggang sendiri.

” Nah, sekarang “,kuambil gunting kecil dari celanaku, kusingkap perlahan bagian bawah baju panjang wanita cantik yang alim itu sampai ke perutnya, lalu perlahan-lahan sekali dan tanpa menyentuh memeknya, sedikit demi sedikit kugunting bagian depan celana dalamnya dan aku berhasil tanpa disadari olehnya. Nafsuku semakin berkobar membayangkan kenikmatan saat kontolku keluar masuk lobang memek perawan wanita alim yang selama ini selalu menjaga tubuhnya ini. Sedikit demi sedikit aku menggeser tubuhku ke antara dua pahanya, tanpa ada paksaan, kedua paha putih montok wanita berjilbab itu berhasil kurenggangkan hingga tubuhku ada diantaranya dengan posisi bertumpu pada lutut. Baju panjangnya sudah awut-awutan, dengan kancing bagian depan terbuka hingga perut, dan bagian bawah sudah tersibak sampai perutnya. Jilbab panjangnya kini hanya membungkus kepalanya, memberi sensasi erotis. Celana dalamnya yang telah berhasil kusobek samar memperlihatkan memek wanita berjilbab itu yang merah menggairahkan.

Tubuh Bu Rofikah kutarik sedikit demi sedikit ke pinggir sofa saat mulutku menciumi bibirnya. lalu dagunya kujilati… terus turun… ke buah dadanya… kumainkan lidahku di perut dan pusarnya… Tubuh wanita berjilbab itu semakin menggelinjang gelinjang dan rintihannya semakin keras, ” Ooohhhh… aaahhhh… ooohh… oooohhh…. aahhh…. Booy… aaahhhh…. geliiii…. oohhh…. aa..aahhkkhhh…..”. kini birahinya sudah menguasai sepenuhnya tubuhnya yang sintal.

Ketika posisi lobang memek Bu Rofikah agak ke pinggir sofa, akupun mulai merangkak naik sambil mengusapkan ludah di kepala kontolku yang sudah sangat keras… bibirku dan bibir wanita alim itu kembali bersatu… kami berciuman agak lama… sudah tak tersisa lagi pemberontakannya. nafasnya semakin memburu, seakan sudah tidak sabar disodok kontolku. Wajahnya merah karena malu bercampur birahi… badannya sudah licin oleh keringat, sorot matanya sayu dan pasrah…. wanita berjilbab lebar ini sudah dalam kekuasaanku sepenuhnya.

Kuangkat kaki kanan wanita alim yang molek itu lalu kuletakkan di atas meja, kedua pahanya semakin merenggang…lalu kugenggam batang kontolku, kuarahkan kepalanya tepat di depan lobang memeknya…, bulu-bulu tipis halus terasa menyentuh tanganku…. Aaahhh, belahan memek Bu Rofikah pasti terlihat jelas… bulu memeknya yang tipis halus tak mungkin akan menutupinya… sambil membayangkan bentuk memeknya, kudorong pantatku dengan sepenuh perasaan…. perlahan namun pasti…. kepala kontolku mulai menyentuh bibir memek perawan milik wanita berjilbab itu…. masuk sedikit demi sedikit…..

Kualihkan perhatian Bu Rofikah dengan memainkan lidahku di lobang kupingnya, ” Ibu cantik sekali… maafin Boy Bu… Bu Rofikah sayaaangg… maafin Boy ya… ” bisikku, kugenggam keras tangan kanannya dengan tangan kiriku…., ” Booy…. oohhh…aahhh…. sudahh yaa… aa..ahhh…. ooohhh…. jangan diteruskan…. Boooy … please… su…su.dah … Ibu takuutt….”, rintih Bu guru berjilbabku itu dengan lirih…. Pantatku terus kudorong…, terasa sebagian kepala kontolku sudah masuk ke lobang memek Bu Rofikah yang sudah basah dan licin tapi sangat sempit…. lalu kugesek-gesek dan kutekan perlahan… tangan kananku terus menggenggam batang kontolku… membimbing hingga semuanya masuk.

Kontolku semakin berdenyut-denyut… ketika kepala kontolku masuk…. tubuh wanita alim itu tersentak… mata mendadak terbelalak kaget…. tangan kirinya menahan perutku menahan dorongan pantatku… tapi tanganku terus menggerak-gerakkan kontolku… kutekan sedikit… kutarik…. kugesek-gesekan ke itil nya… kutekan lagi… kuputar-putar… kugesek-gesek lagi itil nya… hingga dia meratap sambil merintih-rintih nikmat, ” Oooohhh…oohhh…aahh…oohhh….. Booy…. Booyy…. ja..ja..nnggan… ooohh… oohh.. jangan….. mmmhhmmmmm… sakiiitt.. aahhh..uuhhh… sakkkiitt.. Ibu..nggak mau… Booy… oooohh… Booy… jja..ja..ngaaan… a..duuuh…nggg…akh…aahhh…mmhmm..nnggg…. uuhhh…” wanita berjilbab itu pasti baru sekali ini merasakan kesakitan bercampur kenikmatan yang ku berikan.

Walaupun memek Bu Rofikah sudah basah dan licin, kontolku hanya masuk sepertiganya… sempit sekali… ketika kudorong dorong pantatku lebih kuat, tubuh wanita alim yang molek itu bergetar…. rintihannya semakin keras seperti jeritan-jeritan kecil, ” Boooyy…. aaahhhhhh……aa…aahhhh… uuuuhhhh….. uuhhh… ooohhhhhh….. aaaaaa…. sakiiittt….aww…..mmmmhhmmm……ooohhhh….. mmmmhhmm… nnggak mauu…. Boooyy…. sakiiittt….. Boy.. Booy…Booooy….. Booooooooy……. aaaaaaaaaahhhh…..”

Bu Rofikah menjerit-jerit kecil memanggil namaku ketika doronganku semakin kuat…. semakin kuat…. dan tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang robek didalam memek guruku yang berjilbab lebar ini. Ia terpekik keras. Wajahnya yang ayu dan penuh keringat terlihat sangat kesakitan. Terasa sesuatu yang hangat mengalir pada kontolku. Ternyata aku telah mendapatkan keperawanan guruku yang berjilbab, yang selama ini susah payah ia jaga. Tangisnya semakin keras. Namun aku terus menyodok-nyodok memeknya terus, sehingga lama2 taingsannya kembali berubah menjadi rintihan2 nikmat.

hingga akhirnya kontolku masuk setengahnya, kutarik lalu kudorong lagi lebih kuat, baru masuk 3/4 keburu mentok, terasa kepala kontolku menyentuh dinding yang bergerinjal-gerinjal, saat itu Bu Rofikah merintih agak panjang…. crep..crep crepp… crepp…. bleessssss…… terasa sekali nikmatnya jepitan dinding memek wanita alim berjilbab itu. “Aaahhh….aahhhh…. enaakk…. nikmattt…. “, kontolku terasa agak perih…. tiba-tiba ada cairan hangat merendam kontolku…. hangat dan licin nya mendatangkan kenikmatan tersendiri…. membuatku terpejam sejenak… nikmat…. nampaknya wanita alim ini sudah mulai orgasme….

Kulihat kepala Bu Rofikah mengeleng-geleng dengan kuat… rintihannya menjadi tidak jelas.. seperti orang mengigau…. menangis lirih…. kutegakkan tubuhku sambil kupegang pinggang wanita alim itu yang montok dengan kedua tanganku lalu kumulai gerakan menarik… mendorong menarik… dorong…. tarik…. crepp… blesss…. creppp… blessss… creppp….crepppp…. crepppp….. tampak sekali pemandangan indah ketika kontolku keluar masuk memek Bu Rofikah, crepp…creppp…. creppp…. creppp… blesss….blesss…. blessss….. anganku melayang dibuai kenikmatan aneh… biar lobang memek Bu Rofikah sempit sekali tapi kontolku keluar masuk dengan leluasa… karena adanya cairan pelicin. Wajah wanita alim itu sudah sangat terangsang.

Bu Rofikah pun semakin tak jelas rintihannya, kadang nadanya seperti menangis… mulutnya menggigit-gigit tangannya yang mengepal…, ” nghhhh….nghhhh….ngggnggh….. aa..aa..ahhhh….. eekh.. aahh… nggg…ngggg… mmhmm…. o..o..oohhhh… ngghh…. Booooy… sssakiit… nggnggg…. aww… oohh….. Boooy… pelaan… pe..pe..laan….. aaaaaaaaaaaa..aaaahhhhhhhhh…nnggngg…. aaahhhhhhhh……… “

Gerakanku semakin kupercepat… terusss… makin cepaatt…. sesaat kemudian Bu Rofikah merintih histeris, birahi membuatn wanita berjilbab besar itu melingkarkan kedua kakinya di pinggangku… mulut wanita alim itu terus merintih nikmat sambil menjilat dan menggigiti kuku tangannya…. saat itu pula kembali kurasakan ada cairan hangat merendam kontolku di dalam lobang memeknya….. kedua kaki Bu Rofikah menjepit pinggangku dengan kuat hingga tak bisa bergerak beberapa saat…. ” Booy… Boooy… aahhh…ohhh…. ka.. ka..mu jahaat.. aaakkhhh…. akh…. Booooy….. enaaaak…. aa..aaahh… oohh… “, desah Bu Rofikah. Wajahnya yang ayu yang masih terbungkus jilbab menunjukkan kepasrahan. Ia mendapatkan orgasmenya yang pertama kali dalam hidupnya.

Kugeser tubuh wanita alim yang sudah lemas itu memanjang di sofa, kedua kakinya terlipat, kutindih tubuhnya sambil memasukkan kontolku…. dan setelah kugeser-geser posisiku hingga terasa nyaman dan leluasa, akupun mulai menggerakkan pantatku naik turun…. crepp..blesss..creppp..blesss….creppp..blesss…creppp… creppp…creppp… crep..crepp..crepp.. crepp… gerakanku semakin cepat, tubuh Bu Rofikah menggelinjang-gelinjang liar… kedua kakinya melingkar dan menjepit pinggangku… kedua tangan wanita alim yang selalu menjaga dirinya itu mencengkeram punggungku…. lidahku menari-nari di lobang kupingnya… nafasku semakin memburu.. gerakanku semakin cepat…. cepaaat…. makin kuat hentakanku….

Bagian dalam memek Bu Rofikah terasa semakin basah dan hangat, kurasakan kontolku mulai berdenyut-denyut dan terasa sangat geli… inilah saat paling kutunggu… rasa geli yang amat sangat diakhiri dengan keluarnya air mani…. kuperlambat sebentar gerakanku…. lalu kupercepat lagi…. kupercepat lagii…. semakin cepat gerakanku membuat rintihan Bu Rofikah semakin pendek tak menentu, ” mmh.. ugh.. ugh… ugh…aa..a..aahhh.. ngnggg.. uuhh….oohh… mm..mm..mm.. ngng… ohh..ohh.. ohh.. nnngg… eekh… aahh..ahh…mmhh… te..te..te..rus.. te..te..ruus.. oohh.. aahh…aahh.. Bbbooyy… Bbooyy… ah..ah.. sa..sa..yanggg…aahhh… laagii… teruusss.. ehhh… ehh… aaahhh.. “. wanita berjilbab itu terus merintih-rintih dan mendesah-desah keenakan.

Mulut Bu Rofikah megap-megap. Bibirnya yang indah terlihat basah oleh air liur kami berdua. Terlihat pula air liurnya mengalir keluar. Nampaknya wanita berjilbab ini sangat terangsang. tak lama kemudian kontolku berdenyut keras… ingin memuntahkan air mani…, ” Aaahhhhhh…. aaahhhh…. aa..aa..aaahhhh…. akuu.. tak kuat lagi Buuuuuuuu….. ” gerakan naik turunku semakin cepat….rasa geli semakin terasa… kontolku makin tegang… berdenyut-denyut….

Bu Rofikah semakin histeris, mendadak pantatnya mengangkat dan bergoyang…. memutar…, ” Aaakh… aaaaa…. Booyy….Booooy…….. sa..yang….ta…taa.. oohhh… tahannn… se…se…bentarr…. ta..ta..hannn….. aa..a…yo…se…sekarang… sekarang… yaaa…yaa….eee..eennaaakk….ooohhh…. oohhh…. mmmhhmm….oooohhhh…… aaaaaahhh……..” Kontolku terasa dipilin-pilin dan disedot-sedot…… akhirnya…., ” Aaaaahhhhh…. aaahhhh….. Ibuuuu…. aaahhh…ahh…”, kudorong pantatku sekuat-kuatnya…, air maniku menyembur banyak sekali cret…cret…cret…cret…cret…cret…cret… kupeluk tubuh wanita montok berjilbab itu sekuatnya…, mataku terpejam merasakan kenikmatan tiada tara yang barusan terjadi….., demikian juga Bu Rofikah ketika maniku menyembur di dalam memeknya… badannya seperti menggigil dan tersentak-sentak… kedua mata indah wanita alim itu terbeliak-beliak nikmat……, kedua kakinya melingkari pinggang dengan kuat….. kedua tangannya mencengkeram punggungku sampai kukunya menancap, kureguk seluruh kenikmatan sambil kami saling memeluk, mencium sambil berguling-guling untuk meredam nafsu dan emosi yang sangat tinggi.

Setelah kurang lebih sepuluh menit saling berpelukan, aku mulai bangkit, kuangkat tubuhku, perlahan-lahan kucabut kontolku dari lobang memek Bu Rofikah. Air maniku terlihat mengalir keluar, menetes bercampur darah keperawanan dan cairan cinta wanita berjilbab itu. kuseka dengan rok panjang yang masih di kenakan Bu Rofikah. Lalu kubersihkan dengan mengusap-usap celah memeknya yang merah merekah yang hanya ditutupi bulu bulu halus dengan potongan celana dalam hitam wanita berjilbab itu.

Tubuh Bu Rofikah masih tergolek lemas… tak bertenaga…. tapi tatapan mata wanita alim itu mengarah tajam kearahku… aku mencoba untuk tersenyum… sambil menjulurkan tangan menolong untuk bangkit. Tak lama Bu Rofikah duduk disampingku tanpa membereskan bajunya terlebih dahulu, buah dadanya hanya tertutup sebelah saja, roknya tidak diturunkan hingga pahanya tidak tertutupi. Ujung-ujung jilbabnya masih terlilit di lehernya. Sepertinya dia tidak mala-malu lagi padaku, tapi mata wanmita berjilbab itu terus menatapku….

” Ibu marah…. ? “, tanyaku sambil tersenyum lalu mendekatkan bibirku ke bibirnya…, tapi tiba-tiba plokk…plokk… kedua pipiku ditampar keras. Aku berdiri bengong sambil mengusap-usap pipi, tadi dia bilang sayang, tapi sekarang menamparku…. eeh… setelah menamparku Bu Rofikah tertunduk sambil menangis di di depanku. Aku jadi bingung….., nggak ngerti kok jadi begini, tapi aku tidak mau tahu…. pokoknya aku berhasil menyetubuhi wanita berjilbab montok itu dan aku benar-benar puassss.

Tanpa berkata sepatah katapun, aku memakai celanaku kembali, langsung membereskan buku catatan les Matematikaku, bersiap untuk pulang. Tiba-tiba Bu Rofikah berlari masuk ke kamar tidurnya sambil menangis terisak-isak….. Semula aku sih cuek-cuek aja…, lama kelamaan aku menjadi tidak tega…. kuikuti masuk kamar tidurnya…. kulihat wanita berjilbab lebar itu sedang menangis sambil tengkurap sambil memeluk bantal, jilbabnya awut-awutan, roknya tersingkab, sebagian pantatnya ke bawah terlihat jelas, kulitnya bersih, putih mulus, bagian pantatnya yang lain masih tertutup celana dalam hitam tapi sudah sobek digunting dan sebagian punggungnya terbuka. Sepertinya wanita alim sudah tidak memperhatikan lagi keadaan dirinya. Jiwanya berkecamuk. Sebagian marah karena tindakanku, namun juga malu karena ikut menikmatinya.

Aku duduk di sisi tempat tidur, sambil menunggu reaksi, kuperhatikan sekeliling kamarnya, hampir semua barangnya bagus dan bermerk. Tempat tidurnya empuk sekali, pegasnya sangat elastis, isak tangis Bu Rofikahpun cukup terasa membuat kasur seperti bergelombang. Stereo set, TV, meubel, lukisan, tumpukan sepatu dan peralatan kosmetiknya termasuk merk yang sangat mahal.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, nggak terasa sudah lima jam aku berada di rumah Bu Rofikah. Hampir lima belas menit aku menunggu, tapi isakan Bu Rofikah belum berhenti juga. Ketika aku duduk di sampingnya, kucoba memegang tangannya, uluran tanganku langsung ditepis olehnya. Aku semakin bingung, kucoba mengusap kepalanya yang terbungkus jilbab, tapi dia semakin terisak-isak sambil menggeser tubuhnya menjauhiku sambil menedang-nendangkan kakin putihya kearahku…. tanpa disadarinya potongan celana dalam yang menutupi sebagian pantatnya terbuka… seluruh pantat sampai ke kaki terlihat sangat jelas.

Iseng-iseng kuperhatikan dari kaki hingga pangkal paha wanita berjilbab itu, kulitnya putih bersih merata, mataku terpaku di belahan pantatnya…. terlihat jelas lobang anusnya tertutup rapat dan disebelahnya tampak celah yang merekah berwarna merah muda dikelilingi bulu-bulu halus… membuat aku terangsang oleh pemandangan yang terpampang jelas di depanku, kurasakan kontolku bergerak mulai menegang…… kucoba mengalihkan perhatian dengan memandangi lukisan tapi kontolku malah semakin tegang.

Pusing aku jadinya……. tampaknya Bu Rofikah marah padaku……. akhirnya kutimbang-timbang antara pulang saat itu juga atau menunggu sampai kemarahan Bu Rofikah reda. Tapi pikiranku semakin sulit diajak kompromi, perhatianku tetap tertuju pada celah yang merekah itu…… terbayang nikmatnya ketika kontolku keluar masuk celah itu. Celah kenikmatan seorang wanita berjilbab yang selalu menjaga tubuhnya dari pria-pria hidung belang…. Apakah Bu Rofikah masih mau kusetubuhi selagi dia masih marah padaku.. tapi.. jangankan kusetubuhi, baru kupegang tanganpun dia tak mau….. kusetubuhi atau tidak, dia tetap marah padaku…, ” Ah, tadipun dia tidak mau kusetubuhi, tapi setelah terangsang dan merasakan nikmatnya bersetubuh akhirnya dia mau juga, kucoba lagi ah…. “, pikirku.

Diam-diam kucopot kancing celanaku satu per satu, kubuka seluruh penutup tubuh hingga telanjang bulat…. perlahan-lahan kugeser tubuhku mendekati pantat montok wanita berjilbab itu yang sudah terlihat…. Tempat tidur pegas Bu Rofikah benar-benar asyik…. sedikit gerakan membuat permukaan kasur bergoyang seperti gelombang. Bu Rofikah tahu aku mendekatinya… wanita montok berjilbab itu malah menutupi kepalanya dengan bantal…. hingga dia tak tahu bahwa aku sudah telanjang bulat……. samar-samar kudengar isak tangis yang ditahan….. tapi aku tak perduli.. yang kuperhatikan hanya lobang memek yang merekah berwarna merah muda di belahan pantatnya.

Sambil menunggu saat yang tepat, kucoba bersikap baik, kuusap-usap punggungnya dengan lembut. kaosnya kurapikan sehingga punggungnya tertutup ternyata Bu Rofikah tidak menunjukkan gerakan menolak perbuatanku…. akupun semakin berani….. diam-diam kembali ku singkap lebih keatas naju terusannya. kupijat-pijat lembut kaki wanita alim itu sambil menggeser sedikit demi sedikit supaya renggang…. lalu aku tengkurap di sebelah Bu Rofikah…. kuusap-usap lagi punggungnya… kuangkat sedikit bantal yang menutupi kepalanya… kutempelkan mulutku di kupingnya sambil berbisik ” Buu…. maafin Boy ya…. perbuatan Boy bikin Ibu jadi sedih…. aku janji tidak akan mengulanginya….. maafin Boy ya…….. “, Bu Rofikah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutupi kuping dengan kedua telapak tangannya, wajahnya tertunduk dalam… sepertinya dia tidak mau mendengar omonganku atau melihatku lagi… karena perbuatanku tadi.

Aku mengangkat tubuhku perlahan-lahan… kutindih punggung wanita berjilbab yang bahenol itu… sambil kubelai lembut kepalanya yang masih tertutup jilbab. bahu Bu Rofikah terguncang-guncang… isak tangisnya makin keras… dikiranya aku akan menghiburnya, padahal kugeser pantatku sedikit demi sedikit sambil menyibakkan terus baju terusannya, sampai seluruh pantatnya yang bahenol terlihat. kusibakkan semua yang menutupi belahan pantat wanita berjilbab montok itu, hingga lobang memeknya yang makin merekah terlihat jelas… akupun jadi tidak sabar ingin menusukkan kontolku ke lobang kenikmatan seorang wanita berjilbab yang sudah menganga itu.

Kubasahi kepala kontol dengan ludah…. perlahan-lahan kuangkat pantatku hingga tepat di atas pantat Bu Rofikah… dan kurapatkan kedua kakiku diantara kakinya…. kugenggam kontolku…. kuarahkan kepalanya tepat di bibir lobang memek wanita alim itu…. pantatku turun pelan-pelan…. tanpa ragu-ragu langsung kudorong…. Akh, kontolku sulit masuk… seret… masih kering dan sempit… ada rasa perih di kontolku.

Saat itu tubuh Bu Rofikah tersentak…. wanita berjilbab itu kaget sekali… merasa ada sesuatu menyentuh bibir memeknya dan memaksa masuk…. tubuhnya langsung meronta-ronta… ingin melepaskan diri dari tubuhku….. tubuhnya bergeser maju… pantatnya digoyang-goyang…. berusaha untuk menghindari dorongan kontolku… kedua kakinya tak bisa apa-apa karena tertahan oleh rok dan kakiku…. sambil menahan tubuhnya… kudorong kontolku dibantu tangan kananku… hingga pada dorongan keempat, kontolku masuk setengahnya… kudorong lagi…. kutekan sedalam dalamnya sampai mentok….

Makin kuat Bu Rofikah meronta makin terasa tubuh kami bergoyang-goyang… berayun-ayun… akibat pegas tempat tidurnya sangat elastis…. tanganku langsung menyusup ke balik baju terusannya yang bagian depannya sudah terbuka lebar… kuraba-raba perutnya… Bu Rofikah semakin meronta.. kupeluk tubuhnya dengan cara menyilangkan kedua tangan sambil mencengkeram buah dadanya yang kenyal dan keras… lalu kuremas-remas dengan lembut…. kedua putting kemerahan wanita berjilbab itu kutarik-tarik dan kupuntir-puntir… mulutku menjilat-jilat dan menciumi tengkuknya sampai basah… kujilat hingga ke belakang kupingnya…. kugigit-gigit ujung kuping…..

Gerakan meronta tubuh Bu Rofikah makin melemah… kutekan pantatku dengan kuat sambil kuputar-putar…. hingga tubuh kami bergoyang-goyang.. pegas tempat tidur ini memang sensitf sekali sedikit saja bergerak langsung terasa seperti diayun-ayun… aku merasakan kenikmatan bersetubuh yang unik di tempat tidur ini… kulihat mata Bu Rofikah berkaca-kaca…. wanita berjilbab itu menangis… merintih-rintih kesakitan…… ” Nngg…nnggng… uuhhuu….uuuhhh…nggg… aduuuhhh… sssssssakiiiitt….. nngg…… aaaaa….aaa….”

Tubuhnya tengkurap tak bergerak…. tangannya menjuntai lemas…. pelan-pelan kutarik kontolku… aduuhh sempit sekali… rasanya seperti di jepit… kudorong lagi pelan-pelan…. kutarik…. kudorong….. kutarik….. creeeeeeep… creeeeeeep… creeeeeeep… creeeeeeep….. creeeeep……. seret sekali……

Kucabut kontolku lalu kubasahi lagi dengan ludah…. kumasukkan lagi…. Nah, sekarang agak licin. Terasa buah dadanya makin mengeras… putingnya kupijit dan kupuntir…. samar-samar kudengar rintihan kesakitan Bu Rofikah berubah menjadi rintihan nikmat… akupun mempercepat gerakan naik turun sesuai ayunan pegas tempat tidur ini… pantat Bu Rofikah bergerak seperti membalas gerakanku…. bergoyang, menarik dan mendorong… rintihan nikmat wanita montok berjilbab itupun semakin jelas dan keras… tampaknya Bu Rofikah kembali terhanyut oleh kenikmatan persetubuhan ini, rasa sakitnya sudah berubah menjadi sakit-sakit nikmat. Aku yakin sebentar lagi wanita alim itu tidak akan merasa kesakitan…. tapi kenikmatan yang luar biasa……

Dia merintih, ” Aa..ahhhh… aahh.. mmmhhmm… ooohhhh… ooohhhh.. ooohhh… a.. aa..a.. aahhhh…” tak lama kemudian terasa ada cairan hangat membanjiri seisi memek Bu Rofikah…. kontolku semakin lancar keluar masuk… menggesek-gesek dinding memek wanita alim itu… mulai terasa nikmat… gerakan naik turunku semakin cepat… Aku semakin bernafsu… creepp…creepp…creepp…creepp… creepp… creepp… creepp…. creepp.. creepp.. creepp… dan terasa dinding memeknya seperti berdenyut.

Bu Rofikah semakin histeris… ” A..aa..hhh….aa…aaa..aahhhh… Boooy…. ooohhh…ooohhh… aa…aa..aahhh…. mmmhhhm…aahhh…ooohh…oohhhh…. Bbboooyy…. ssu..su..ddaah… aakh..aaah…. ssu..ssud…. a..aa..aaahhhhh…. te…tee..russs… Bbbooy… llagii.. laagii… oohhh…. “, Mendengar rintihan tak keruan itu, aku makin liar… kuangkat tubuhku lalu kutahan dengan sebelah tangan sambil kucengkeram kepalanya yang tertutup jilbab…. gerakan naik turunku makin cepat…. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. crep.. dengan gaya seperti joki sedang menunggang kuda.

Tangan Bu Rofikah yang semula terjuntai lemas menggapai-gapai ke kakinya menarik-narik roknya… dia ingin kedua kakinya bebas bergerak… Akupun mengerti… lalu kucabut kontolku dengan cepat dan Bu Rofikah menjerit kecil ” Ja..jangan..dilepass….” tubuh wanita berjilbab itu meronta-ronta… cepat-cepat kutarik baju terusannya juga celana dalam yang sudah sobek kugunting… kini tubuhnya hanya ditutupi jilbab panjang yang sudah awut-awutan. Jilbab itu semakin membakar birahiku yang sudah di ubun-ubun.

Bu Rofikah langsung membalikkan tubuhnya sambil mengangkang dan tangannya menarik pinggangku… dengan tergesa-gesa kumasukkan kontolku ke lobang memek legit wanita berjilbab itu… kutekan dengan kuat…. kutarik…. lalu kutekan dengan kuat…. bibir kami saling mengecup….menyedot…. gerakanku semakin liar……. creeepp….creeepppp…creeppp….creeppp… creepppp…creeeppp…. kutekan kontolku sampai mentok… creeeeeepp… ” Bboooy…. aahhhh… ooohhhhh…. oohhh….ooohhh….. enaaakkk….. ooohhh… Booy.. terruuss… te..tee..rrusss… ooohhh…. aaahhhhh…. aaaaaahhhhh….. “, wanita berjilbab itu sudah tak mampu mengendalikan dirinya, terus merintih rintih dan menjerit histeris… matanya terbeliak-beliak… tangannya menarik-narik pantatku…. kakinya menjepit pinggangku dengan kuat hingga tak bisa bergerak…. sepertinya Bu Rofikah baru mencapai puncak kenikmatan… terasa muncul cairan hangat membanjir, merendam kontolku.. licin sekali… hingga kontolku seperti ada di lubang yang besar, basah, hangat dan licin.

Tiba-tiba Bu Rofikah mendorong tubuhku dengan kuat hingga kontolku terlepas…. ” Sudah ah… ” katanya dengan bibir bergetar, kemudian kedua tangannya menutupi mukanya dengan kedua kaki masih mengangkangi tubuhku. Akupun ikut diam tapi untuk beristirahat memulihkan tenaga dan mengatur nafas lalu kuseka batang kontolku yang basah dengan kaos. Ketika aku bersiap kembali memasukkan kontolku, Bu Rofikah berkata dengan lirih, ” Boy, sudaaahhh…, Ibu mohon jangan diterusin… Ibu takut hamil..” dengan kedua tangan menutup memeknya, wanita berjilbab itu berusaha duduk sambil menarik mundur pantatnya menjauhi kontolku… tampaknya dia ingin mengakhiri persetubuhan ini.

Akupun berdiri di tempat tidur sambil mengusap-usap kontolku yang masih berdiri tegak, sambil duduk Bu Rofikah memandangku dengan sayu dan berkata, ” Terima kasih Boy, kamu mau ngerti “.

Tanpa berkata apa-apa, aku bergerak mendekatkan kontolku ke wajahnya…. kupegang kepalanya yang terbungkus jilbab… kudekatkan kontolku ke mulutnya, rupanya Bu Rofikah mengerti kemauanku, wanita berjilbab itu menggelengkan kepalanya, ” Nggak..Ibu nggak mau !”. Kupegang kepalanya dengan kedua tanganku… kutempelkan ujung kontolku ke bibir indahnya…. kudorong-dorong…. tapi mulut Bu Rofikah tertutup rapat…. ” Ayolah, sebentar saja Bu…”, kataku sambil duduk di depannya, Bu Rofikah tetap menggelengkan kepalanya, sambil berkata ” Nggak…nggak mau… pokoknya nggak mau… jijik….!”.

Aku jadi gemas, kutarik tubuh wanita berjilbab lebar itu hingga menindih tubuhku, kupeluk tubuhnya lalu kucium bibirnya…. dengan lemah tubuhnya meronta-ronta… kulumat bibirnya… kumainkan lidahku di dalam mulutnya, sampai akhirnya wanita bahenol itu membalas pelukan dan ciumanku… kami berciuman lama sekali, sekali dia berhenti menciumku… dia hanya memandangku…. tangannya mengusap-usap rambutku….

Tanpa disadarinya, aku mengarahkan kontolku ke lobang memeknya. Ketika posisinya sudah tepat, kuangkat pantatku mendorong dan blesssss…. kontolku langsung masuk, tubuh Bu Rofikah tersentak, wanita alim itu berusaha mengangkat pantatnya… tapi pingangnya kutahan dengan kuat… malah kutekan kebawah hingga kontolku hampir masuk semua… Bu Rofikah mendesah, ” Booy… aa..aaahhh… kamu memang nakaal… Booy… oohhh.. aaahhhhh….”

Lalu kami saling pandang, lama… tak ada yang bergerak diantara kami…. Bu Rofikah menundukkan kepalanya… dia mencium bibirku lembut sambil berkata ” Kamu memang nakal.. jahil… kamu nggak mudah menyerah rupanya… nggak mau nurut sama omongan Ibu… kamu jahat…. sekarang lepasin tangan kamu.. kalo nggak… awas !”.

” Tapi Bu… ” kataku, sambil mengerak-gerakkan pantatku keatas… dan menekan-nekan pinggangnya ke bawah… kuangkat pantatku berulang ulang… sesekali ketika kuangkat pantatku dengan kuat, pinggangnya kutekan ke bawah, hampir seluruh batang kontol masuk ke dalam memek Bu Rofikah… saat kepala kontolku menabrak dinding paling dalam, Bu guruku yang cantik dan berjilbab itu menjerit kecil, badannya bergetar….

Diapun tidak bisa menyelesaikan kata-katanya dengan benar, malah jadi merintih nikmat, ” Nggak ada tapi-tapian, kamu mau lepas nggak ? Ntar Ibu mmma..mmau…. la..lapor…. aaahhhh… aaww…. sstt…. ooohhhh…. ntar… Ibu.. laporrrinn… ssama… aww… ppo.. mmhhmm…aaahhhh.. polisssiii… aahhh…. ooohh… aaahhh…. aww.. aaaaaaaaaaaaaahhhh… sssstt….. aahhh…. ooohh… aa..aaww…. Bbooy… terusss…. aaahh… oohh…. Booooy…. Boooyyy…. aa..aaaaaww…. aaahhh… ooohhh…. te..teruuss… teruuusss… oohh… aahh… oohh..oohhh.. eeenaaakk… aa..aaaww… lagiii… enaak.. ssaayyaang….”

Kudorong tubuh wanita berjilbab itu supaya tegak, hingga posisinya seperti sedang berjongkok diatas kontolku dan pantatnya kutahan dengan kedua tanganku, kuhentak-hentak… kudorong.. pantatku keatas dengan kuat, dengan bantuan tempat tidur pegas ini, hentakanku makin lama makin cepat… sambil sesekali pantatnya kudorong melawan hentakanku hingga kontolku masuk sedalam-dalamnya…. aduuhh nikmat sekali… makin lama makin terasa sempit dinding memeknya yang paling dalam dan ada sesuatu yang bergerinjal-gerinjal menjepit kepala kontolku…. aku merasakan suatu kenikmatan yang baru… kutekan pantat Bu Rofikah ke bawah… kutahan beberapa saat… kurasakan kepala kontolku terjepit dinding yang bergerinjal-gerinjal… aku terdiam… mataku terpejam… nikmaat…. enaaakk… saking nikmatnya… akupun mendesah, ” Buuu… enaak sekaliiii…. ssstttt…. aahh… Ibuuu..Buu.. Indaahh… gelii… enaaak… ayooo…dong… gerakin lagi pantatnya… yaaa…. saayyanngg… yaa…”

Kulihat dia merintih sambil menggigit bibirnya, matanya terbeliak-beliak… merem-melek…. kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri. Wajahnya yang masih terbalut jilbab terlihat sangat terangsang…. kepalanya menggeleng-geleng…. setiap kepala kontolku menyentuh dinding memeknya yang paling dalam… tubuhnya tersentak dan gerakannya semakin histeris… pantatnya naik turun dengan cepat…. rintihannya semakin keras… diselingi jeritan kecil setiap pantatnya menekan ke bawah… ” Booyy… aah.. ooohh.. oohh… aa..aaa…aawww… aaaa..hhh… oohhh…aaahh… aa.aa.aaaawww…. Bbbooyy.. eenaak…. aahh…aaahhh… aa…aaa..aaaww…. enaak….” Akhirnya ketika Bu Rofikah menekan pantatnya dengan kuat, hingga kepala kontolku dijepit dinding bergerinjal-gerinjal, mulai terasa ada rasa geli luar biasa…. kontolku berdenyut-denyut…. terasa air maniku memakas ingin keluar… hingga tak mungkin lagi kutahan…..

” Buuu..Buu Rofikaaahhh.. Boy ma..mmau keluarrr… aduuhhh… geliii… ” rintihku.

Bu Rofikah menggerakkan pantatnya maju.. mundur… lalu berputar.. maju lagi… ke kiri.. ke kanan… diangkat sedikit… terus maju lagi… berputar lagi… kontolku terasa dipilin-pilin… diurut-urut…. disedot-sedot… rasa geli itu semakin kuat… makin kuat…. nikmat bercampur geli… ternyata guruku yang berjilbab ini mulai pandai menggoyang pantatnya yang montok, membuatku kelojotan.

Tiba-tiba tubuh Bu Rofikah menyentak-nyentak sambil menjerit kecil, ” Booyy… ayo… ssssayang… sama.. samaa.. aaahh… oohh… aaahhh… BBooooooyyyyyyyyy…. aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh….” tubuhnya menindihku…. pantatnya menekanku dengan kuat…. bibirnya mengulum bibirku…. wanita berjilbab itu memelukku dengan kuat…. dan akupun memeluknya lebih kuat…. sambil membalas ciumannya…..

Bersamaan dengan itu… ” Aaaaaaahhhhhh…… ” kontolku menyemprotkan air mani ke dinding memeknya berkali-kali… cret… cret… cret… cret… cret… cret… cret… aaahhh.. nikmatnya……. tak terasa tubuh kami berguling-guling… sambil berpelukan dan berciuman… mereguk seluruh kenikmatan dari persetubuhan ini.

Selama dua puluh menit, kami terdiam sambil berpelukan. Tak lama kemudian, kami melepaskan pelukan bersama, dan terlentang di kasur pegas kecapaian. Bu rofikah terlihat sangat capai. Tak lama, sambil masih terus terlentang, kembali isak tangisnya terdengar. Aklu sudah masa bodoh dengan tangisannya. Aku sangat puas dilayani. Bahkan kenyataannya, wanita berjilbab itu juga turut menikmati goyangan dan sodokanku di memeknya. Segera aku bangkit dan keluar mengambil tasku. Aku ambli kamera digital didalam tasku, dan menggunakannya untuk mengambil gambar bu Rofikah yang masih terlentang lemas di kasur. Foto ini akan kugunakan untuk mengancam wanita cantik itu agar tidak melaporkan semuanya, walaupun aku yakin tanpa diancampun dia tidak akan melaporkan perbuatan yang bisa membuatnya malu itu. Tiba2 melihat wanita berjilbab yang hanya tinggal memakai jilbabnya dan terlentang pasrah di kasur, kontolku bangkit lagi. Segera kudekati dia, dan kembali kumasukkan kontolku, kusodokkan ke memeknya. Kembali rintihan dan desahan nikmatnya terdengar. Nampaknya wanita cantik putih yang selalu memakai jilbab ini sudah mulai ketagihan kontol.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | 1 Comment