Jilbab Palupi

Aku sebenarnya adalah lelaki yang beristri dan memilki 2 orang putri cantik2…….umurku masih 35 tahun. Kerjaku adala konsultan, sehari2 aku selalu ada di rumah. Istriku berasal dari luar kota 3 bulan sekali dia mengujungi orangtuanya. Kami adalah pasangan muda yang tinggal dikomplek yang rata2 penghuninya sudah tua, beberapa di antara mereka ada yang sudah memilki cucu. Istriku usia berpaut 10 th dariku. Itu sebabnya di lingkungan komplek sebagian besar temannya adalah anak2 tetanggaku.

Salah satu yang menarik perhatianku adalah yang bernama Palupi. Dia sebaya dengan istriku, orangnya memakai jilbab karena ayahnya adalah ustad yang ada di komplekku. Tinggi badannya 170 cm sama tinggi denganku. Kulitnya yang putih dengan bibirnya yang merah mirip Anggelina Yolie, pasti membuat setiap laki2 yang bertemu tidak segan menatap lekat wajahnya yang kalau tersenyum membuat lesung pipinya. Bodynya benar2 bongsor dengan kombinasi paha dan bokong yang sempurna di balik jubahnya. Kuliah di PTN terkenal di kotaku membuat tiap hari berkendaraan melewati rumahku, tiap lewat dia selalu tersenyum dan menyapa istriku. Tiap ada kesempatan dia selalu mengasuh keponakannya di sekitar komplek.
Keponakannya sebaya dengan anakku yang pertama yang berusia 4 tahun,pada suatu ketika waktu bermain bersama anakku, Palupi mengantar anakku pulang. Kebetulan rumah lagi sepi karena istriku lagi ada keperluan dan dia membawa anakku yang no 2. Sebagai tuan rumah aku berinisiatif membuatkan minuman, waktu aku mengantarkan minuman dengan tersenyum Palupi menerima gelas yang kusodorkan sambil berucap, ” Eeh, terimakasih mas jay. kok repot2, mbak wati ke mana, mas?” Secara tidak sengaja tangan yang halus itu menyentuh lembut penggung tanganku. “Ooh, mbak wati sedang ada keperluan dik Upik” ,begitu aku biasa memanggilnya. Tiba2 ponakannya berlari menubruk gelas yang ada ditangannya, hingga menumpahkan minuman ke jilbabnya. Sebagian jilbabnya basah hingga menembus bajunya. Lalu tangan nya mengibas2kan jilbabnya, aku membantu dia dengan mengambil tisu, “Terimakasih mas… wah jadi basah jilbabku ini, mas. Aku jadi takut pulang ini khan jilbab kesayangan mamaku….”. Mamanya Palupi juga wanita berjilbab. “Mas jay punya setrika?” sambil menatap aku, dia masih mengibas2kan jilbabnya. “Ada di belakang, kalau mau pake aja dik”, lalu Palupi bergegas ke belakang sambil berpesan, “Mas Jay tolong jaga anak2, ya?”. Aku berjaga di depan menunggui anakku dan ponakan si Palupi. Tidak lama aku ingin ke kamar mandi. Waktu melewati kamar tempatnya palupi menyetrika baju, aku sengaja melambankan langkah agar dia tidak terganngu. Waktu aku melihat ke arah pintu, ah, aku terkejut ternyata palupi membuka jilbabnya dan baju jubahnya dan hanya memakai dalaman saja. Sontak jantungku berdebar menyaksikan pemandangan yang menakjubkan. Tampak kecantikannya dengan rambut hitam panjang dengan potongan shagy sepunggung, tampak kontras dengan punggung yang putih. Urat2 dadanya yang tampak kehijaun berjenjang sampai lehernya. Kuamati pula perutnya yang rata, dengan memakai bra hitam serta celdam hitam seolah membalut permukaan pualam. Tampak bukit kemaluannya menyembul melebihi perut. Sungguh adalah karunia bila kita mendapatkan bukit yang seperti itu. Aku merasa ada yang bangkit menekan celanaku dan aku segera bergegas mangambil BB ku untuk mengabadikan pemandangan indah itu. Setelah puas dengan beberapa jepretan aku segera mundur. Lalu aku dari ruang tengah sengaja berdehem, lalu dengan cepat pintu ruangan setrika ditutup. Aku pun pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi kemaluanku masih mengeras, untuk menyalurkan hasrat yang tertunda aku bermasturbasi dengan melihat ke dalam bb ku foto2 Palupi. Tak lama aku keluar dari kamar mandi, kulihat pintu ruang setrika sudah terbuka, ketika kulihat Palupi masih menytrika jilbabnya tapi dia sudah mengenakan jubahnya. Kuamati lekuk tubuhnya, bahkan jilbabnya yang longgar tidak mampu menyembunyikan lekuk payudara dan bukit kemaluanya membuatku menelan ludah. “Eh mas jay, sory mas aku lama nyetrikanya. sekalian jubahku ini kukeringkan”. “Aah ngak pa-pa dik”. Aku melihat resleting jubahnya kurang naik, sehingga sebagian punggunya terbuka. “Kamu udah punya pacar, dik?”, ” Baru jomblo mas”, “Lha, kenapa? kok ngak rugi pacarmu kehilangan orang secantik kamu?” Aku mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Palupi.” Iih, mas jay..cantik mbak Wati lagi”. Istriku emang cantik bahkan kalau dibilang sama Palupi malah mirip kakak-adik. Cuma istriku tingginya 160. “Aah sama2 cantiknya…itu resliting kamu kurang naik tuh”.

Palupi buru2 memindahkan rambut yang tergerai panjang ke belakang tengkuknya. “Aduh jadi ngak enak sama mas jay ini” “Mana tak bantuin, dik!!” Aku menawarkan diri. Ketika aku melangkah maju dia malah melangkah mundur. “Eeeeng…ngak usah mas”. “Udah sini cepetan “. Aku langsung berdiri di belakangnya. Mungkin karena tidak ada ruang lagi akhirnya Palupi pasrah aku menaikkan resletingnya. Tercium bau wangi shampo dr rambutnya. “Aaduh dek, rambut kamu wangi,ya” sambil tanganku meraih rambutnya kemudian kucium rambut panjangnya.” Mas jay jangan, aku geli, mas” , “Emang pacarmu ngak pernah cium rambut kamu dik”,” Ngak pernah mas, meluk juga ngak pernah” ,”Aah masak?” aku lalu memeluk perut dia dari belakang. Tampak dari cermin wajahnya terkejut dan memerah. Waktu kunaikan pelukanku di dadanya, tangannya disilangkan ke depan dadanya.” Mas jay, apaan sih aku malu, mas” sambil dia berputar ke arah depanku. Kulihat wajah yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat kupererat pelukanku hingga wajah kami mendekat, tidak lama bibirnya segera kulumat. Pertama lidahnya begitu pasif, tangannya sudah memeluk badanku. Kurasakan badannya gemetar menyambut ciumanku, detak jantung kami seolah seirama. Saat bibirnya terbuka aku memasukkan lidahku. Ragu2 Palupi menyambut lidahku. Libido Palupi terpacu dan gairah seksnya meninggi. Berlahan tanganku menyusuri punggungnya dan menarik resliting ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Kuraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Berlahan kaitan bra itu ku buka juga. Kurasakan semakin aku meraba, nafasnya menjadi berat dan pendek2. “Mas jangan, mas…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tanganku mulai menjamah ujung cd yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tanganku yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…mas jay”. Tanganku meremas lembut gundukan pantat kirinya, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tanganku. Kukunya mencengkram erat punggungku. Ciumanku pindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Palupi.

Jilatan pada leher putih tampak mengkilap ditimpa lampu,berlahan kucupang leher putih itu, “ Eerrrrhh…mas” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuhku, saat tanganku menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tanganku telah melorotkan cd nya. Tangan kananku membelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh…..mas, aku geli” tiap kali aku menyentuh anusnya. Ciumanku telah meninggalkan cupang merah di lehernya, tanganku meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke dadanya yang dipenuhi urat2 hijau, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibirku ikut turun kedadanya, bra yang telah kulepas melonggar dan memberikan kesempatan untuk mengecup payudaranya. Sementara tanganku telah berpindah menyusuri ketiaknya.

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki2 belum tumbuh, tanganku menyusuri memutar kedua payudara, kecupanku menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuhnya kian menyusup menahan kenikmatan,” Mas, mas, aku geli mas” kedua tangannya merangkul dan menekan kepalaku ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Kutempelkan telingaku ke dadanya, detak jantung semakin kencang. Tiba2 aku membalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tangganku telah memegang payudaranya, kedua putingnya kutaruh di antara jari2ku, kemudian secara cepat kulucuti jubah yang separuh menutupi tubuhnya berikut cd dan branya. Kubuka cepat kaos dan celanaku. Kududukan Palupi ke pangkuanku, tangan kanannya kuarahkan ke penisku. Dia terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi aku buru2 merapatkan badanku, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu kutarik puting dadanya dengan tangan kiriku. “Och.., mas” lirihnya. Dengan jariku kuplintir puting yang baru tumbuh itu. Tubuhnya mengejan, punggungnya menempel ke dadaku dan tangan kanannya meremas penisku lembut. ”Enak dik?”, “Aah…mas” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibirku tak henti2 mengecup tengkuknya dan tanganku aktif menarik kedua puting hingga badannya bergemetaran. Kupangku Palupi di atas pahaku, kubuka ke dua pahanya hinnga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya kuarahkah ke belakang kucium bibirnya dengan lidah kami membelit, kemudian tanganku turun membelai helaian jembutnya. Kulihat di cermin bayangan kami, tangan kiriku yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis. Mengingat Palupi adalah anak ustad yang alim, sehari2 memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk2 yang tertutup itu bisa kulihat dan kunikmati. Putingnya telah memerah karena kutarik dan kupilin, keringat deras mengalir di dada dan punggungnya, tangannya tetap meremas2 penisku dengan lembut. Ketika tangan kananku mulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Kucari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika kudapat lalu kutekan berlahan “Uuhhhhh….mas,kau apakan tubuhku mas?”, ”Rilex dek, enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….” Palupi hanya merancau sambil meremas penisku. Kuludahi tanganku kemudian ku usapkan ke klitorisnya. ”Sssssssttttts, ah” ketika tanganku yang basah oleh ludahku menyapu klitorisnya. Berlahan tangan kiriku turun menelusuri labia mayora. Kutarik salah satu labia mayora, kugosok dengan jempol dan jari telunjukku. ”Mas….geli”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua pahaku.

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan ku dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Mas…pingin pipis”. “Pipis aja dek. Ngak usah ditahan”, kupercepat putaran tanganku diklitorisnya. ”Aah…ah….ah…..mas aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas pahaku. Kurasakan klitorisnya berkedut2 dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi pahaku. Kulihat dari cermin di mana dadanya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah aku menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, kuturunkan berlahan dari pahaku dan kutidurkan di dipan ruang setrika. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Rambutnya terurai acak2an, kusingkap poninya dan kukecup lembut dahinya. Kuturunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus kukulum bibirnya, lidah kami kembali saling membelit. Ketika kuangkat kepalaku, kepalanya juga terangkat seolah tidak mau melepas bibirku. Kuambil posisi di samping kanan Palupi, tangan kiriku merangkul pundaknya melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Berlahan bibirku turun ke lehernya dan tangan kananku mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidahku berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Palupi. Dadanya terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidahku menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepalaku. “Dik boleh aku mencium putingmu?” wajahnya memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Kusergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah kuhisap lembut dan kujilat dalam mulutku melingkar2. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggungku dan tangan kirinya menekan kepalaku. Kurasakan keringat asin dari putingnya dan kurasakan getaran tubuhnya yang menandakan aku adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiriku aktif memilin puting yang lain, tangan kananku menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki2. Kemudian bibirku beralih ke puting kanan meninggakkan bekas gigitan disekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Palupi di saat putingnya tenggelam di bibirku. Kugigit lembut kutarik ke atas, palupi meremas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkukku. Sementara tangan kananku menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari vaginanya, ku usap vaginanya dan kugunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Matanya kembali mendongak bergetar hanya kulihat putih di kelopak matanya. Kugigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tanganku melesat mengangkat pantatnya, kulihat warna pink di sekitar kemaluanku hingga membangkitkan gairahku. ”Mas jangan…”, saat dia melihat kepalaku berada di antara dua pahanya, dengan lembut kujilat klitorisnya, ”Aah….mas, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalannya kembali terdongak. Kumasukkan ujung klitorisnya ke bibirku sampai semua masuk ke bibirku, ku gigit kecil2. “Aah…aah…aduh….mas aku ngilu” terus kujilati lubang pipisnya kulakukan gerakan vertikal, kujilat klitorisnya kubasahi dengan ludahku, kubuka klitorisnya dengan jariku, tampak benda sebesar biji kacang tanah terlihat mengkilat karena ludahku. Kujilat turun melalui labia mayora turun ke lubang vagina berputar dan sedikit menjilati anusnya. Kedua pahanya menjepit erat kepalaku.” Mas….Upik mau pipis lagi mas” kepalaku tersanggkut.

Di pahaku air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidahku. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Wajahku belepotan, segera kuambil lap. Ku amati sprei kami sudah berantakan, tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Palupi. Kuamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar2 menggetarkan, lalu kubuka pahanya dan kutindih tubuhnya. Tiba2 Palupi membuka matanya, “Mas jangan, aku masih perawan. Kasihani aku mas”, setitik air mata keluar dari ujung matanya. Aku pun kembali beringsut ke sisinya. ”Te..terimakasih mas, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik. Maafkan aku khilaf”. Lalu dia bangkit duduk di dipan, matanya melihat burungku yang mengacung keras. ”Iih….mas masih terangsang?”, “Iiya dik khan blom nyampe tadi”. Tiba2 tangannya meraih penisku. “Ini toh mas yang namanya kontol? Ih ngeri mas”. “Ngeri kalau diliat, klu dirasain entar juga enak”. “Aah aku ngak mau, mas. Aku khan masih perawan”. ” Eeh sapa suruh masukin memek, masukin kelainnya juga boleh.” rayuanku mulai mengenai, Palupi mulai meremas2 penisku. ” Maksudnya mas?”, “ Masukkin
mulut dong…”, “ Ngak ah, jijik……”,” bentar aja…..ya udah klu nggak mau kamu cium bentar aja. Tadi aja aku udah jilatin memekmu”

Dengan ragu Palupi mendekatkan penisku ke bibirnya. Awalnya hanya satu kecupan kemudian disusul dengan kecupan2 yang lain. Kemudian berlahan penisku dijilat2, kemudian Palupi membuka mulutnya dan memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya. Rasa ngilu langsung menyergapku. ”Aduh Pik, jangan pake gigi……”, berlahan2 penisku ditelan bibirnya yang seksi itu, rasa hangat dan nikmat kudapatkan. “ Sebentar pik, km berhenti dulu”, aku melompat meraih jilbab yang sudah distrika palupi. “ Buat apa, mas?”, ”Udah kamu pake aja biar seksi aja” Dengan cepat palupi mengenakan jilbabnya. Sekarang tampak pemandangan gadis berjilbab lagi menghisap kontolku, aku semakin terangsang. Selama 15 menit Palupi memainkan kontolku di dalam mulutnya. ”Aduh mas…aku pegal”. ”Oke mending kamu di sini berbaring aja”.
Palupi beringsut mengambil posisi tidur di sebelahku. Dia menggaruki selangkangnya ”Kenapa pik?”, ” Gatal mas ”O ohhh…itu normal tadi khan darahnya ngumpul diujung”, sambil tanganku membelai klitorisnya yang ternyata masih memerah dan keras “ssshhhh…mas” sambil dia merapikan jilbabnya. Jilbab yang dikenakan adalah semacam kerudung yang dikaitkan dengan peniti jadi ada belahan di tengah. Kembali tanganku menyusup ke dalam jilbabnya dan mengelus2 payudaranya. Matanya kembali sayu karena tubuhnya kembali dikuasai rangsangan.

” Pik, kamu percaya khan mas ngak bakal bobol perawanmu”, “Upik percaya, mas. Trus hrs gmn?”. ”Aku pingin ngesekkin kontoku ke pahamu boleh, khan?”. ”Cuma paha? Boleh mas tapi janji ya?” Lalu aku menindih Palupi. ”Oke sekarang pahamu rapatkan”. Palupi merapatkan pahanya. Lalu kuludahi kontolku. ” Pik, buka dikit pahanya trus rapetin lg, ya”. Palupi mengangguk dan membuka pahanya, kutempatkan kontolku di antara pahanya, kemudian dirapatkan lagi. ” Udah pik? Ngak kena lubang khan?”, ” Iiya mas” Kutempatkan tanganku di atas dadanya yang masih tertutup jilbab. ”EEehhhhhh….mas geli banget udah hampir ke lubang”. Kuatur kedua tanganku di belakang punggungnya. ”Segini?”, ”Iya mas”. Pelan-pelan aku mulai menaik turunkan kontolku, secara berlahan gerakan kontolku mendekati lubang Palupi.”Enak,pik?” Kutatap wajahnya yang dibalut oleh jilbab, wajahnya bersemu merah, ia membuang muka, ku cium bibirnya yang merah kesedot bibir bawahnya dan kujilati bibir atasnya. Palupi menutup matanya seolah merasakan desakan birahi, gerakan benar2 sudah tepat di lobangnya, hal itu ditandai bunyi kecipak. ”Mas?”, ”Hmmmmm?”, ”Aku mencintaimu….aku mengagumimu”. Semakin kupercepat semakin mengelinjang, semakin tersingkap jilbab yang menutupi payudaranya, kugigit pelan putingnya, berlahan pahanya melebar ke kiri ke kanan. Kontolku telah menggesek vaginanya yang telah basah.

Memandang Palupi yang sudah terserang birahi membuat dadaku seolah meledak, kutaruh tanganku di atas payudaranya sementara tangan satunya membantu kontolku untuk menggosok vagina Palupi. Berlahan kontolku mendesak masuk ke vagina Palupi, berlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Mas…trus….mas…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hatiku menguasai pikiranku. Kupelankan gesekanku kucabut ujung kontolku dari vagina palupi, kuhempaskan tubuhku ke samping Palupi. Berlahan dia membuka mata. ” Kenapa mas? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”, “Tidak, maafkan aku. Aku hampir merengut kesucianmu”. ”Hah? Kenapa berhenti mas”. ” Aku juga sering mengagumi, dik”.

Tiba2 Palupi memelukku,” Kau sungguh laki2 yang menepati janji. Ijinkan aku melayanimu mas”, lalu Palupi menaiki tubuhku. ”Aku juga kan menggesek pahaku, mas”. Berlahan tapi pasti kontolku bergesekan dengan klitorisnya, kontolku ditindih dengan rapat dengan posisi horisontal. Kontolku berlahan menjadi basah oleh lendir kewanitaannya, dengan menggunakan jari kananku aku meraba klitorisnya yang menyebabkan lubang kenikmatannya mundur ke belakang sehingga tepat di atas kontolku. Rangsangan jari2ku membuat Palupi menggeleng2kan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat poninya menyembul, tanganku meraih puting susunya tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulutku dengan sekali gerakan kuraih puting kirinya dengan bibirku kugigit kecil2 dan kukulum dengan buasnya. Berlahan tanganku berpindah menarik punggungnya agar dadanya dirapatkan ke dadaku, rasa hanggat menerpa dadaku keringat kami saling menyatu.

Dengan posisi pantat Palupi menungging aku menempatkan kontolku ke posisi vertikal.” Dik upik, coba digesek kontolnya mas sampe ke anus.” Palupi mengangukan kepala, kemudian mengesek naik turun kontolku yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibirku menggigit lembut pundaknya dan tanganku mengelus pantat bulatnya, kutarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolku. Wajah horny Palupi sungguh luarbiasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jariku menusuk2 anusnya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontolku masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah kami saling bertautan, nafas kami semakin memburu. Kepala kontolku tenggelam di gerbang vagina Upik, tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batangku hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, kurasa itu adalah selaput daranya. Kulihat Upik tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. Kulihat seberkas keraguan, tapi di saat ujung topi bajaku keluar dengan cepat Upik memasukkan kembali sebatas penghalang. “ Miliki aku, mas”.

Kemudian dengan menarik nafas panjang Upik menaikan tangannya di atas dadaku, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukan seluruh batang kontolku hingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…mas, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuhku. Aku mengangkat pantatku agar kontolku tidak lepas dari vaginanya. Kami terdiam sesaat, Upik mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih mas, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan2”. Perlahan Upik mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……mas….”, kemudian tubuhnya diangkat keatas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok dek, biar mas liat”. Palupi berjongkok dengan kontolku yang masih tersarung divaginanya, kulihat darah merah mengalir di sela2 kontolku. ”Sssshhhhtttt…ah…mas, aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Kutahan pinngulnya yang ramping itu agar kontolku tidak lepas dari vaginanya. “Mas…mas.mas…ouch” kontolku keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

Rasanya kontolku dipilin2 oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Upik. Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontolku seiring dengan makin terangsangnya Palupi. Lututnya kembali diturunkan, jembut kami menyatu. Tanganku aktif meremas dan memilin putingnya. Gesekkan yang dirasakan kontolku keluar masuk vagina Upik semakin terrasa ditambah kedut2 di dalam vaginanya tiap kali Upik memasukkan kontolku, aku mengangkat pantat dan pinggulku agar penetrasi semakin dalam.

” Mas aku mau nyampe…”, “iya dek kita sama2, di dalam apa di luar?” Upik tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, aku juga merasakan ujung kenikmatanku akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek2 dan berat. ”Dik, mas mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama laharku sudah mendesak keluar. ” Dik ….. Mas nyampe…….ah….” dengan kerasnya kuangkat pantatku, laharku menyembur memenuhi lorongnya., Upik masih bergoyang di atas kontokku.

“Maas…aku juga…..” Tiga goyangan dia mengejan di atas tubuhku, kurasakan tubuhnya melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dadaku, tangannya memeluk tubuhku dan kukunya menancap di punggungku, dada kami saling menempel hingga kurasakan detak jantungnya yang cepat. Kontolku serasa diurut2 oleh vaginanya, tanganku memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telingaku. Setelah birahi melanda, keringat kami saling melekat satu sama lain. Kubiarkan Upik beristirahat di atas tubuhku, tak lama kemudian kontolku mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir kami meleleh turun mengalir di sela pahaku dan membasahi sprei.

Palupi menggeser tubuhnya di sebelahku dengan posisi miring dia memelukku. Tampak wajah cantik dan hidung yang mancung dipenuhi buliran keringat, aku mencium kening dan rambutnya. “Maafkan aku dek”, “ Kita khilaf mas, bagaimana kalau aku hamil mas?”, “ Kamu jadwal mens kapan?”, “ 3 hari yang lalu aku selesai mens, mas”, ”oh berarti ngak bakal hamil, karena blom subur”

Aku lega mendengar hal itu. 5 menit kemudian Upik bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, kuamati jalannya agak mengkangkang dengan sekali-kali tangannya mengusap selangkangannya. Aku kemudian melepas sprei yang bernoda darah dan bercampur dengan spermaku, agar istriku tidak mengetahui kejadian barusan. Setelah 10 menit Upi kembali ke kamar dengan keadaan jilbab yang terpasang rapi dengan tubuh yang masih telanjang.

”Mas kok kayaknya di selangkanganku kok masih ada yang nyangkut? Tetrus labia mayoraku kok tambah lebar?”, tanyanya lugu ke aku. “Biasa klu pertama ML, masih peret berarti” sambil tanganku mengusap klitorisnya. Plak, tangannya memukul punggungku “ Mas jangan, aku geli. Khan udahan mas. Mana bra dan cd ku mas?” Kami mencari bra dan cdnya yang aku lupa terselip di sprei yang aku bereskan tadi. Cukup lama kami mencarinya, dengan tubuh yang bugil dan hanya mengenakan jilbab saja Upik berjongkok di atas kasur melihat barangkali dalamannya jatuh ke samping tempat tidur. Pantatnya menungging ke arahku memperlihatkan belahan memeknya yang masih segar kemerahan, tak terasa kontolku mulai bangun lagi. Kucengkram pantat yang padat itu, lalu kijilat memek merahnya. “Mas apa sih? Geli mas” . Upik hanya menggoyangkan pantatnya. Di bawah sinar lampu tampak memeknya yang mengkilap kemerahan karena ludahku. Tubuhku menyusup di antara tubuhnya, aku mengambil posisi 69. “Ayo dik, kontokku jangan cm dilihat”, ” iya mas…” bibirnya dengan cepat telah mengulum kontolku, lidahku mengaduk2 vaginanya sekali2 mampir ke anusnya.

Pantatnya kian diturunkan ke wajahku, digoyangkannya naik turun. Klirorisnya kugosok dan kupiln dengan jariku sambil sekali aku sedot dan kugigit kecil. Tampak labia mayora yang semakin lebar kutarik kanan kiri, Upik semakin mengelinjang. Semakin terangsang semakin melengkung tubuhnya mulutnya tidak berhenti menyedot kontolku. “ Mas…..ah…..mas……” lepas mulutnya dari kontolku, dijilati kedua pelirku. Tubuhku beringsut mengambil posisi doggy style, kugosokkan kontolku ke klitorisnya “Aaaaaah….geli mas”, ”Eeenak, sayang?” tanganku menggosok klitorisnya yang sudah basah sambil mengarahkan kontolku ke lubang memeknya. ”Eeeemmmh….enak mas. Aku diapain mas?”

Aku jawab dengan memasukkan kontolku ke dalam memeknya, seperti pertama tadi rasanya ada sesutu yang menahan penetrasiku. Bles….aku menunduk mencium punggungnya yang sudah berkeringat, rasa asin menerpa lidahku kususuri punggung putih itu hingga leher jenjangnya. ”Aaaau….mas”. Tanganku aktif meremas2 susunya, Upik semakin beringsut mendorong pantatnya ke belakang. Kutarik kontolku dari vaginanya, plok,plok….setiap kali ujung kontolku masuk ke vaginanya seolah udara kupompa keluar dari lubang memeknya. ”Aduh mas, pelan…masih perih”tubuhnya gemetaran menahan antara sakit dan nikmat. Kubuka lebar pantatnya semakin dalam kontolku memasuki tubuhnya, akhirnya tubuhnya melengkung menyebabkan pantatnya semakin menungging.

Dadaku penuh sesak dan bergemuruh antara merasakan kenikmatan di kontolku dan melihat punggungnya yang berkeringat mengkilap diterpa cahaya, sungguh pemandangan yang eksostik. Aku terus menambah kecepatan ayunan pantatku, krn tadi aku sudah keluar kontolku menjadi perkasa untuk ronde kali ini.

“Aaaaah…uh…mas aku mau dapet, mas”, ”iya sayang…” hujaman kontolku semakin cepat pada hujaman sepuluh tubuh Upik mengejan bergetar. ”Mas…ahhc…aku dapet”, kutarik pinggulnya agar merapat ke kontolku, kedutan2 vaginanya menerpa permukaan topi bajaku. Kepalanya rubuh ke kasur, tanganku menggosok klitorisnya. Kembali lelehan lendirnya membasahi jembutku. Kubalikan tubuhnya yang putih bersih tanpa cacat, tubuh yang selalu tertutupi oleh jubah dan jilbab panjang itu kini terlentang pasrah di hadapanku. Kubuka pahanya, kugesekan kontolku ke anusnya. Palupi menggelinjang, kakinya diangkat ke atas. Kutarik pinggulnya ke arah kontolku, lubang yang telah basah itu seolah menarik penisku untuk masuk ke dalamnya. Kuangkat kakinya di atas pundakku, kuciumi dan kujilati betisnya. Payudaranya yang besar dan bulat bergoyang berputar setiap kali aku menghentakkan selangkangannya, kupilin2 klitrorisnya. Kepalanya menggeleng2, jilbab yang dikenakan mulai terbuka lagi. Kutaruh kakinya menindih kakinya yang lain, kontolku tetap tidak kulepas. Penetrasi dari samping semakin menjadikan vaginanya sempit.

”Aaaaahhhh mas, sempit mas” dari samping pula aku melihat payudaranya menjadi mngancung dan berayun-ayun. Kutarik tangannya agar penetrasiku semakin dalam. Ketiaknya yang bersih tanpa bulu kucium dan membuat Upik semakin tenggelam dalam birahinya. “Mas cium aku” bibir bawahnya memerah karena seringkali digigit tiap kali ujung kontolku mentok dirahimnya, akupun membungkukan badanku dan meraih bibirnya sementara tangan kananku menaikan tenggkuknya. Kutekan pahanya untuk membuat penetrasiku semakin dalam” Aaaah mas….mentok mas””enak?” “He…em” gumannya.

Setelah 10 menit dalam posisi yang sama kedutan dalam vaginanya kembali muncul, penisku menjadi sangat tegang, dibayangi oleh wajah berjilbab dan susu yang bergoyang menjadikan aku tidak mampu lagi menahan ejakulasiku.”Dek aku mau nyampe….”,”nyampe aja mas, aku bentar lagi”. Aku menggeram dan melepaskan tembakan ke dalam rahimnya. ”Ooooh…Pik aku nyampe” kuhujamkan dalam kontolku hingga mentok ke rahimnya.

”Mas…aku nyampe”, tubuhnya beringsut tanganya menegang hingga hampir terlepas dari cengkramanku. Ketika semprotanku selesai aku menindih tubuh Upik, keringatku sekali lagi menyatu dalam keringat Upik. Kucium bibirnya, hidungnya dan pipinya. Upik tersenyum manis hingga lesungnya terlihat. ”Aaaah mas nakal aku tadi khan udah mandi”, Ya sono mandi lagi”, ” Aaaah males mas, rasanya lemas banget aku tak tiduran di sini dulu”. ”Jangan Pik, entar istriku pulang berabe”, ” TApi lemas mas”.

Akhirnya dengan bantuanku, aku membimbingnya ke kamar mandi, sebelum masuk aku sempat memasukkan jariku ke vaginanya tapi ditepis sama tangannya. “Mas cariin jubahku sama dalemanku ya?” Aku beranjak ke kamar setrika dan menyerahkan jubah dan daleman ke Palupi.

Kulihat anakku dan ponakan Upik sudah tertidur pulas di ruang tengah. Akupun bergegas mandi di kamarku dan berganti pakaian.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Menikmati Akhwat Gru TK

Sore itu aku jalan-jalan di sekitar TK Al Munawarah, tampak anak kecil sedang belajar huruf hijaiyah. mereka tampak rapi melafadzkan huruf – huruf tersebut, memang kekuatan huruf hijaiyah itulah yang membuat Al Qur’an tetap otentik sampai sekarang.

Di balik kerumunan itu terlihat ukhti Oki sedang menulis di papan, ukhti tampak anggun dan ayu suaranya terdengar merdu. aku sering bengong menikmati kecantikan wajah ukhti OKi.

Beberapa hari terakhir tiap sore aku mampir ke TK tersebut untuk menikmati kesejukan Ukhti Oki. Jilbab lebarnya tidak bisa menutupi kemolekan tubuh nya, rok panjangnya menutup sampai kaki.

Akhirnya aku cari akal bagaimana mendekatinya, kalau para akhwat kan tidak boleh berdekatan dengan lelaki atau pacaran apa lagi yang lain.

Aku pun menemui Mba Oki dan mengutarakan isi hati untuk ta’aruf (perkenalan), walaupun pada awalnya ditolak akhirnya ybs mau diajak jalan.

Pada pertemuan awal hanya makan siang dan jalan-jalan ke toko buku. Di pertemuan ke tiga aku ajak ybs ke Ancol.

Perjalanan ke Ancol menggunakan motor supra fit ku yang sederhana. perjalanan sangat menyenangkan kita sering bicara hal hal yang tidak jelas, diselingi tawa renyah dan canda-an kecil. Dalam hati aku berpikir akan benar-benar jatuh cinta pada mba Oki.

Tanpa disadari tubuh kami merapat, karena mbak Oki bonceng gaya laki-laki dan aku suka mengerem mendadak saat ada lobang di jalan dapat kurasakan tonjolan hangat bukit kembar mbak Oki, hembusan nafas mbak Oki sering menerpa tengkuk belakangku, aku pun menjadi horny dan makin pelan dalam berkendara.

Sesampainya di Ancol aku memilih pergi ke Dufan terlebih dahulu, pada saat mengantri ticket aku beranikan untuk memeluk tubuh sintal Mbak Oki dari belakang, penisku langsung mencium lembut pantat mbak Oki, agaknya mbak Oki sudah tidak mengindahkan norma-norma ke akhwatannya. Aku pun memanfaatkan hal itu untuk memeluk erat tubuhnya, penisku makin menegang dan membesar. Oki hanya diam dan malah menggerak- gerakan pantatnya, yang makin membuat aku keenakan.

Kami bermain di Dufan sampai sore, kemudian meluncur ke pantai Ancol, suasana pantai sangat sepi hanya tampak beberapa pasangan di kejauhan.

Kami berpelukan memandang debur ombak dan matahari yang mulai menyurut, suasana sangat romantis ,kedua tangan mba Oki menumpu pada batas pantai, meskipun memakai jilbab lebar dan rok panjang , pantatnya sungguh terlihat indah,wajah ayunya diterpa sinar matahari sore yang redup. Aku memanfaatkan kesempatan untuk memeluk tuuhnya dari belakang , dan si penis yang sudah sedari tadi tegang, langsung menyusur belahan pantatnya, mba Oki malah tampak menikmati tonjolan di pantatnya . Aku beranikan tanganku untuk menyusup ke jilbab lebarnya dan meremas payudara montok nya, mba Oki tampak terkejut tapi setelah ku bujuk akhirnya Oki hanya diam, dan lama kelamanan mulai menikmati. akupun makin intents mengosok belahan pantat oki dengan penisku. Suasana makin gelap aku beranikan untuk menyingkap roknya, tangan mbak Oki berusaha menolak, tapi karena kalah tenaga dia akhirnya diam saja, aku megelus pantat bahenolnya dan menyusuri selangkangan dan paha mulusnya. Mbak Oki tampak mulai terangsang. Tangan ku mulai mengaduk-aduk vagina mbak Oki yang makin membuat mba Oki kelojotan. Diam-diam aku mengeluarkan penisku dan aku selipkan di selangkangan mba Okidan, akhirnya langsung menembus vagina mba Oki dengan pelan.

Mba oki ingin berteriak, tapi ku bungkam mulutnya dan aku terus menyodok pelan, tetesan air mata mba oki mengalir di tanganku, lama-kelamaan dia tampak pasrah. Dan aku terus memacu penisku, sungguh jepitan vagina mbak Oki sangat nikmat, setelah beberapa lama, aku membalikkan tubuh mbak Oki dan memaksanya berjongkok sehingga penisku mengacung tepat di wajahnya, aku memaksa mbak Oki mengulum penisku dan muncratlah air maniku di mulutnya, mbak oki tampak sedih karena keperawanannya telah hilang, tapi aku hibur dengan berjanji untuk menikahinya. Kami pun pulang agak larut.

Mulai hari itu, aku sering berkunjung ke TK tersebut dan di waktu senggang mbak oki sering bercumbu dengan ku, bahkan sering aku memaksanya untuk memuaskan syahwatku ketika murid-murid telah pergi. Mbak Oki sering menangis dan menagih kapan aku menikahinya. Aku hanya menjanjikan secepatnya makin hari aku makin sering bermain ke tk tersebut, ketika aku melihat mbak Oki mengajar nafsuku terasa menggelegak, keanggunan wajahnya dan indah tubuhnya tidak bisa di tutupi oleh jilbab lebar yang di kenakan, senyum dan candanya ketika mengajar makin menggairahkan tapi senyum itu kadang berubah menjadi tangis ketika penisku menusuk mulut dan vaginanya, aku kadang-kadang sudah tidak menhiraukan lagi ke akhwatannya setiap ada kesempatan, penisku menghujam ke belahan vagina yang sempit kepunyaannya, kadang kami ke mall atau ke bioskop dan pada akhirnya aku memaksanya untuk mengocok penisku, kadanga di bus kota aku senantiasa menggesek penis ku ke belahan pantatnya dan di akhiri semburan air maniku di tempat-tempat sepi.

Setelah tiga bulan semua per zinahan ini berlangsung aku memutuskan, untuk menghilang dan meninggalkan kekasihku mbak Oki yang anggun dan ayu itu, mungkin mbak Oki sekarang sudah hamil dan menikah, dan mungkin telah melahirkan anakku.

Semoga kisah ini tidak terulang pada para akhwat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Petualangan di KRL Dengan Wanita Berjilbab

Setelah pergi dari mbak Oki (kisah Guru TK/Akhwat), aku menuju daerah Bogor dan tinggal beberapa lama di sana, aku sering nongkrong di stasiun Bogor dan bolak balik Jakarta untuk menjalankan bisnis komputerku. Aku betah nongkrong sambil memandang gadis -gadis SMA dengan rok pendeknya.Tapi kesukaanku tetap gadis-gadis ayu yang berjilbab lebar, karena mereka menjaga dari hubungan intim dengan laki-laki non mukhrim termasuk himbauan jangan berdesak-desakan di KA maka , hobbyku tidak mudah terlaksana.

Kondisi KA sangat berdesak-desakan, dengan malas aku naik KA dan mengambil posisi paling belakang , ketika aku lagi bergelantungan dengan ngantuk-ngantuk tiba-tiba ada bau wangi menyeruak.

Tampak seorang wanita muda dengan rok panjang mendesak ke arah ku, karena penumpang memang terus bertambah sehingga wanita berjilbab itu mau tak mau terdesak ke arahku. Wajahnya cantik dengan baju blus lengan panjang agak ketat dan rok panjang yang agak ketat, menurutku kerjaannya seperti kasir bank atau semacamnya, kepalanya tertutup jilbab sebahu, wanita muda ini tampak agak kegerahan, tampaklah tonjolan-tonjolan dada di balik baju panjang ketatnya, sungguh beruntung aku hari ini. Rok panjangnya punya belahan di belakang.

Lama-lama wanita muda itu terdesak dan menyentuh bagian penisku. Pantat yang menggelembung itu terasa empuk, terasa mengelus penisku. Dia sempat memalingkan wajah ke belakang dan tersenyum, sambil berkata ” Maaf ya…”. Karena kereta mulai berjalan aku berpegangan ke besi di atas dan tak terduga tangan kami bersentuhan, kami pun hanya bertukar senyum, lama-lama penisku menegang dan membesar. Si mbak terlihat risih, walau dia berusaha tersenyum. “Enak nih!” pikirku. Karena membelakangiku, aku tak dapat melihat reaksi pada wajahnya.

Pikiran ngeresku jadi kumat, sambil mengikuti goyangan kereta, penisku aku gesekkan ke belahan pantat mbak cantik didepanku, kebetulan celana yang ku pakai celana gombrong, gesekan penisku ku geser-geser ke belahan rok si embak, si embak menengok aku hanya menempelkan jariku di bibir manisnya tanda suruh diam. Dia diam saja, aku merasa kalau dia juga terangsang karena berdempetan dalam kereta ini, sebab dia tidak melawan. Tubuhku aku rapatkan layaknya memeluk wanita di depanku ini. Rok embak di bagian belakang aku turunkan resletingnyaaku sisingkan sedikit dan aku keluarkan penisku dari sarangnya sehingga penisku menggesek gesek pantat si mbak yg langsung kena celana dalamnya, terasa nikmat sekali. Aku berusaha menenangkan mbak, sambil membisikkan , tidak ada yang tahu. Beberapa orang di samping yang kebetulan ibu muda dan gadis SMA mulai melirik keakraban kami, tapi tidak menyadari apa yang terjadi di antara penisku dan pantat mbak.

Aku juga mulai menyusupkan tangan ku untuk meremas buah dadanya, sungguh nikmat rasanya.

Pada pemberhentiaan berikutnya aku bisikan, “Turun yuk” dan si embak mengangguk. Aku pergi ke belakang stasiun yang kebetulan sepi dan langsung meminta mbak tadi untuk mengocok penisku dengan mulutnya. Setelah puas langsung aku naikkan rok nya ke perut dan terpampanglah kemolekan pantat nya, putih nyaris tiada cela. Aku ambil posisi berhadapan dan menyodoknya dari depan, si embak tampak melenguh, menikmati besarnya penisku membelah vagina nya yang masih rapet itu. Agak susah tapi akhirnya berhasil juga mbak itu aku perawani. Setelah melakukan penetrasi sekitar 10 menit, aku lentangkan lagi tubuhnya dan aku renggangkan kaki kanan dan ku tusuk kembali vaginanya, hampir meledak rasanya penisku di emut vagina wanita muda ini.

Ketika aku mau orgasme, si embak minta gantian di posis di atas, aku gantian terlentang dan si embak duduk menghadap ke kaki sambil mengocok penisku dengan vaginanya, kami pun orgasme bersamaan dan tubuhnya langsung terlentang ke atas dan menindihku. Karena si embak terburu buru, kami hanya bertukar kartu nama, dan si embak ngeloyor kembali ke kereta. Sungguh luar biasa pengaruh ilmu pelet yang aku pelajari, hanya dengan sekali ketemu saja dia langsung bisa aku setubuhi.

Aku kemudian bersantai di warung kedai kopi terdekat.

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Menikmati Ulvah Akhwat Cantik Berjilbab Lebar

Aku adalah salah seorang anak pengurus DPP Partai, dan sering hilir mudik ke DPP membantu Bapak. Penampilanku sopan dan bersahaja, katanya ganteng dan murah senyum. Waktu keluar dari DPP Partai di daerah Mampang, aku berpapasan dengan serombongan akhwat yang akan menuju Monas untuk berkumpul berdemonstrasi.

Setelah semua persiapan selesai, aku naik bus way dan ternyata bertemu dengan rombongan tadi, yang berjumlah 5 orang, 1 orang murrobiyah dan 4 muttarobinya, sang murrobiyah berumur 45 tahunan tampang cukup dewasa, sambil membawa 2 orang anak. Ke empat muttarobi masing masing Rina, Ulva, Saskia dan Dila, mereka semua berpakaian panjang dengan jilbab sampai pantat. Mereka memakai jilbab yang berbeda-beda ada yang putih, ungu dan biru tampak anggun dan serasi dengan wajah manis mereka.

Rupanya di antara mereka yaitu murrobiyah nya mengenali wajahku, meski tidak kenal nama tapi menjadi awal yang baik untuk perkenalan.

Sang murrobi tersenyum tipis dan akau membalas dengan sopan. Sambil bengong aku memandangi ke empat remaja putri yang ayu dan anggun, sebenarnya aku tidak begitu tertarik ikut demonstrasi, tapi karena simpati ku terhadap kekejaman Israel, akhirnya aku memutuskan ikut, aku sendiri bukanlah anak yang taat beragama sebagaimana ikhwan Partai lainnya.
Mereka memakai jilbab yang berbeda-beda ada yang putih, ungu dan biru tampak anggun dan serasi dengan wajah manis mereka.

Rupanya di antara mereka yaitu murrobiyah nya mengenali wajahku, meski tidak kenal nama tapi menjadi awal yang baik untuk perkenalan.

Sang murrobi tersenyum tipis dan akau membalas dengan sopan. Sambil bengong aku memandangi ke empat remaja putri yang ayu dan anggun, sebenarnya aku tidak begitu tertarik ikut demonstrasi, tapi karena simpati ku terhadap kekejaman Israel, akhirnya aku memutuskan ikut, aku sendiri bukanlah anak yang taat beragama sebagaimana ikhwan Partai lainnya.

Meski jilbab menutup sampai ke bawah, keindahan tubuh ke empat akhwat itu tampak terlihat jelas, dengan kulit wajah yang senantiasa berseri tanpa meninggalkan kesan pemalu, dada yang menonjol dan pinggang yang membesar layaknya biola.

Mendekati pasar festival, seorang akhwat terpaksa berdiri karena ada ibu yang lebih tua masuk demikian juga aku ikut berdiri karena banyak penumpang lain berdatangan, kebanyakan ibu-ibu arisan dan anak-anak seumuran SMP dan SD.Kondisi bus jadi lumayan padat,aku dan akhwat tadi berdiri berdekatan bahkan akhirnya bersentuhan. Tak dapat tidak mataku tertuju pada bongkahan pantat akhwat yang sintal dan menggairahkan.

Si akhwat juga asyik berbicara dengan temannya yang duduk, aku memutuskan mengambil kesempatan untuk menempelkan tubuhku ke badannya, maklum goyangan bus mendukung niat jailku itu. Nyaman sekali ketika penisku menggesek pantatnya, si akhwat sepertinya maklum karena kondisi bus yang bergoyang dan sedang asyik ngobrol dengan temannya, tapi lama-kelamaaan dia menyadari ada batang penis yang menempel di belahan pantatnya, dia pun mulai terdiam, kesempatan ini aku ambil untuk membuka pembicaraan
dengan dia, “Mau ke mana mbak?”, tanyaku. ”Ke Monas ada munasyoroh” jawabnya, merdu sekali suaranya. “Maafya desek-desekan”, kataku. Sejak dari pasfest aku sering menggesekkan penis ku ke pantatnya, nikmat sekali belahan pantat akhwat ini, empuk dan berisi, dia kadang tampak risi, tapi karena tahu kondisi dia diam saja, sesampainya HI kondisi macet total karena ratusan ribu massa Partais berkumpul di sana, setelah 30 menit menunggu kondisi tetap seperti semula, banyak suara sound system yang meraung keras. Aku makin berani menempelkan penisku dan tanganku mulai meraba pinggulnya, dia tampak menyadari hal tersebut namun karena malu dia diam saja, tanganku meremas pantatnya beberapa kali dan kadang turun ke paha, tanganku yang satunya berusaha menelusup lewat ketiaknya untuk menyentuh bukit indah di dadanya.Setelah sekitar 5 menit aku meremas pantatnya, akhwat itu tampak menikmati bercampur marah, dan kemudian membalikkan badannya sambil mendelik melotot.

Kemudian aku memanfaatkan kondisi itu untuk secepat kilat mengambil pisau di saku, dan menusuk ke perutnya. Si akhwat tampak kaget, sambil bertatapan aku berkata “diam”. Kemudian kuambil tangannya dan ku tempelkan kepada penisku dan menuntunnya untuk membelainya, mau tak mau akhwat itu harus menuruti perintahku, kemudian ku keluarkan penisku dan tangan mungil itu kupaksa mengocok penisku, nikmat sekali rasanya. Mata kami terus bertatapan, dan lama kelamaan tampak sayu lah mata gadis itu. Tangan ku yang satu mulai bergerilya ke bagian payudara, dan meremas-remas dadanya. Karena posisi yang rapat orang di sekeliling tidak menyadari, dan hanya melihat-lihat keramaian di luar.

Di tengah keheningan kami, sang murrobiyah dari jauh berkata, ”Ayo turun saja”. Aku pun bersungut dan mengikuti mereka dan berbisik ke pada si akhwat yang kuketahui bernama Ulva, jangan bilang ke mereka. Ulvah hanya menunduk mungkin karena malu dan takut. Aku terus berbaur dengan mereka sambil ikut meneriakkan yel-yel.

Aku menempel Ulvah dan berada di paling belakang dari kami ber enam, mereka sibuk dengan aktivitasnya serta mengurusi kedua anak sang murrobiyah.

Aku mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol ulvah tapi tidak dijawab,sepanjang perjalanan aku sering meremas pantat ulvah dan kalau kondisi berdesakan aku keluarkan penis untuk minta dikocok, suatu saat aku tidak tahan dan muncratlah air maniku ke luar, aku pun pura-pura bego dan tetap bersama mereka.

Ketika sampai di perkebunan Monas, aku paksa Ulvah untuk memisahkan diri, tentu saja dengan pisau ditodong ke balik jilbab ulvah. Aku mencari tempat di sebelah mushola di mana kondisi tidak terlihat siapapun, dan kembali memaksa ulvah untuk mengulum penisku dengan mulut mungilnya.

Setelah selesai aku kembali membaur, saat acara selesai kami pun pulang bersama…Di Bus Ulvah hanya diam dan tampak lelah, sebagaimana yang lain juga kelelahan. Sepanjang perjalanan penisku senantiasa menempel di belahan pantatnya….nikmat sekali pengalaman hari itu.

Sesampai di DPP aku hanya bertukar senyum dengan murrobiyah, aku berharap esok hari bertemu Ullvah lagi.

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Pelecehan Akhwat Partai Di Krl

Sore itu, Stasiun Tebet terlihat ramai dengan calon penumpang yang menunggu KRL jurusan Bogor. Di antara keramaian tersebut terlihat dua akhwat berjilbab duduk di bangku stasiun sambil berbincang.
“Ukhti Nabila, berapa lama sih ke Bogor?” tanya salah seorang dari dua akhwat berjilbab tersebut. Akhwat yang bertanya ini terlihat alim dengan jilbab lebar warna krem dan kaos lengan panjang berrtuliskan Muswil Partai dengan rok panjang warna coklat membalut tubuhnya serta kaus kaki yang membungkus kedua kakinya sewarna dengan jilbab yang dipakainya. Sebuah pin bergambarkan lambang Parati tampak menghiasi jilbab lebar yang dipakainya.
“Sekitar 1 jam atau kalau lelet yaa sampai 1,5 jam….ukhti Rahma belum pernah naik KRL?” jawab akhwat berjilbab lainnya yang bernama Nabila sambil balas bertanya.
Akhwat berjilbab krem yang bernama Rahma ini menggeleng sambil tersenyum. Wajah akhwat yang mirip dengan Ratih Sanggarwati ini terlihat semakin menawan ketika tersenyum.
“Sama aja kok dengan Prameks….cuman kalo KRL lebih cepat” lanjut Nabila.
Rahma mengangguk mengerti. Prameks adalah kereta api jurusan Jogja-Solo yang dikenal di daerahnya. Rahma memang berasal dari Ngawi namun kuliah di UNS Solo dan dia datang ke Jakarta bersama keluarganya sejak dua hari yang lalu karena ada pernikahan sepupunya. Kesempatan ke Jakarta itu dimanfaatkan Rahma untuk bertemu Nabila, sahabat lamanya semasa SMA di Solo yang kemudian pindah ke Jakarta. Rahma sangat senang ketika melihat Nabila juga menjadi akhwat aktivis Partai seperti dirinya membuat persahabatan kedua akhwat ini terasa kian erat.
“Malam ini kita nginap di Bogor?” tanya Rahma.
“Mungkin ukhti, soalnya udah sore sih…kayaknya baru besok pagi kita bisa ke kampusku. Kita nginap di rumah Ummu Fadhil, kebetulan suaminya lagi ada acara di Surabaya jadi dia hanya bersama anak-anaknya di rumah, udah aku kontak kok..”jawab Nabila.
“Lho besok khan hari Ahad..emang bisa ke kampus anti?”
“O’ya…ya udah besok kita ke Kebun Raya bareng sama Ummu Fadhil dan anak-anaknya baru senin ke kampusku” jawab Nabila yang memang mahasiswi tingkat akhir di IPB Bogor
Sore ini Nabila memakai jilbab lebar warna putih dengan baju panjang sebatas lutut warna putih dan rok panjang warna hitam serta kaus kaki putih yang membungkus kedua kakinya. Jilbab dan baju panjang yang dipakai akhwat ini berhiaskan lambang Partai yang menandakan bahwa gadis ini adalah kader partai tersebut. Kedua gadis berjilbab ini memang aktivis Parati di kota masing-masing.
“Ukhti Rahma..itu keretanya sudah datang” lanjut Nabila ketika KRL yang mereka tunggu muncul dari kejauhan.
Rahma mengangguk mengiyakan.
“Kalau nanti di kereta kita terpisah, pokoknya ukhti turun di stasiun terakhir, stasiun Bogor”ujar Nabila
“Apa kita bisa terpisah?”tanya Rahma dengan nada sedikit cemas.
“Bisa aja ukhti…liat begitu banyak penumpang yang akan naik, berbeda dengan kereta Prameks di tempat anti” jawab Nabila.
“Kalau penumpang penuh kayak gini….jangan ngeluarin HP..entar dicopet lagi..ayo cepat masuk!”lanjut Nabila sambil menggandeng tangan Rahma ketika KRL jurusan Bogor itu telah sampai di emplasemen stasiun Tebet.
Sore itu, KRL jurusan Bogor tersebut terlihat sangat penuh sesak dengan penumpang bahkan beberapa diantara penumpang tersebut duduk di atap. Puluhan calon penumpang yang menunggu di Stasiun Tebet segera berebutan naik ke atas KRL termasuk kedua akhwat aktivis Partai tersebut. Dengan susah payah, akhirnya Rahma dan Nabila dapat masuk KRL walaupun keduanya harus berdiri di tengah berjubelnya penumpang. Diam-diam Rahma menyesal mengajak Nabila naik KRL ke Bogor walaupun semula Nabila merasa enggan, namun karena desakan Rahma yang ingin mencicipi naik KRL membuat Nabila mengalah.
“Gimana ukhti…enak nggak naik KRL?”tanya Nabila
“Mmm..kita naik bis aja yuk..”jawab Rahma.
“Sabar aja..paling di Depok nanti juga banyak yang turun..”
Rahma tidak berkomentar lagi apalagi kereta itupun mulai bergerak meninggalkan Stasiun Tebet.
Tak berapa lama kemudian, KRL tersebut sampai di Stasiun Pasar Minggu. Di stasiun ini, KRL yang penuh sesak dengan penumpang kembali dimasuki calon penumpang yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan Stasiun Tebet. Rahma terjepit diantara berjubelnya penumpang di KRL tersebut sehingga akhwat Partai ini berusaha mencari celah yang lebih longgar di antara penuhnya penumpang KRL. Rahma bersyukur ketika akhirnya dia mendapat sebuah celah yang lebih longgar di antara berjubelnya penumpang KRL tersebut walaupun ternyata hal tersebut membuatnya terpisah dengan Nabila.
Sekitar 10 menit kemudian, KRL jurusan Bogor yang sarat penumpang itupun bergerak meninggalkan Stasiun Pasar Minggu. Rahma mencoba mencari-cari Nabila di antara penuhnya penumpang namun akhwat sahabatnya itu tidak terlihat. Rahma semula berniat mengontak Nabila lewat HP namun akhwat PKS ini teringat pesan Nabila agar tidak mengeluarkan HP dalam kereta sehingga akhirnya dia mengurungkan niatnya. Kereta ini toh akhirnya akan berhenti di stasiun Bogor kata Rahma dalam hati menenangkan dirinya.
Belum lama kereta itu melaju ketika Rahma merasakan ada seseorang yang menempel ke punggungnya. Secara refleks akhwat Partai ini menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang laki-laki berusia 30-an yang segera memandang ke arah lain ketika Rahma menoleh ke arahnya. Rahma merasa risih ketika laki-laki di belakangnya terasa semakin rapat menempel ke tubuhnya sehingga akhwat Partia ini berusaha menghindar dengan bergeser ke depan. Ketika Rahma bergeser ke depan tanpa diduga orang yang di depannya tiba-tiba ikut bergeser ke arahnya sehingga tanpa di cegah, bagian dada akhwat ini yang montok membukit ini membentur tubuh orang di depannya. Rahma memandang orang di depannya yang ternyata adalah seorang laki-laki sehingga membuat wajah gadis berjilbab yang berparas ayu ini memerah oleh rasa malu. Rahma memang tidak bisa melindungi dadanya dengan tangannya karena tangan kirinya digunakan untuk berpegang pada gantungan di kereta sementara tangan kanannya memegang tasnya.
Rahma berusaha bergeser ke samping tapi tanpa di duganya orang di sampingnya bergeser ke arahnya sehingga membuat tangan yang memegang tas tersebut menyentuh bagian selangkangan orang di sampingnya dan membuat akhwat Partai ini terkesiap. Tanpa melihat Rahma yakin kalau orang yang di sampingnya adalah seorang laki-laki ketika tangannya yang menyentuh bagian selangkangan orang tersebut meresakan batang kontol di balik celana laki-laki tersebut. Rahma pun mengurungkan niat untuk bergeser samping kiri karena dirasakan seorang laki-laki telah berusaha menempel ke tubuhnya dari arah tersebut. Tubuh akhwat Parati ini menggigil ketika menyadari dirinya telah dikerumuni empat orang laki-laki dalam kereta tersebut. Rahma berusaha mencari celah keluar dari kerumunan empat laki-laki itu namun justru penumpang KRL semakin bertambah sehingga membuat akhwat Partai ini kian terjepit oleh kerumunan empat laki-laki yang tidak dikenalnya tersebut. Rahma merasa bingung dan tidak tahu jalan keluar dari keadaan ini.
Rahma gelisah dengan wajah memerah ketika dia merasakan tubuh laki-laki yang menempel di belakangnya terasa menekan tubuhnya dan akhwat Partia ini merasakan batang kontol laki-laki di belakangnya ini mulai mengeras menempel ketat di belahan pantatnya. Rahma merasa menyesal ketika dia menolak anjuran Nabila untuk memakai celana panjang dan jubah terusan. Rahma memang merasa tidak perlu memakai celana panjang di balik jubahnya karena dengan perjalanan memakai kereta bukan sepeda motor, akhwat PKS ini merasa rok panjang yang dipakainya tidak akan tersingkap sehingga dia merasa cukup memakai celana dalam tipis di balik rok panjangnya. Keadaan tersebut membuat Rahma dapat lebih merasakan tonjolan kontol laki-laki di belakangnya yang terasa tegang mengeras di balik celana yang dipakai laki-laki tersebut. Di sisi lainnya Rahma tidak mampu menghindari ketika sepasang dadanya yang montok menempel tubuh laki-laki di depannya yang menghadap ke arahnya. Kemudian tangan kanannya yang memegang tas juga telah menyentuh selangkangan laki-laki yang berdiri di sampingnya dan akhwat Partai ini dapat merasakan kontol di balik celana laki-laki di sampingnya itu telah mengeras dan membesar.
Wajah cantik Rahma memerah dan tubuh akhwat Partai ini gemetar dan berusaha menghindar namun usaha akhwat Partai ini sia-sia karena ketiga laki-laki lainnya justru semakin rapat mengurungnya ketika penumpang KRL itu semakin penuh. Rahma merasa putus asa dan tak berdaya ketika keempat laki-laki ini semakin rapat menempelkan tubuh mereka ke tubuhnya sehingga membuat akhwat Partai ini nyaris tak bisa bergerak. Rahma dapat merasakan kontol keempat laki-laki yang mengurungnya telah tegang mengeras dan nafas keempat laki-laki ini terasa memburu menerpa dirinya. Rahma berusaha meminta bantuan Nabila namun akhwat sahabatnya sejak SMA itu seolah hilang di tengah lautan penumpang KRL yang mememnuhi gerbong. Tubuh akhwat Partai asal Ngawi itu menggigil menahan kemarahan tapi dia tidak tahu harus berbuat apa, karena dia baru pertama kali mengalami hal seperti ini.
Goyangan KRL yang melaju membuat sepasang buah dada Rahma yang menempel ketat di tubuh laki-laki di depannya seolah tengah digesek-gesek dan diremas-remas. Kemudian batang kontol laki-laki di belakang Rahma yang tegang di balik celana yang dipakai laki-laki tersebut, begitu terasa bergerak di antara belahan pantat akhwat Partai yang berjubah panjang ini. Rok panjang yang dipakai Rahma ini tidak terlalu tebal sehingga akhwat Partai ini dapat merasakan besarnya kontol laki-laki di belakangnya. Kedua laki-laki di samping Rahma juga terlihat sengaja menempelkan tubuhnya ke arah Rahma sehingga akhwat Prtai ini bisa merasakan kontol kedua laki-laki tersebut di balik celana mereka. Semula Rahma ingin menangis mengalami kejadian ini namun begitu intensnya keempat laki-laki ini mencabulinya sehingga justru kemudian akhwat Partai ini mulai merasa terangsang. Rahma tak dapat mencegah bayangan kontol keempat laki-laki yang tengah mencabulinya di gerbong kereta ini dan bayangan tersebut membuat akhwat Parati berwajah menawan ini mulai terangsang.
Rahma berusaha menahan sekuat tenaga untuk tidak terangsang, namun akhwat Partai ini adalah seorang wanita yang mudah terangsang dan mempunyai nafsu birahi yang tinggi. Di tengah kekalutannya tersebut, Rahma sempat berpikir bahwa kejadian yang dialaminya ini sebagai sebuah karma atas perilakunya yang kerap bermasturbasi dan dalam fantasi manturbasinya seakan – akan dia sedang diperkosa dan menikmati perkosaan tersebut, walaupun kemudian dibantahnya. Karena selain dirinya banyak akhwat Partai lain yang melakukan perbuatan tersebut, mereka beralasan masturabsi adalah dibolehkan apabila takut terjatuh dalam perbuatan zina. Rahma semakin larut dalam gairahnya ketika dia merasakan pantatnya mulai diraba tangan laki-laki di belakangnya. Rahma menggigit bibirnya keras-keras ketika tangan laki-laki itu kemudian mengusap-usap pantatnya lalu menyusuri belahan pantatnya dengan jemarinya. Rahma tersentak ketika jari laki-laki tersebut menyusuri belahan pantatnya yang masih terbungkus rok panjang warna coklat hingga menyentuh bagian kemaluannya. Melihat Rahma tersentak laki-laki tersebut segera menarik jarinya dengan cepat namun ketika melihat akhwat Partai ini tidak bereaksi apa-apa, laki-laki di belakang Rahma kembali melakukan perbuatan cabulnya itu dan kali ini membuat akhwat Partai ini mendesah tertahan dengan tubuh menggelinjang serta nafas mulai memburu.
Keempat laki-laki saling berpandangan ketika mendengar desahan Rahma yang tertahan dan mereka melihat nafas akhwat ParatiS ini mulai memburu. Bagaikan dikomando tangan keempat laki-laki ini serempak menggerayangi tubuh Rahma yang membuat akhwat PartaiS ini terkejut. Namun Rahma hanya terdiam ketika tangan keempat laki-laki ini menggerayangi tubuhnya bahkan tubuh akhwat Partai ini menggelinjang. Laki-laki di depan Rahma dengan tanpa berbalik arah tanganya mengerayangi sekitar selangkangan akhwat Partai ini lantas meremas-remas bagian pribadi akhwat ini dari depan kemudian laki-laki di samping kiri Rahma menggerayangi payudara akhwat Partai ini demikian juga laki – laki di sebelah kanannya, kemudian laki-laki di belakang Rahma menggerayangi pantat akhwat Partai ini, menyusuri belahan pantat akhwat yang montok ini hingga selangkangan. Rahma hanya menggelinajng dan mendesah-desah lirih sambil menggigit bibirnya keras-keras. Perbuatan cabul keempat laki-laki ini berlangsung beberapa lama dan mereka begitu lihai melakukaknnya, hingga tidak mengundang perhatian para penumpang lainnya. Menyaksikan Rahma hanya terdiam merekapun makin berani. Mereka membuka resuilting celana dan mengeluarkan kontolnya. Lalu kedua laki – laki di sebelah Rahma memegang tangan Rahma yang semula untuk berpegangan dan memaksa untuk menyentuh serta mengocok kontolnya! Rahma kaget luar biasa, seumur hidup baru kali ini Rahma memegang kontol laki-laki secara langsung apalagi mereka mempunyai ukuran kontol yang cukup istimewa. Rahma tak mampu berbuat apapun ketika keduanya memaksa ia untuk mengocok dan meremas – remas kontolnya. Sementara tangan mereka dengan terlatih meremas dan memilin-milin putting payudaranya. Sementara laki – laki yang berada di belakangnya tidak mau ketinggalan. Melihat rok panjang Rahma di bagian belakang memakai resuilting tangannya bergerak untuk menurunkan resuilting tersebut. Rahma pun kaget ketika merasa resuilting rok panjangnya perlahan – lahan diturunkan, kemudian ia merasakan sesuatu yang besar, panjang dan terasa panas menyusuri belahan pantatnya. Rahma pun semakin binging karena ia baru tersadar bahwa ia menggunakan celana dalam yang berlobang di bagian selangkangan, karena ia pernah menstruasi banyak dan ketika dicuci celananya sampai sobek, karena terburu – buru ia tetap memakai celana itu dan akan menggantinya bila sudah sampai di tujuan. Dan laki – laki itu seakan mendapat durian runtuh saat tahu bahwa celana dalam Rahma berlubang, Rahma hanya merasa bahwa kontol laki -laki ditarik lagi tetapi kemudian merasa ada gerayangan tangan dan sesuatu yang sobek: celana dalamnya disobek pas di selangkangan sehingga ia tak lebih memakai kain yang disampirkan saja! Kemudian kontol laki – laki itu terasa makin menggesek bahkan sampai kebelahan kemaluannya. Gesekan kepala jamur milik laki – laki itu menimbul sesuatu yang tak pernah dia rasakan, kenikmatan, geli, panas, malu berkumpul menjadi satu, membuat nafasnya menjadi terengah – engah. Sementara laki – laki yang di depan dengan berani menyusupkan tangannya ke balik rok panjang Rahma dan menyusuri celana dalamnya dan menyingkap apa yang ada di baliknya. Menyusuri belahan kemaluannya dan memilin serta mengelus – elus kelentitnya. Goyangan KRL membuat gerakan keempat laki-laki yang melakukan pelecehan seksual ke tubuh Rahma tidak terlihat mencolok bahkan hingga keempatnya mengeluh tertahan saat kontol mereka mengeluarkan mani pertanda sampai ke puncak kenikmatan mereka. Mani-mani yang terpancar dari kontol keempat laki-laki cabul itu membasahi jubah panjang yang dipakai Rahma serta sebagian jilbabnya bahkan sebagian kecil mengenai wajah cantik akhwat Partai ini. Rahma gemetar melihat keempat laki-laki ini sampai pada puncak kenikmatan mereka karena dia sendiri juga mengalami hal yang sama. Akhwat Parati ini merasakan ada cairan yang memancar dari kemaluannya membasahi celana dalam yang dipakainya.
Mani yang dipancarkan keempat laki-laki yang mengenai jubah Rahma cukup banyak sehingga menimbulkan bau yang menyengat. Beberapa penumpang lain segera menyadari perbuatan keempat laki-laki cabul itu kepada Rahma bahkan beberapa penumpang sempat melihat keempat laki-laki itu memasukkan kontol mereka ke dalam celananya namun mereka tidak berbuat apa-apa melihat tongkrongan keempat laki-laki ini.Mereka merasa iba melihat Rahma dengan jubah yang basah kuyup oleh mani terlihat tak berdaya menghadapi perbuatan cabul keempat laki-laki tersebut. Rahma sendiri pun hanya berdiam diri dan menundukkkan kepala ketika kemudian keempat laki-laki itu menghilang di antara kerumunan penumpang. Beberapa penumpang wanita yang melihat Rahma berusaha menghibur akhwat Patari ini namun para penumpang wanita ini tak sanggup berlama-lama dengan bau mani yang membasahi jubah akhwat Partai ini. Tubuh Rahma mendadak menjadi lemas seolah tak bertenaga dan wajah cantik akhwat ini berubah pucat pasi ketika dia menyadari dompet dan HP miliknya lenyap bersamaan lenyapnya empat laki-laki yang telah mencabulinya. Beberapa penumpang yang mendengarnya menyumpahi empat laki-laki tersebut dan merasa iba dengan nasib yang menimpa gadis cantik yang terlihat alim dalam balutan jilbabnya yang lebar. Untunglah tak lama kemudian KRL ini sampai di stasiun Bogor dan para penumpang KRL tersebut berebut keluar. Rahma melihat Nabila ternyata sudah berada di luar kereta, wajah akhwat ini tampak cemas mengamati satu persatu penumpang yang keluar dari gerbong KRL dan Nabila tersenyum lebar ketika melihat Rahma muncul di antara penumpang KRL yang turun di stasiun tersebut.
“Ukhti Rahma……….anti kemana aja kok ngilang??’kata Nabila sambil menghampiri Rahma yang terlihat canggung melihat Nabila mendekatinya.
“Lho..anti kenapa..lho..anti…”
Ucapan Nabila tercekat di tenggorokan melihat jubah Rahma yang terlihat basah kuyup dan Nabila tahu kalau yang membasahi jubah Rahma adalah air mani. Rahma tidak perlu menjawab pertanyaan Nabila karena tanpa dijawab akhwat Partai ini telah mengetahui apa yang menimpa Rahma di kereta. Tubuh Nabila bergetar menahan kemarahan, baginya Rahma adalah akhwat Partai kesekian yang mengalami pelecehan seksual di KRL namun dilihat dari bekasnya agaknya pelecehan seksual yang dilakukan terhadap Rahma tidak hanya dilakukan oleh satu orang.
“Keterlaluan..!”desis Nabila dengan wajah merah padam menahan amarah. Permasalahan pelecehan seksual di KRL sebenarnya telah dibahas di DPP Partai sehingga muncul wacana usulan untuk diadakannya gerbong KRL khusus perempuan.
“Sudahlah..ukhti…ini musibah…tunjukan aku kamar mandi, aku mau ganti..kebetulan aku bawa ganti”kata Rahma yang tidak hanya risih oleh jubah yang basah kuyup oleh air mani namun yang paling membuatnya risih adalah adalah celana dalam yang dipakainya basah oleh cairan kenikmatannya sendiri serta tangannya yang belepotan air mani. Rahma tidak mungkin bercerita kepada Nabila kalau dirinya ikut terangsang ketika mengalami pelecehan seksual di atas gerbong KRL.
“Ya….sambil nunggu Ummu Fadhil…katanya dia mau jemput kita pakai mobil”kata Nabila akhirnya.
Mata Nabila hanya membelalak ketika sambil berjalan ke arah kamar mandi Rahma bercerita kalau dompet dan HP miliknya lenyap dalam kereta tersebut.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | 7 Comments

Nikmatnya Pelecehan Akhwat UIN di 510 Kp rambutan ciputat

Yang gw ceritain ini bukan bullshit ya, mungkin gak panjang cuma bener bener dari pengalaman pribadi.

Jadi gini ceritanya, buat orang yang tinggal di ciputat atau sering naik bis 510 Kp rambutan-Ciputat pasti udah pada ngerti lah kalo ini bis sejuta umat penumpangnya banyak banget dan yang bikin asik itu para penumpangnya kebanyakan akhwat akhwat UIN yang berjilbab baik yang lebar maupun jilbab gaul. Hehehehehe.

Kebeneran kampus gw kan di UMJ tuh dulu, walupun sama2 berjilbab cuma akhwat UIN lebih gampang bikin gw napsu, soalnya tampangnya masih banyak yang masih ndeso. Gw sering banget turun naik dari pasar rebo ke UIN dan balik lagi dari UIN ke pasar rebo dengan alasan simple, “gw pengen nempelin kontol gw ke pantat akhwat berjilbab UIN, ” kalo belum muncrat, gw bakal tetep bolak balik di bis.

Pertama-tama pas naik di liat dulu posisi akhwat2 di dalem, banyak di pintu depan apa di pintu belakang, inget ya lebih gampang bergeser ke depan ketimbang bergeser ke belakang, usahain cari ahwat yang pake celana bahan dibandingkan yang pake gamis, soalnya kalo pake celana bahan biasanya pake langsung celana dalem tanpa dilapis celana lain, sedangkan kalo gamis suka ada celana lain lagi jadinya ketebelan, kalo ketebelan gak enak ke kontol kitanya bray. Heheeheehehe.

Senapsu apapun inget ya , kita harus bergerak wajar jangan sampe terlalu bernapsu, kalo kontol dah nempel di pantat tinggal ikutin irama ayunan bis bergerak aja, nah kalo tu pantat akhwat gak bergerak berarti tu akhwat juga gak keberatan ditempelin kontol pantatnya, believe me gw banyak banget nemu kasus ginian, kalo dia ngerasa risih, bergerak menghindari atw melototin kita. STOP beralih ke target lain atw hentikan kegiatan, anggap lagi gak jodoh aja, beralih ke target lain. hehehhehehheheheh

Intinya geseknya pelan pelan tapi pas tu bis ngerem pas keluar tol lebak bulus atw pasar rebo lw teken deh tu kontol pantatnya dengan mempertimbangkan faktor kenikmatan. hehheehe

Udah sampe sini dulu ya tar kalo ada yang tanya tanya gw coba jawab.

Posted in Uncategorized | 6 Comments

Tentang Hiroh, Perawan Ke Tujuh

Ini adalah kisah nyata tentang perjalanan hidupku. Tidak ada kebohongan di dalamnya meskipun identitas dari semua pelakunya aku sembunyikan.Namaku Soberun, tinggal di Batang sebuah kota kecil Jawa Tengah. Dulu, beberapa tahun yang lalu, saat aku masih begitu bangga dengan koleksi wanita-wanita hasil buruan libidoku, aku merasa ada yang kurang di sana. Di antara para wanita itu tidak ada satu pun yang bisa mewakili pencapaian tertinggiku. Perburuan libido adalah sebuah dosa dan untuk mendapatkan pencapaian tertinggi maka aku perlu seseorang yang perawan murni yang benar-benar suci. Aku tidak ingat benar di mana aku menulis keinginanku itu tapi aku yakin aku pernah menulisnya. Namanya adalah Rokhimah. Seorang perawan murni, baru berumur 23 tahun dan cantik luar biasa. Dan dia adalah seorang santri tulen. Anak seorang kyai terkenal di daerahku. Dia dididik di lingkungan muslim yang ketat dan taat. Keluarganya tak pernah memasukan dia ke pendidikan negeri dan lebih memilih Madrasah yang bernuansa Islam. Selama hidupnya ia habiskan di pondok pesantren termasuk juga pondok pesantren milik ayahnya. Dalam sehari semalam shalatnya bisa lebih dari empat puluh kali. Puasa, wirid dan mengaji adalah makanan sehari-harinya. Bahkan menyentuh kulit seorang yang bukan muhrimnya adalah hal terlarang baginya. Namun toh, ia takluk di hadapanku. Aku adalah lelaki yang mengambil keprawanannya. Lebih buruk lagi, ia adalah gadis ke tujuh yang keperawanannya aku ambil …Pertemuan kami diawali saat kami bertemu di toko milik keluargaku. Saat itu dia hendak membelikan sepatu baru untuk adiknya. Karena pada saat itu pegawaiku tengah tidak berada di tempat maka terpaksa aku yang melayani. Saat itulah aku melihat sosoknya, sosok yang begitu indah; cantik dalam balutan jilbab lebar yang rapi. Matanya bening dengan garis mata yang hitam dan bibirnya merah sempurna seperti buah cherry. Wajahnya memancarkan sinar yang begitu anggun. Ada sebuah kedamaian yang menyelimuti hatiku saat aku melihat sinar wajah itu. Dan pada saat mata kami bertemu aku tahu ada ruang di dalam hatinya khusus buatku.Pertemuan kedua terjadi beberapa minggu kemudian. Saat itu aku tahu ia bernama Rokhimah anak seorang Kyai yang disegani di daerahku. Seorang teman masa kecilku mengingatkan padaku untuk menjaga jarak dengannya, bukan karena background keluarganya, tapi karena ternyata ia pernah mengidap TBC dan itu sangat menular. Tapi percayalah, pada saat kau melihatnya, kau pun akan merasakan apa yang aku rasakan. Perasaan ragu-ragu itu sirna dan digantikan perasaan yang lain. Bukan perasaan percaya namun lebih mendekati perasaan nekat. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, begitu pikirku saat itu. Setelah itu kami pun berkenalan dan saling bertukan nomer hp.Semenjak pertama melihat matanya aku tahu Rokhimah pun sebenarnya tertarik padaku. Karena dasar tersebut maka komunikasi kami berjalan sangat lancar bahkan sangat berani. Aku memanggil dia “istriku” dan dia memanggilku “suamiku”. Lalu, masih melalui sms, aku menembaknya dan dia pun setuju jadi pacarku. Aku tak ingat benar ia pacarku yang nomer berapa karena sudah terlalu banyak yang aku jadikan pacar sebelumnya meskipun pacar yang benar-benar aku cintai hanya beberapa saja. Kebanyakan dari pacar-pacarku yang sebelumnya hanyalah pelampiasan libidoku saja.Beberapa hari kemudian aku bertandang ke rumahnya. Aku ingat benar saat itu lampu mati (thanks PLN sudah melancarkan jalanku-ternyata ada gunanya juga kau sering mati). Sesampainya di rumah Rokhimah aku baru tahu kalau rumah dia ternyata adalah sebuah pesantren. Itu adalah pertama kalinya dalam hidupku aku masuk ke lingkungan pesantren. Orang-orang di daerahku kebanyakan gentar masuk ke pesantren yang memiliki reputasi penuh wibawa ini namun yang timbul di hatiku adalah perasaan penuh gairah akan sebuah pengalaman baru. Saat itu hari sudah malam, kegiatan mengaji sudah selesai. Yang terdengar hanya sunyi dan aura mistis mengelilingiku. Aku duduk di atas karpet, karena aku tak melihat ada set kursi tamu di sana, ditemani Rokhimah di sampingku dan lampu minyak yang redup di antara kami berdua. Sambil terus memperhatikan sekelilingku aku berpikir, “Oh, ini kan yang namanya Pesantren. Asyik juga.” Jujur aku menyukai suasana itu karena mengingatkan pada suasana surau di desaku saat masa kecilku. Saat itu aku dan teman-teman sepermainan masa kecilku sering tidur di surau tersebut. Suasananya yang gelap, dingin, sunyi dan mistis tidak membuatku takut tapi justru memicu kenangan masa kecilku. Ada perasaan haru yang mendalam di hatiku saat itu. Surau tersebut kini telah menjadi mesjid besar dan hingar bingar oleh banyak kepentingan.Ternyata orang tuanya menyambutku dengan sangat gembira. Setelah sebentar berbasa-basi bapaknya meninggalkan kami berdua, sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukan karena malanggar aturan agama-membiarkan seseorang berduaan dengan yang bukan mukhrimnya. Lalu di dalam kegelapan itu aku rasakan tangan Rokhimah memegang tanganku. Entah mantra apa yang ada di tangan itu namun pada saat itu aku merasakan sebuah keindahan luar biasa. Ada perasaan bau harum menyeruak ke dalam pembau dalam hatiku. Pada saat itulah aku mulai ingin mencumbunya. Namun itu sangatlah tidak mungin. Akal sehatku seakan menguap hingga aku memberanikan diri mengusulkan untuk menikah siri – tujuanku satu; ingin meniduri Rokhimah secepat mungkin! Tiba-tiba lampu menyala ( PLN sialan !) hingga kami segera melepaskan gandengan tangan kami. Karena waktu telah beranjak malam, akhirnya aku pun pamit pulang tanpa bisa mencumbunya sama sekali.Sesampainya di rumah akal sehatku mulai kembali dan aku memaki dalam hati, “fuck! What have I done! Aku melamarnya untuk nikah siri?! Fuck!” Tapi mulutku adalah harimauku, kata yang telah terucap tak akan bisa ditarik lagi. Rokhimah menceritakan tentang usulan nikah siri tersebut yang ternyata disambut gembira keluarganya. Tapi dengan dalih untuk mengejar karir akhirnya aku bisa mementahkan harapan mereka ( yang juga adalah kebodohanku). Syukurlah akhirnya mereka bisa menerimanya. Namun tetap saja kejadian itu memberi keyakinan pada keluarga Rokhimah akan kemantapanku pada anak mereka.Pertemuan berikutnya adalah pertemuan yang sungguh mengejutkan. Dengan alasan bahwa ruangan yang sebelumnya aku dan Rokhimah pakai untuk bertemu ternyata adalah ruang para santri mengaji maka aku dipersilahkan oleh Rokhimah dan keluarganya untuk masuk ke kamar pribadi Rokhimah! Glek! Yang benar saja! Namun meskipun dengan banyak ketidakmengertian di kepalaku aku menurut saja. Lalu aku dan Rokhimah berdua berada di kamarnya yang bersebelahan persis dengan aula mengaji para santri. Perasaanku tak menentu saat itu. Aku merasakan akan adanya sesuatu yang akan terjadi. Benar saja, beberapa menit kemudian bapaknya masuk dan segera duduk di hadapanku. Lalu ia bertanya padaku, “Apakan Anak mau benar-benar dengan anak saya?” Wek! Apa lagi ini? Pikirku. Pertanyaan macam apa ini? Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang Pak Kyai tanyakan. Di sela-sela kebingunganku aku bisa merasakan bahwa aku tidak mungkin menjawab “tidak” makan aku jawab saja, “iya” meskipun tidak sekaku itu. Yaa, sedikit berdiplomasi lah; panjang lebar namun tidak jelas, itulah diplomasi. Bapak Kyai manggut-manggut saja. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya namun beberapa saat kemudian ia meninggalkan kamar kami sambil tersenyum dan berkata, “iya, silahkan diteruskan.” Lalu Pak Kyai menghilang di balik tirai.Dan tinggal kami berdua, aku dan Rokhimah, di kamar itu. Keheranan dan kebingunganku segera lenyap saat Rokhimah kembali menggenggam tanganku. Dengan memakai baju panjang warna krem dan jilbab warna coklat ulihat dia tersenyum bahagia sekali. Dia tidak tahu kalau senyum itu memicu reaksi kimia di dalam sistem tubuhku; libido! “Apa Mas benar-benar mau jadi suamiku?” Rokhimah bertanya. Lalu aku jawab, dengan otak dikendalikan libido, sekenanya, “aku ingin siapapun yang jadi istriku harus masih perawan tulen! Mana mungkin aku tahu kau masih perawan atau bukan kalau tidak dites dulu.” Rokhimah mendelik kaget, “tidak ! tidak! Aku hanya akan menyerahkan keperawananku dengan cara yang halal!” Lalu terjadilah adu argument dengannya. Cukup lama dan rumit, tapi aku yang dulunya aktif sebagai remaja mesjid tentu saja dapat dengan mudah mematahkan logika-logikanya. Plus lagi aku sudah banyak makan asam garam sebagai dalam dunia perburuan cewek seperti itu. Gampang saja aku meng-infiltrasi keyakinanku di atas keyakinan miliknya. Begitu dasar logika seorang cewek sudah kudapat, maka sesungguhnya aku telah mendapatkan cewek itu seutuhnya. Hanya masalah waktu saja sampai aku dapat menerobos bunga miliknya.Benar saja, di akhir perdebatan halus kami, akhirnya Rokhimah menggandeng tanganku dan tak dinyana-nyana mengarahkannya ke payudaranya! Got you! Aku bersorak dalam hati. Lalu dengan halus aku meremas dari luar baju dan jilbabnya. Payudaranya memang masih keras dan sangat nikmat diremas seperti itu. Aku bisa merasakan bahwa berlahan Rokhimahpun mulai bisa menikmatinya namun aktifitas itu harus aku lakukan terputus-putus karena pintu kamar masih terbuka dan hanya dititipi selembar tirai saja. Kegiatan yang terpututs-putus itu ternyata membuat Rokhimah gemas. Maka ia berdiri dan…ehem, menutup dan menguncinya! Ibarat traffic light, tidak ada lampu kuning atau merah; hijau semuanya!! Aku mulai masuk ke dalam bra miliknya dan mulai meremasnya dengan tangan kosong. Tidak ingat benar, tapi sepertinya malam itu juga Rokhimah dengan berani menaikkan bajunya dan melepaskan bra di hadapanku. Ketika dia hendak melepas jilbabnya, aku melarangnya. “Jangan dilepas Mah … km keliatan anggun kalau masih pakai jilbab” Dia hanya tersenyum. Payudara yang tak pernah tersentuh sama sekali itu malam itu adalah milikku sepenuhnya!Waktu pun berjalan. Setiap kali kami bertemu aku selalu langsung dipersilahkan masuk ke dalam kamar pribadi Rokhimah. Tunggulah beberapa saat sampai minuman disuguhkan lalu Pak Kyai masuk untuk bersalaman. Beberapa menit kemudian Istrinya membukat tirai dan tersenyum sambil mempersilahkanku. Terakhir Rokhimah akan segera menutup dan menguncinya rapat-rapat. Selalu berjalan dengan pola seperti itu. Bila keadaan sudah terpenuhi seperti itu maka privasi adalah milik kami berdua. Dengan halus namun rakus aku menjelajahi tubuhnya dari sela-sela baju dan jilbabnya. Seperti Colombus yang menjelajahi samudra untuk menemukan dunia baru, aku pun menjelajahi tiap jengkal kulitnya untuk menemukan sumber dunia baru yang hitam dan belum terjamah. Bila dulu Colombus masih belum tahu pasti di mana dunia baru itu, aku malah sudah tahu persis ke mana tujuanku berlabuh. Namun betapa kagetnya aku saat aku sampai du dunia baruku yang awalnya kukira ditumbuhi belantara lebat dan hitam, yang kudapati adalah sebuah dunia baru yang gundul, merekah merah dan beraroma harum sabun! Dan aku pun terjatuh dalam kegilaan. Akal sehatku pergi entah kemana. Malam ini kuberi Rokhimah sesuatu yang awalnya ia pikir jauh berada di atas awan; kuberi dia surga. Seperti pasukan pemandu sebelum datangnya pasukan inti, lidahku menjelejahi tiap jengkal dunia baru itu.Beberapa pertemuan berikutnya kuberi ia pelayanan yang sama dan terus meningkat. Kuajari dia teknik bercinta hingga pelan namun pasti Rokhimah pun mulai menjadi ahli. Ia tahu titik-titik kesukaanku. Lidahnya menjalar dari puting dadaku hingga penisku. Di sana ia tak ragu lagi untuk membenamkan penisku ke dalam mulutnya. Dengan gerakan halus dan begitu mengesankan ia memberi pelayanan oral yang sangat hebat. Ia menuruti semua keinginanku hingga saat aku minta agar aku ejekulasi di mulutnya pun ia tak menolaknya. Dengan kasih sayang dia lap sperma yang masih di penis ku dengan jilbabnya. Kini ia tak sungkan lagi untuk membuka bajuku juga bajunya sendiri. Ia pun tak sungkan lagi memintaku untuk melakukan apa yang ia inginkan aku lakukan terhadap bagian-bagian tubuhnya. Seringkali saat dalam keadaan santai dan tengah bercanda, ia tertawa-tawa sambil mencubit penisku. Aku pun membalas dengan meremas payudaranya dan bagian vaginanya.Aku merasa sudah saatnya masuk ke level berikutnya. Aku mulai hendak memasukkan penisku. Awalnya ia meberontak karena takut hamil. Namun sekali lagi kupatahkan logika itu. Setelah ku ulur waktuku dan terus memberinya kenikmatan sambung raga itu, akhirnya ia pun luluh. Inilah kekuatan terbesarku yang paling ditakuti oleh semua wanita-wanita yang kutaklukan; kesabaranku. Dengan sabar dan terus menerus, berlahan-lahan Rokhimah keluar dari dunianya dan masuk ke dalam duniaku. Aku mulai dengan halus mencoba memasukan penis milikku. Dengan hanya memakai jilbab di kepalanya kusodok vagina suci anak kyai ini. Rokhimah pun menyerah dan pasrah. Satu-satunya penghalangku hanya rasa sakit yang ia derita. Namun aku mengerti, aku pun tidak memaksanya.Bulan Ramadhan pun tiba. Rokhimah menyarankan aku datang setelah waktu shalat Tarawih selesai. Itu yang berarti melanggar jam malam yang ditentukan di pesantrennya. Diam-diam aku mengeluh. Perasaan menyesal mulai masuk ke dalam hatiku, betapa aku telah menariknya, Rokhimah yang anggun dan suci ke dalam duniaku yang gelisah dan panas. Namun aku segera menampik perasaan itu. Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai aku mencapai tujuanku. Fokus!Selama bulan Ramadhan itu kami pun terus melakukan hubungan bercinta tersebut. Selama itu pula aku terus mencoba melengkapi persetubuhan kami. Hingga pada suatu hari, Rokhimah mengirim pesan agar aku datang sore saja saat Shalat Tarawih masih berlangsung. Meskipun agak ragu tapi aku menurut saja. Sesampainya di pesantren, aku harus menunggu para makmum melakukan sujud dan secepat kilat aku masuk ke dalam kamar Rokhimah (Kamar Rokhimah berada persis di samping aula mengaji para santri yang juga digunakan untuk shalat berjamaah). Dia masih memakai rukuh putih bersih. Dengan bernafsu kulucuti rukuhnya. Ternyata di baliknya dia masih memakai baju panjang warna hijau dan jilbab lebar warna hitam. Dengan agak kasar kulucuti baju panjangnya hingga ada kancingnya yang lepas. Namun aku masih meninggalkan jilbab lebar hitam di kepalanya. Lalu kami pun mulai bercinta lagi dan kali ini Rokhimah sepertinya sudah siap. Maka dengan mantap aku masukkan penisku ke dalam rongga kewanitaanya. Rokhimah berteriak tertahan dan secara reflek ia menjauh namun aku tahan. Aku peluk dia dalam-dalam dan menyalurkan rasa sayang melaluinya. Di dekat telingaku Rokhimah membaca ayat-ayat suci yang ia percaya bisa melindunginya dari kekuatan jahat. Lama-lama Rokhimah pun mulai tenang. Kemudian, dengan lembut dan pelan, aku mengulanginya lagi…dan lagi…dan lagi. Tubuhnya terguncang-guncang mengikuti ayunan tubuhku. Kupandangi wajahnya yang terbalut jilbab warna hitamnya. Keningnya mengernyit … bibir mengeluarkan desahan-desahan lirih. Menggairahkan sekali. Kusingkap jilbab lebar yang menutupi payudaranya. Kuciumi putingnya dengan nafsu. Kadang-kadang kujepit dengan bibirku. Dia semakin mendesah-desah. Keringat membanjiri tubuh kami. Di sela-sela gumam para santri yang tengah Shalat Tarawih di luar kamar, malam itu Rokhimah jadi milikku seutuhnya…Tentu saja aku tak pernah jujur pada Rokhimah yang sebenarnya. Bahwa dia hanyalah sebagai pelampiasan libidoku. Pada saat itu aku memandang Rokhimah memang hanya pelampiasan nafsu biologisku saja. Dan tampaknya dia juga menikmati pelayanan yang aku berikan padanya. Ya, aku sangat mengerti. Dari umurnya yang masih muda dia memang sedang dalam kondisi paling siap untuk bereproduksi. Seluruh sistem tubuhnya memang dirancang untuk tujuan tersebut. Bahkan sering kali aku yang kualahan menghadapinya. Aku selalu berusaha mengimbanginya sekuatku. Namun semenjak aku berhasil mendapatkan Rokhimah sepenuhnya, aku merasakan alam dalam hatiku berubah. Seakan-akan aku diliputi oleh kebisuan yang teramat pekat dan hari-hari berubah menjadi kelabu. Ada sebuah kesedihan yang mulai muncul. Sebagai orang yang suka menganalisa keadaan, aku segera terkesiap dengan perubahan ini. Tanda ini apa maksudnya? Dan jawabanku tertuju padanya. Sering kali aku melihat Rokhimah dalam-dalam. Aku tahu, sesuatu yang Rokhimah tidak tahu, aku tengah memasuki masa kritis.Masa kritis adalah sebuah masa di mana kita, siapapun dari kita, tengah dipertanyakan kembali “hendak kemanakah kita melaju?” dan untuk menjawab pertanyaan itu maka aku perlu melihat ke dalam diriku sendiri “siapakah diriku?” artinya ini mengenai jati diriku yang sebenarnya. Aku mendekati Rokhimah adalah untuk kepuasan nafsuku saja dan telah kudapatkan itu. Aturannya adalah bahwa aku harus secepatnya membuat rencana untuk meninggalkannya. Pertanyaan yang muncul seharusnya “apa yang harus aku katakan padanya untuk meninggalkannya?” Alih-alih mendapat pertanyaan itu, yang muncul di kepalaku justru pertanyaan lain yang cukup mengejutkan, “kenapa aku masih di sini? Kenapa aku tak segera beranjak pergi?” dan aku segera menyadari jawabannya.Hari-hari pun berlalu. Selalu saja, pada malah hari, aku sempatkan diriku untuk datang ke pesantren. Aku putuskan untuk datang pada malam hari saja, melewati jam malam. Keuntungan bagi keluarga Rokhimah adalah tidak menarik perhatian para santri yang lain. Sementara keuntunganku adalah bahwa kedatanganku pada malam hari tidak menarik perhatian lingkungan. Simbiosis mutualisme. Namun alasan paling mendasar adalah bahwa sebisa mungkin orang tua ku tidak mengetahui hubungan kami. Karena aku yakin mereka tidak akan menyetujuinya. Rokhimah berasalah dari keluarga muslim yang taat, sementara keluargaku lebih liberal. Pendidikan terakhir Rokhimah hanyalah MTs (setara SMP) sementara keluargaku mengisyaratkan untuk mencari yang paling tidak S1. Aku punya pekerjaan yang bagus dengan jenjang karir yang cerah, sementara ketrampilan Rokhimah adalah di bidang keagamaan yang kita tahu cukup sulit untuk mencari makan pada masa-masa sekarang. Dan kutemui diriku terjebak dalam kondisi yang sangat dilematis. Apakah aku harus memilih mengikuti orang tua atau Rokhimah padahal benih-benih cinta mulai bersemi di dalam diriku padanya.Sebagian besar dari diriku lebih memilih keluargaku. Tentu saja begitu karena bagiku keluarga adalah nomer satu. Mereka adalah rumah di mana aku selalu disambut dengan bahagia dari manapun aku pergi. Betapapun beban yang kuderita selama aku dalam perantauan, mereka selalu menginginkan aku untuk kembali. Ya, kadang mereka marah padaku namun pada akhirnya aku mulai mengerti bahwa kemarahan mereka adalah karena cinta. Pada saat aku menghitung lima langkah di depanku, misalnya, mereka telah menghitung seratus langkah di depanku. Itulah yang membuat kami kadang berbeda pendapat. Namun seberapapun berbedanya pendapat kami, seberapapun kami dulu terlihat saling menyakiti sebenarnya itu hanya masalah bahwa kami tidak mampu mengungkapkannya dengan bahasa yang lebih benar; kami tidak bisa mengungkapkan bahwa sesungguhnya kami saling menyayangi. Aku memiliki banyak teman dan mereka kadang menyarankan aku untuk melakukan ini dan itu. Keluargaku pun demikian, sering mereka menyuruhku untuk melakukan ini dan itu. Namun bila kuperhatikan lebih jauh, mereka, teman-temanku, bila menyarankan sesuatu sering kali adalah untuk kepentingan tersembunyi mereka sendiri. Begitu tersembunyinya hingga kadang mereka tidak menyadarinya. Di sisi lain, mereka, keluargaku bila menyuruhku melakukan sesuatu, kini aku percaya, adalah murni untuk kebaikanku sendiri.Sering kali, bila kami telah selesai bercinta, setelah dihajar beban pekerjaan yang berat aku langsung tertidur. Sementara Rokhimah dengan sabar memijit kaki dan tanganku. Pijatan itu sering membangunkanku dan kudapati Rokhimah di sampingku. Dengan sabar ia terus berusaha membuatku nyaman. Oh, Rokhimahku yang baik, kau tidak tahu apa yang ada di dalam kepalaku. Kau tidak mengerti apa yang kumengerti – bahwa detik-detik ini adalah sangat berharga karena kita tengah menuju ke perpisahan kita. Rokhimahku yang malang tak bergeming dan terus memijatku. Ia tak mendengar apa yang ada di hatiku. Tapi aku bisa melihat itu di matanya; aku melihat harapan. Ia pasti berharap agar suatu hari nanti aku akan datang menjadi suaminya. Aku yakin pasti bahwa dia selalu berdoa untuk kami berdua. Aku melihat harapan di matanya justru di kala aku menyadari kehancuran di hatiku. Ironis sekali.Rokhimah, maafkan aku …Suatu hari Pak Kyai menemuiku. Dan ia bertanya tentang kelanjutan hubungan kami. Aku sangat bisa mengerti karena memang tidak terlalu baik membiarkan sepasang kekasih berpacaran terlalu lama. Agar tidak berbuat dosa, itu tujuannya. Dosa yang sebenarnya telah kami lakukan. Didera oleh perasaan letih fisik dan pikiran aku mencoba mengulur waktu hingga setelah Lebaran Idul Fitri. Pak Kyai, seperti biasa, manggut-manggut saja. Sampai saat ini aku tidak tahu pasti apa yang ada di kepalanya. Sebagai seorang Kyai yang berpengalaman dalam dunia supernatural dan religi, apa mungkin ia tahu apa yang ada di hatiku? Apa mungkin ia tahu apa yang telah aku dan Rokhimah lakukan? Aku tidak tahu. Tapi sejauh ini Pak Kyai tak mengatakan apa-apa. Lalu Pak Kyai tersenyum dan meninggalkan kami berdua. Seperti biasa kami pun bercinta, kali ini aku malas melepas bajunya. Dengan masih memakai baju muslimah dan jilbabnya aku genjot dia dari belakang dengan terlebih dahulu menyingkap CD nya kesamping. Desahannya yang halus dan sering menyebut nama Allah dia merintih. Aku hanya ingin cepat orgasme, dengan kasar kugenjot vaginanya yang sempit itu sekuat tenaga. Sambil kuciumi punggungnya yang tertutup jilbab lebar warna merahnya. Ketika hampir klimaks kusuruh dia jongkok dan mengoral penisku. Oooh … nikmat sekali. Sperma ku menyembur ke wajahnya yang teduh. Memercik mengenai jilbab merag dan baju muslimah pinknya. Kembali jilbabnya harus menjadi pembersih spermaku yang tidak puas-puasnya menuntut kenikmatan dari santriwati alim ini. Dan aku mencoba tidur setelahnya. Namun yang kudapati adalah perasaan begitu gelisah menyerangku hingga aku pun tak bisa tidur nyenyak. Aku rasa Rokhimah tahu apa yang aku pikirkan. Ia terlihat sedih namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Malam itu aku pulang lebih cepat dari biasanya.Sejak malam itu Rokhimah berubah. Ada kesedihan di dalam dirinya. Sepertinya ia mulai tahu apa yang aku pikirkan; bahwa hubungan kami tak akan berakhir baik …Ia sering sms dan bertanya apa jadinya kalau orang tuaku tidak setuju dengan hubungan kami? Ia selalu bertanya pertanyaan yang sama. Sementara aku selalu tidak bisa menjawab pertanyaan yang sama tersebut. Hal itu membuatku marah. Marah pada diriku sendiri hingga aku mulai menjauh.. Berita tentang kedekatanku dengan Rokhimah ternyata sudah tersebar. Hal itu membuatku menjadi lebih geram namun mencoba mengerti bahwa itu adalah proses yang alami. Akhirnya aku memilih untuk tidak mencari kambing hitam. Fokus! Lalu pada suatu hari aku, entah apa yang kupikirkan saat itu, aku kembali datang ke pesantren dan menemui Rokhimah. Dengan pola yang hampir sama aku pun masuk ke kamar pribadi Rokhimah. Namun saat berpapasan dan bersalaman dengan Pak Kyai, aku merasakan ada sesuatu dirinya yang berbeda. Sesuatu yang cukup membuat hatiku berdesir gentar. Ada apa? Apa yang ia ketahui?Malam itu Rokhimah memakai baju besar berwarna putih gading dengan jilbab hijau yang sangat indah. Wajahnya yang terlihat cukup layu itu masih bersinar-sinar meskipun tidak sebening dulu saat pertama bertemu. Dulu aku punya keinginan untuk bercinta dengannya saat dia mengenakan baju seperti itu, sehingga persetubuhan kami dilakukan dengan dia tetap memakai baju muslimahnya, setidak-tidaknya hanya memakai jilbab. Namun malam itu Rokhimah menolak untuk bercinta. Malam itu pertama kalinya kulihat ia benar-benar menangis di dadaku. Aku yang marah karena hasrat biologis yang tak tersalurkan pun tergetar oleh tangis tersebut. Lalu ia berkata bahwa ia sebenarnya sudah lama ingin menghentikan semua dosa ini namun tiap kali ia melihat wajahku ia merasa iba. Namun kali ini ia harus benar-benar kuat meskipun seluruh tubuhnya menginginkan untuk dijamah. Aku mencoba mengerti; aku telah menariknya dari dunia yang telah memebesarkannya yaitu dunia religi yang kuat dan taat. Namun kemudian aku meninggalkannya. Pada saat itu dia pasti kebingungan sekali karena dunia baru yang ia percayai ternyata telah mengkhianatinya. Dan tak ada dunia lain yang ia kenal kecuali dunianya yang lama; yaitu dunia pesantren dan religi. Maka ia pun pulang ke sana. Dan saat itu aku menemukan dia sebagai Rokhimah yang hampir seperti yang dulu lagi – Rokhimahku yang suci.Berita tentang kedekatan kami akhirnya sampai juga di keluargaku dan seperti yang kuduga mereka menyatakan “tidak.” Aku mengerti dan aku menerimanya meskipun hati terasa cukup sedih. Mereka pasti berusaha yang terbaik bagiku. Maka aku mulai meninggalkan Rokhimah lagi.Beberapa hari yang lalu Rokhimah sms dan mengabarkan bila dia hendak pergi ke luar kota yang cukup jauh guna kembali belajar agama di pesantren di kota tersebut. Ia akan berada di sana selama satu tahun. Aku mendongak ke langit dan berkata ,”Inikah tanda-Mu?” namun langit sepi tak menjawab. Maka malam itu aku menemuinya (mungkin untuk yang terakhir kalinya ). Kulihat matanya bengkak karena banyak menangis. Tuhan, dosa apa yang telah kuberikan pada Makhluk suci-Mu ini? Keluhku dalam hati. Di kamar ia menunjukan foto tentang teman-temannya. Ia berusaha mengenalkan dirinya padaku (lagi). Sebuah hal yang membuatku miris; betapa selama ini aku telah begitu tidak peduli pada orang yang sangat mencintaiku. Kubiarkan ia melakukan yang terbaik baginya untukku dan aku menerimanya. Kutatap wajahnya yang cantik, bermata seperti telaga dan wajah yang bersinar seperti bulan itu dalam-dalam. Rokhimahku yang malang … desisku dalam hati dan aku tak mampu berpikir apa-apa lagi. Kami kembali bercinta malam itu, mungkin ada sedikit nafsu di sana namun sebagian besar adalah sebagai ucapan selamat tinggal yang tak terucap. Kali ini kulepas semua baju termasuk jilbabnya. Ketika aku ingin menganalnya dia menolak. “Dosa mas … lagian sakit …..”. Aku tidak perduli. Dengan posisi menungging kuarahkan penisku ke anusnya. Dia menjerit lirih “Ohhhhh … sakiitth … dosaaa mass… ahhhkk” Perlahan-lahan penisku masuk. Kubiarkan sebentar sampai anusnya terbiasanya dengan penisku. Sambil menunggu ku korek-korek vaginanya yang sudah tidak rapat lagi dengan jariku. Kutekan-tekan itilnya, lalu kupilin-pilin lembut. Terdengar suara isak tangisnya. Aku tak perduli dan ingin cepat-cepat menuntaskan orgasmeku. Seperempat jam kemudian spermaku menyembur ke anusnya yang perawan itu. Kutindih tubuhnya dari belakang. Kuciumi rambut sebahunya. “Maafkan aku Mah …. aku khilaf tadi.Dia tidak menjawab sambil menyeka air matanya dia tersenyum. Kembali kami diam sambil aku masih menindih tubuhnya dari belakang.Pada saat aku hendak pulang, tidak seperti biasanya, Rokhimah tak menahanku. Ia tak lagi manja. Kulihat ia menjadi sangat tegar. Kupeluk dirinya dan ia balas memelukku dalam-dalam. Pelukan penuh kasih sayang yang selalu ia berikan namun bagiku itu adalah pelukan pertamaku yang sesungguhnya padanya. Saat aku hendak keluar, kami harus melewati dapur. Ia memanggil namaku, mencium tanganku dan kembali memelukku erat. Kurasakan dadaku bergetar dirajam emosi. Namun aku harus kuat karena kulihat Rokhimahpun sangat kuat malam itu. Tidak ada air mata yang jatuh sama sekali. Aku yakin ada kesedihan di hati kami masing-masing. Kami tak perlu mengungkapkannya karena kami yakin kami bisa mengerti satu sama lain.Pagi harinya aku mendapat sms dari Rokhimah yang mengatakan ia sedang dalam perjalanan. Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan maka kubalas dengan jawaban prosedural saja, hati-hati di jalan, kataku. Siang harinya ia kembali mengirim kabar bahwa ia telah sampai di tujuan. Pada saat itu bahkan aku lupa membalas smsnya ! Bila kuingat kebodohanku saat itu, hatiku perih ditusuk penyesalan. Bahkan untuk sms terakhirnya pun aku tak membalasnya! Makhluk tak berguna macam apa aku ini !!!Rokhimahku yang suci, selamat jalan. Belajarlah dan jadilah manusia yang agung dan mulia. Sampai jumpa satu tahun lagi. Pada saat itu entah apa yang terjadi pada kita berdua, aku tidak tahu … aku benar-benar tidak tahu. Terima kasih atas cintamu padaku. Aku berharap aku bisa membalas cintamu dengan cara yang lebih pantas …Tamat

Posted in Uncategorized | Leave a comment